Jasa Angkasa Incar Pendapatan Rp 1 Triliun

NERACA

Jakarta – Makin meningkat pesatnya traffic penerbangan pesawat di Indonesia, memberikan berkah bagi industri penerbangan dan termasuk bisnis terkait dengan penerbangan. Hal inilah yang dirasakan PT Jasa Angkasa Semesta Tbk (JASS) yang merupakan operator groundhandling, sejumlah bandara di Indonesia.

Melihat potensi pasar yang terus tumbuh, perseroan menargetkan pendapatan tumbuh sekira 10% pada tahun ini, menjadi Rp1 triliun dari pendapatan tahun 2013 sebesar Rp900 miliar,”Pertumbuhan ini seiring banyaknya rute penerbangan tambahan," kata Chief Executive Officer (CEO) Adji Gunawan di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, saat ini perseroan melayani groundhandling, passenger handling, dan kargo handling dihampir 35 airlines yang ada saat ini termasuk airlines domestik dan internasional. Sementara itu, Staff CEO JASS, Yoyok Priyowiwoho mengatakan, pendapatan ini dihitung dari groundhandling pesawat saja untuk sebelum dan sesudah lepas landas sekira US$ 1.500 untuk sekali penerbangan maskapai internasional dan Rp2 juta untuk maskapai domestic,”Kalau untuk pesawat jenis white body itu ada 30 flight sehari. Untuk aero body seluruh Indonesia ada 100 flight sehari," jelasnya.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 70 miliar. Angka ini naik sebesar Rp5 miliar dari tahun 2013 yang sebesar Rp65 miliar,”Untuk belanja modal kita penuhi sesuai permintaan airlines, ini konservatif melihat frekuensi penerbangan. Kita sesuaikan juga dengan flight itu sendiri, kalau enggak tumbuh bagaimana,”kata Yoyok.

Namun, dengan pertumbuhan ekonomi ini dan banyaknya aktivitas penerbangan membuat kekhawatiran JASS. Hal ini disebabkan, ada potensi maskapai tidak akan memakai jasa operator groundhandling.

Sebagai informasi, perseroan mengklaim tidak khwatir dengan persaingan bisnis yang digelutinya di bidang operator groundhandling, passenger handling, dan kargo handling di sejumlah bandara di Indonesia. Menurut Yoyok Priyowiwoho, dengan adanya persaingan tersebut, pihaknya tidak menyiapkan strategis khusus. "Kita cukup membuat pelayanan yang terbaik saja,”ungkapnya.

Dia menambahkan, tidak mudah bagi airlines berpindah-pindah provider untuk melayani jasa groundhandling. Dia mencontohkan, klien JASS seperti Singapore Airlines yang sudah memakai jasa JASS akan mudah mengerti dari pelayanan yang diberikan JASS,”Kalau dia pindah, pasti kan mereka maunya yang lebih dari pelayanan kami. Jadi tidak mudah untuk pindah-pindah. Biasanya bisnis ini untuk jangka panjang dan open contract, kalau sudah habis bisa diperpanjang," jelasnya.

Yoyok mengungkapkan, yang membedakan JASS dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sama yakni melayani keluhan atau aspirasi dalam satu pintu, “Ada yang berbeda, kalau untuk servicenya pasti mempunyai standar yang hampir sama. Cara kita bekerja berbeda, misalnya Airlines atau penumpang yang komplain, bisa langsung satu pintu, tanpa di puter ke sana, lapor ke sana kemari. Jadi membuat orang nyaman,”tandasnya. (bani)

Related posts