Mengelola Mall Itu Menyenangkan

Handaka Santosa, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI)

Sabtu, 08/03/2014

Transformasi zaman membuat pusat perbelanjaan kini tidak hanya sekedar berfungsi sebagai tempat membeli kebutuhan sehari-hari. Namun lebih dari itu. Pusat belanja atau mall telah berubah menjadi sarana untuk menggenapi gaya hidup manusia modern. Bagi pengunjung, mall adalah tempat yang asyik. Bagi pengusaha pusat belanja, mengelola mall adalah hal yang menyenangkan...

Inilah sepenggal kisah yang diceritakan seorang bos dari salah satu pusat belanja paling top di Jakarta. Kisah ini tersaji satu meja dengan sepiring gudeg dan segelas teh hangat di sebuah kantin nan sederhana di salah satu sudut kompleks para wakil rakyat berkantor. Sembari menyantap hidangan khas Yogyakarta itu, Handaka Santosa, yang sampai saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), bercerita banyak mengenai pengalamannya mengelola pusat belanja.

Selain mengkomandoi APPBI, Handaka adalah Chief Executive Officer (CEO) Senayan City, sebuah mall super mewah di jantung Ibukota. Menjadi pengelola pusat belanja, apalagi sekelas Senayan City, tentu tidak mudah. Sama sulitnya dengan membuatnya semakin berkembang. Apalagi di tengah persaingan bisnis pusat belanja yang kian sengit belakangan ini. Kendati bukan pekerjaan ringan, Handaka merasa mengelola mall adalah profesi yang sungguh menyenangkan. Dianggap menyenangkan karena jenis pekerjaan tersebut adalah seni memberi kenyamanan kepada pengunjung.

“Sebetulnya mengelola mall itu suatu usaha yang menyenangkan. Kita mengelola mall sebetulnya juga memberikan kenyamanan pada pengungjung. Anda tidak mau beli apa-apa, Anda bisa masuk ke mall. Kena biaya nggak? Nggak. Anda bisa gunakan toiletnya. Anda bisa cuci-cuci di situ. Koridor mall semuanya ber-AC,” ujar Handaka kepada Neraca, belum lama ini.

Bagi Handaka, fungsi mall saat ini sudah jauh melampau zamannya. Mall, kini memiliki fungsi sebagai tempat berkumpul, terutama untuk mereka yang tinggal di kota besar dengan segala permasalahan yang tiap saat melilit. Di tengah kemacetan yang senantiasa merundung Ibukota, mall kerap menjadi pilihan melepas penat. Dengan segala fasilitas gaya hidup yang aduhai, mall juga berfungsi sebagai sarana rekreasi, tempat bertemu keluarga, bahkan menjadi media para pelaku bisnis untuk bersosialisasi. “Jadi ada fungsi sosialnya juga,” imbuhnya.

Seiring pertumbuhan ekonomi nasional yang kinclong, Handaka memperkirakan, dalam lima tahun ke depan, bisnis pengelolaan mall masih akan cemerlang. Di Jakarta saja, faktanya, suplai ruang usaha mall lebih kecil ketimbang permintaan pasar. Artinya, jika ada orang bilang telah terjadi over suplly (kelebihan pasokan), hal itu, menurut dia, sama sekali tidak benar. Yang benar adalah, kebutuhan ruang usaha di mall akan tetap tinggi dan adanya pasokan baru niscaya bakal cepat ludes.

Di samping itu, Handaka melanjutkan ceritanya, persaingan bisnis mall kini terasa tambah ketat. Itu sebabnya, pengelola mall dituntut gencar melakukan inovasi. “Persaingan sangat ketat. Tapi karena inovasinya sudah semakin meningkat, makanya mereka saling berlomba-lomba untuk meningkat. Dan ingat! Mall yang saling berhadap-hadapan itu bukan saling bunuh, tapi saling bersinergi,” tandasnya.

Mengelola pusat belanja, sambung Handaka, mesti memperhatikan beberapa syarat. Yakni, lokasi, akses, dan tenancy mix (pengaturan produk penjualan). Lokasi yang bagus tanpa akses yang memadai membuat pusat belanja itu sulit berkembang. Sebaliknya, lokasi bagus berikut akses memadai juga tidak akan maksimal jika tanpa diimbangi dengan pengaturan kios produk yang sesuai dengan segmen pasar. Karena, kata Handaka, salah satu kunci sukses mengelola mall adalah kecerdasan meramu konsep antara lokasi, akses, segmentasi, dan produk yang diperdagangkan.

Nah, secara pribadi, Handaka memang tampak memiliki derajat kepercayaan diri yang tinggi dalam mengelola Senayan City. Pada salah satu periode hidupnya, lelaki yang dikenal ramah ini sempat lama meniti puncak karir di Sogo Grup. Handaka pernah bergabung di Harapan Grup, menangani Gajah Mada Plaza. Pria berkacamata asal Solo itu pun sempat mencatatkan namanya sebagai Vice President Director Agung Podomoro Land yang mundur dari jabatan itu pada akhir 2013 untuk fokus di Senayan City.

Barangkali, deretan karir, pengalaman dan keterampilan yang serba komplit yang dia dapat dari beberapa perusahaan bonafid tersebut turut mendorong kecakapan Handaka dalam mengelola Senayan City. Terlebih lagi, pengalamannya terhitung paripurna, lantaran mumpuni di bisnis ritel sekaligus handal di sektor properti. Itu sebabnya, tak heran, apabila Senayan City yang dulu pernah diragukan bisa sukses, kini perkembangannya melaju pesat, bahkan melebihi mall-mall besar di sebelahnya. “Bukan karena keberhasilan saya, tapi karena tim saya yang bagus,” kata Handaka dengan rendah hati.