Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima

Eka Agus Rachman, General Manager Marketing D'Cost

Sabtu, 08/03/2014

Persaingan ketat dalam bisnis restoran menutut pengusaha di sektor ini untuk terus menghadirkan terobosan baru yang lain dari yang lain. Hal itu pula yang dilakukan D’Cost, perusahaan restoran seafood berjaringan, yang tak pernah letih menghadirkan keunikan dan inovasi dalam mengembangkan bisnisnya.

Nama PT. Pendekar Bodoh barangkali terdengar sangat aneh untuk sebuah korporasi yang bergerak di bidang kuliner. Akan tetapi, keunikan D’Cost memang boleh jadi dimulai dari nama perusahaan yang menaunginya itu. Toh, faktanya, melalui bendera PT. Pendekar Bodoh, perkembangan usaha restoran D’Cost kini segurih masakan yang dihidangkan kepada para pengunjung.

Adalah General Manager Marketing D’Cost Eka Agus Rachman yang menceritakan perkembangan mutakhir dari geliat usaha restoran tersebut. Diceritakan Eka, sejak pertama kali berdiri tahun 2006, hingga 2014, hanya sekitar 8 tahun, D’cost sudah memiliki 63 gerai yang tersebar di 23 kota besar di Indonesia. Di Jabodetabek, jumlah outlet hampir mencapai 40 gerai, Bandung 3, Surabaya 4, Bali 2, dan sisanya di kota lain.

Jelas, pertumbuhan jumlah outlet sebanyak itu terhitung cepat untuk restoran lokal berjaringan sekelas D’Cost. Uniknya, dari segi jumlah, perusahaan tersebut menargetkan pertambahan gerai sesuai dengan dua angka buntut tahun. Misalnya di 2014 ini, D’Cost menargetkan mampu mendirikan minimal sebanyak 14 outlet. Ke depan, selain di 2015 nanti perseoran berencana merambah bisnis franchise (waralaba), pada 2016 mendatang, D’Cost bertekad untuk go international dengan membuka gerai di Manhattan, New York, Amerika Serikat.

Mantap menjelajahi bisnis kuliner seafood berjaringan, resto ini mengambil segmen konsumen umum. Mulai dari konsumen berdaya beli level bawah hingga kelas atas, dari umur anak-anak hingga dewasa, dan dari konsumen keluarga hingga rombongan para pejabat—yang terakhir ini dibuktikan dengan adanya D’Cost untuk kelas VIP. Namun di atas segalanya, D’Cost unik dari segi menu yang disajikan. Kecuali karena sudah bersertifikat halal, menu resto ini bak masakan rumahan, dengan harga kompetitif. Terlebih lagi, D’Cost punya motto sebagai restoran dengan mutu bintang lima, tapi harga kaki lima. “Dan itu bukan sekadar promo, bukan sekadar basa-basi, tapi memang sungguhan,” ujar Eka kepada Neraca di kantornya, dalam sebuah kesempatan.

Motto itu pula yang mengilhami D’cost menerapkan model bisnis dengan lebih memilih untuk mengejar volume penjualan ketimbang margin keuntungan pada setiap menu. Karena, menurut Eka, dengan perputaran volume penjualan yang kencang, meski margin tipis, perusahaan akan terus tumbuh dan untung. Alasan itu pula yang membuat D’Cost sengaja menghadirkan fasilitas di gerainya agar konsumen bisa makan dengan senyaman mungkin, bukan membuat mereka malah betah nongkrong, dengan misalnya, menyediakan jaringan internet nirkabel gratis sebagaimana dilakukan pebisnis kuliner lainnya.

Bukan itu saja, D’Cost juga kian kondang karena terhitung sukses menggelar promo-promo unik yang tak pernah dibikin orang lain di jagat kuliner. Agaknya terlampau sulit untuk dibantah bahwa resto ini memang punya promo-promo yang out of the box. Misalnya ada promo up to your price, diskon umur, diskon gerombolan, nasi gratis, teh gratis, dan program menikah kalau hamil baru bayar. Promo-promo model itu terbukti manjur dalam menarik pelanggan dan menjaga loyalitas mereka. Namun secara teknis, ketika ditanya mengenai hal yang membuat pelanggan mau balik lagi makan di D’cost, Eka mengatakan, ada tiga faktor utama, yakni harga, servis, dan rasa. “Tiga hal itu. Rasanya enak. Servis kami baik. Harganya cocok,” tegas Eka.

Sejauh ini, menurut Eka, D’Cost mengandalkan 100% bahan baku lokal untuk seluruh restonya. Bahkan di daerah, bahan baku seperti sayuran, ikan, bumbu didatangkan langsung dari ladang para petani dan pembudidaya sehingga tingkat kesegarannya terjamin. Keunikan lain dari D’Cost juga bisa dilihat dari sistem order menu. Selain cepat, paling lama 15 menit makan sudah dihidangkan, sistem order menggunakan iPod dan menggunakan menu board yang terintegrasi melalui sistem komputer mulai dari staf di depan sampai para koki yang ada di dapur. Efisiensi kerja macam ini tidak dimiliki oleh restoran sekelasnya.

Sementara agar pengunjung tidak bosan dengan sajian masakan, secara berkala D’Cost melakukan evaluasi terhadap menu. “Karena, orang mungkin bosan atau mungkin kurang laku menunya, kita ganti terus. Tapi menu utamanya tidak pernah diganti, karena itu favoritnya. Gurame, kepiting, ikan-ikan laut. Itu utama. Tinggal saosnya, ada saos ini, ada saos itu. Itu sih tidak pernah turun dari rangking utama. Dan itu favorit banget bagi mereka (pelanggan),” ujarnya.