Pasar Modal Syariah di Indonesia Belum Jadi Unggulan

Sabtu, 08/03/2014

NERACA

Minimnya jumlah pemodal yang berinvestasi menjadi salah satu kendala pasar modal syariah di Indonesia belum berkembang. "Kondisi yang dihadapi oleh pasar modal syariah Indonesia sampai saat ini adalah minimnya jumlah pemodal yang melakukan investasi, terutama apabila dibandingkan dengan jumlah pemodal pada sektor perbankan," ujar Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad.

Ia mengemukakan bahwa pasar modal syariah perlu dikembangkan dalam rangka mengakomodasi kebutuhan umat Islam di Indonesia yang ingin berinvestasi di produk-produk pasar modal yang sesuai dengan prinsip dasar syariah. "Dengan semakin beragamnya sarana dan produk investasi di Indonesia, diharapkan masyarakat akan memiliki alternatif berinvestasi yang dianggap sesuai dengan keinginannya," kata dia.

Namun demikian, Muliaman mengatakan bahwa kehadiran pasar modal syariah, bukan saja memberikan kesempatan bagi kalangan muslim. Investor non muslim juga dapat berperan dengan tersedianya alternatif investasi yang lebih beragam melalui instrumen investasi berbasis prinsip syariah seperti saham, obligasi, sukuk, reksadana syariah, dan lain sebagainya.

"Sejalan dengan misi otoritas pasar modal dalam mengembangkan pasar modal syariah, Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) tahun 2011 telah menerbitkan fatwa tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek," kata Muliaman.

Ia mengemukakan bahwa fatwa itu menegaskan bahwa penyelenggaraan perdagangan efek syariah di BEI telah memiliki dasar atau hukum fikih yang kuat, sedangkan mekanisme lelang berkelanjutan (continous auction) yang digunakan dalam transaksi efek bersifat ekuitas di pasar reguler telah sesuai dengan Prinsip Syariah.

Muliaman menceritakan bahwa beberapa waktu yang lalu The World Islamic Financial Forum London dan Perdana Menteri Inggris David Cameron telah mengumumkan bahwa industri keuangan Islam di negara itu telah berkembang, bahkan 50 persen lebih cepat dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan bahwa potensi berkembangnya pasar modal syariah di dalam negeri cukup besar seiring dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

"Inggris memiliki cita-cita untuk menjadi pusat keuangan berbasis syariah, lalu di Asia ada Singapura, Malaysia, dan Hongkong yang menyatakan hal sama. Saat ini, keuangan syariah bukan hanya milik negara Islam," ucapnya.

Melihat ondisi itu, Ito optimistis bahwa Indonesia dapat bersaing untuk menjadi pusat keuangan syariah di kawasan Asia.

"Kami yakin pasar modal berbasis syariah akan cepat berkembang seiring dengan edukasi yang terus dilakukan Bursa," kata dia