Produsen Ponsel Jajaki Investasi di Indonesia

Kamis, 06/03/2014

NERACA

Jakarta –Indonesia dikabarkan bakal kembali kedatangan perusahaan pembuat telepon Seluler (Ponsel) besar dari luar negeri. Investor baru yang meminta namanya dirahasiakan ini mengaku tengah menjajaki kemungkinan investasi tersebut.

"Ada investor yang diam-diam memproses (investasinya) tapi tidak mau dipublish. Ini merk besar. Saya tidak mau publish dulu karena mereka minta begitu. Kalau saya publish nanti saya dianggap saya tidak mendukung," ujar Menteri Perindustrian MS Hidayat, di Kantornya, Jakarta, kemarin.

Hidayat menjelaskan, calon investor baru ini telah meminta pemerintah tidak mengumumkan rencana investasinya sebelum kepastian dan proses investasi selesai secara keseluruhan. Untuk saat ini, Hidayat hanya berharap agar produsen Ponsel merek ternama ini bisa merealisasikan investasinya pada tahun ini sehingga bisa segera berproduksi. "Biarkan mereka mulai dulu, lokasi belum bisa disebut, yang jelas mereka sudah ada progres. Dia investor luar tapi gandeng partner disini. Bukan Foxconn, Foxconn lebih besar," katanya.

Hidayat menjelaskan, pemerintah selama ini memang mendorong investasi pada sektor Ponsel guna menekan angka impor yang terus meningkat. Sepanjang tahun lalu, Indonesia tercatat mengimpor Ponsel sebanyak 60 juta unit yang kebanyakan berasal dari China.

"Jadi kalau dia (investor) mau masuk kesini kita minta dia produksi disini, mereka bisa produksi berbagai jenis ponsel supaya bisa jadi substitusi impor, kalau bisa mengurangi impor 5-10 juta unit ponsel saja itu sudah bagus," tandasnya.

Meski mengundang investor asing, pemerintah menjamin upaya pengembangan Ponsel lokal masih akan tetap menjadi perhatian. Saat ini, dua produsen lokal seperti Axioo dan Polytron diketahui sudah mulai berproduksi.

Namun, ambisi memproduksi Ponsel lokal ini diakui masih memerlukan waktu untuk mengembangkan pemasarannya didalam negeri. Selain membutuhkan investasi besar, perusahaan juga harus melakukan branding agar membuat produknya terkenal di masyarakat. "Mereka tetap laku tapi skala ekonominya masih kecil, tetapi kita ingin dia tetap produksi. Jadi kita biarkan mereka kembangkan diri dulu," katanya.

Sebelumnya kemenperin mengharapkan komponen lokal sudah terdapat pada perangkat-perangkat seluler bermerek lokal Indonesia pada 2016. Menurut Kemenperin, hampir semua komponen ponsel itu bisa diproduksi di Indonesia. "Bahkan ada perusahaan yang sudah produksi panel layar sentuh di Tangerang. Produk itu sudah diekspor untuk perangkat modul tapi belum untuk ponsel," kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Triharso.

Triharso mengatakan produsen komponen lokal yang khusus memasok untuk perangkat teknologi informasi, terutama ponsel, belum ada karena ketiadaan permintaan. "Karena tidak ada produsen (yang meminta komponen lokal) di sini (Indonesia), mereka produksi itu (komponen) untuk dijual di luar (negeri)," kata Triharso.

Kemenperin, lanjut Triharso, menggandeng para produsen bermerek lokal dan pemasok komponen dalam negeri untuk berkolaborasi di industri telepon seluler. Triharso mengatakan sejumlah produsen ponsel bermerek lokal seperti Cross Mobile, Advan, dan Polytron berkomitmen untuk memproduksi perangkat dengan komponen lokal di Indonesia. "Potensinya (komponen lokal) besar. Ponsel impor legal yang masuk di Indonesia pada 2012 sebanyak 50 juta unit. Tahun ini diperkirakan mencapai 70 juta unit," kata Triharso.

Selain aspek perangkat keras, Kemenperin jugu akan meningkatkan produksi komponen piranti hinak (software) lokal seperti sistem operasi seluler berbasis sumber terbuka (open source). Sementara itu, sebagai negara berkembang Indonesia memang pesat di industri perangkat telekomunikasi.

Oleh karenanya pemerintah semakin ketat memberlakukan aturan main importir perangkat elektronik terutama produk-produk lokal. Salah Satunya yang sering diingatkan adalah untukmembangun pabrikasi perakitan untuk semua perangkat telekomunikasi.

Namun kini sudah ada niat baik para vendor untuk membangun basis produksinya di dalam negeri. Seperti Hon Hai Precision Industry, salah satu produsen elektronik terbesar dunia asal Taiwan, yang memiliki kontrak untuk membuat sekitar 60 - 70 % perakitan iPhone dan iPads untuk Apple Inc., mereka berencana akan menandatangani perjanjian dengan Indonesia bulan depan untuk membuat dan menjual handset di pasar domestik.