2018, Sambungan Listrik Jawa-Bali Beroperasi

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) menyatakan pembangunan Sambungan Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet) yang menghubungkan sistem kelistrikan antara Pulau Jawa dan Bali beroperasi pada 2018, dengan kapasitas 500 Kilo Volt (KV).

Direktur Utama PLN, Nur Pamudji mengatakan, proyek pembangunan Sutet 500 kV Bali Crossing bertujuan untuk memperkuat pasokan kelistrikan di Bali. "Nantinya digunakan untuk menyuplai listrik dari Jawa ke Bali," katanya di Jakarta, Rabu (5/3).

Nur menilai penguatan sistem kelistrikan di Bali memang perlu dilakukan. Pasalnya, pertumbuhan permintaan kelistrikan di Bali mencapai 8,5% setiap tahun. Bali Crossing direncanakan akan beroperasi pada 2018. Adapun Sutet 500 kV Bali Crossing ini akan dibangun sepanjang 131 km dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ke Watudodol dengan 308 tower. “Selain di daratan, nantinya Sutet tersebut akan dibangun di atas laut dari Watudodol ke Lampu merah sepanjang 2,68 km sebanyak dua tower.” Ujarnya.

Selian itu, Sutet 500 kV juga akan terbentang dari Lampu Merah ke New Kapal atau Antosari sepanjang 86 km sebanyak 200 tower dan transmisi 150 kV dari new kapal atau Antosari ke kapal sepanjang 20 km sebanyak 60 tower.

Sebelumnya Susilo Siswoutomo, Wakil Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa kelistrikan di Bali saat ini belum memenuhi kebutuhan. Pasokan dari pembangkit Bali saat ini hanya sebesar 562 megawatt (MW), sementara beban puncak pulau itu mencapai 640 MW. Dan untuk mencukupi kebutuhan tersebut, didatangkan listrik melalui kabel bawah laut dari Jawa maksimum 200 MW. “Namun, total kapasitas pasokan listrik sekitar 750 MW masih sangat terbatas untuk memenuhi beban puncak 640 MW,” ujarnya

Sedangkan secara umum, sambung Susilo pertumbuhan penduduk, Indonesia saat ini mencapai 1,1% dan juga diikuti oleh pertumbuhan kebutuhan energi sebesar 7,5%-8%. Oleh karennya perlu membangun pembangkit listrik dengan total kapasitas 5.000 Mega Watt (MW) per tahunnya. "Kami ini perlu membangun minimal setiap tahunnya 5.000 Mega Watt pembangkit kalau mau kebutuhan listrik kita terus terpenuhi," imbuhnya.

Demi memenuhi hal itu, Susilo mengungkapkan, telah memasukkan pembangunan pembangkit tersebut dalam rencana kerja PLN untuk jangka panjang hingga tahun 2022.

Seperti diketahui bahwa pemerintah Indonesia bersama lembaga pembiayaan infrastruktur Asean Infrastructure Fund (AIF) menyepakati pinjaman sebesar US$25 juta guna perluasan jaringan transmisi listrik 500 kilovolt (KV) dari Jawa ke Bali.

Dirjen Pengelolaan Utang Kementrian Keuangan Robert Pakpahan mengatakan proyek perluasan transmisi tersebut guna memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Bali. "Nantinya dalam transmisi listrik ini akan dibangun menara di dua titik antara Jawa dan Bali. Proyek ini sebenarnya sudah lama direncanakan lama dan kebutuhan listri di Bali sudah cukup mendesak, ," katanya.

Dia menjelaskan nilai pembangunan jaringan transmisi ini mencapai US$410 juta, dengan rincian pembiayaan berasal dari Asian Development Bank (ADB) sebesar US$ 224 juta, AIF US$25 juta dan pemerintah melalui PT PLN sebesar US$151 juta dolar.

Rencananya AIF mendanai proyek infrastruktur hingga US$300 juta setiap tahun, seperti proyek pengembangan jalan raya, jalur kereta api, jaringan listrik, saluran air, serta sarana dan prasarana penting lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Sebelum memberikan pinjaman, AIF terlebih dahulu melakukan seleksi terhadap proyek infrastruktur yang diajukan. Proyek yang didanai AIF harus memiliki dampak positif terhadap masyarakat terutama terkait pengurangan kemiskinan, serta imbal balik ekonomis yang layak. [agus]

Related posts