Prospektif: Industri Konstruksi dan Lahan Industri

Sabtu, 08/03/2014

NERACA

Pada tahun 2014 ada sejumlah hal penting yang perlu dicermati investor saham. Pertama, masalah prospek ekonomi global yang diperkirakan masih bertumbuh, namun cenderung melambat.

Pelambatan ini menyusul sikap pesimisme Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global di 2014 dari sebelumnya 3,8% menjadi 3,6%.

Namun, jika ekonomi global, terlebih AS semakin membaik, masalah yang berpotensi muncul adalah kekhawatiran besar pasar atas realisasi pengurangan kucuran stimulus moneter dari The Fed yang dianggap dapat menggurangi suplai dolar AS di pasar uang. Ini yang membuat dolar AS cenderung menguat terhadap sejumlah mata uang global lainnya sekaligus menekan kinerja harga komoditas dunia.

Lalu sektor apa yang mempunyai prospek bagu saat ini? Paling tidak, ada empat sektor industri yang potensial, yakni sektor properti danreal estate(konstruksi & properti lahan industri), industri dasar (pakan ternak dan semen), barang konsumsi (farmasi dan makanan minuman), serta perdagangan, jasa, dan investasi (ritel dan media iklan).

Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan, prospek industri konstruksi dan properti lahan industri juga cukup cerah. Hal ini ditopang oleh kelanjutan program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dalam jangka panjang serta aliran dana investasi langsung (direct investment), baik dari lokal maupun asing yang cenderung meningkat pascapemilu.

Ini akan mendorong kenaikan pada rata-rata harga jual lahan industri karena potensi naiknya permintaan. Prospek industri pakan ternak juga masih menggeliat, ditopang oleh peningkatan pendapatan masyarakat serta tingkat konsumsi per kapita atas ayam broiler yang masih relatif rendah dibanding negara-negara lain.

Industri semen juga masih punya prospek. Hal ini ditopang oleh kebutuhan pembangunan properti dan pembangunan infrastruktur, terlebih permintaan yang masih cukup besar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Prospek industri farmasi mendapat katalis dari potensi belanja kesehatan yang meningkat seiring diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang mencakup urusan kesehatan masyarakat melalui program jaminan pemeliharaan kesehatan.

Dengan gambaran tersebut di atas, investor diharapkan lebih cermat dalam menyiasati arah pergerakan pasar saham. Untuk itu, investor sebaiknya tetap fokus pada saham-saham dari industri prospektif untuk investasi jangka panjang serta tidak mudah terpengaruh oleh gejolak sentimen yang hanya bersifat jangka pendek.