KFC Anggap Kompetitor Sebagai Penyulut Inovasi - Bisnis Kuliner Cepat Saji Kian Menggeliat

NERACA

Jakarta – Di tengah geliat bisnis kuliner, khususnya di sektor restoran cepat saji, PT. Fast Food Indonesia Tbk justru menilai, kompetitor bisnis yang semakin banyak dan berkembang belakangan ini merupakan partner yang akan terus menyulut adanya inovasi baru dalam pengembangan bisnis perusahaan yang kondang dengan produk KFC tersebut.

General Manager Business Development PT. Fast Food Indonesia Tbk (KFC) Gandhi Lie mengatakan, kompetitor bisnis bukanlah musuh, melainkan teman yang saling menguntungkan. Bahkan, kata dia, dengan semakin banyaknya kompetitor, maka korporasi bakal semakin tersulut berinovasi untuk mengembangkan usaha.

“Kalau orang bilang kompetisi itu merugikan. Nggak! Berkompetisi itu membuat kita bergairah, memberikan kita inovasi yang lebih baik lagi, yang ujung-ujungnya memberikan yang terbaik untuk yang kita punya. Sehingga kita bisa memberikan inovasi-inovasi baru,” kata Gandhi kepada Neraca, Selasa (4/3).

Menurut Gandhi, jika suatu bisnis tidak punya kompetitor, maka usaha itu bisa mati dengan sendirinya. “Kalau kita didiamkan terus (tanpa kompetitor), nanti kita akan mati sendiri, akan kelam, akan tidak ada. Tapi dengan adanya kompetisi seperti ini, terus terang, ini akan membuat kita bergairah,” imbuhnya.

Dengan total gerai sekitar 500-an outlet, KFC bisa disebut sebagai pemain paling utama dalam bisnis kuliner cepat saji. Namun demikian, lanjut Gandhi, perusahaan kuliner sebesar KFC tetap butuh inovasi dalam mempertahankan pelanggan dan memikat konsumen baru. Toh, adanya kompetitor dalam bisnis kuliner merupakan suatu keniscayaan yang tidak mungkin distop atau dibendung.

“Malah kita bergandengan tangan. Kompetitor-kompetitor kan kita kawan-kawan kita juga. Bagi kita gak ada masalah. Justru kita saling mengisi. Saling melihat. Saling memperbaiki. Supaya lebih baik. Jadi kompetitor bukan kita anggap sebagai barikade, tapi kita anggap sebagai simbiosis mutualisme,” ujar Gandhi.

Nah, ketika disinggung soal pengembangan bisnis KFC ke depan, Gandhi mengungkapkan, pihaknya berencana untuk terus menggelar ekspansi, termasuk ke daerah yang kini perkembangannya luar biasa. “Yang sudah pasti, KFC akan masuk kepada tempat-tempat tertentu, dalam arti secondary area, tempat-tempat yang lebih baik. Pokoknya akan menjemput bola dalam ukuran store-store yang lebih baik lagi dan kita masuk ke sana,” paparnya.

Peluang Bisnis

Salah satu hal yang unik dari strategi bisnis KFC adalah kejelian melihat peluang dari kemacetan yang lazim terjadi di kota besar seperti Jakarta. Kemacetan bagi pebisnis restoran, jelas Gandhi, bisa dianggap sebagai peluang pengembangan usaha karena kemacetan menandakan tempat tersebut mempunyai perkembangan ekonomi yang lebih baik.

“Jadi kalau ditanya kemacetan, itu merupakan suatu opportunity (peluang) yang baik untuk kita (pebisnis restoran) yang ada di sana. Tinggal kita mencocokkan sejauh mana bisnis kita bisa masuk ke sana,” terang Gandhi.

Lebih jauh lagi, Gandhi mengatakan, KFC berusaha menawarkan kepada para pengguna jalan untuk melepaskan penat dan stres. Kepada orang yang tengah dilanda macet, perseroan tersebut ingin mereka bisa rehat dan menikmati sajian menu lezat dengan tempat yang nyaman. “Kalau sudah macet, tanggung kalau berhenti, lebih baiklah kita beli di KFC, bisa santai di KFC. Daripada nunggu lama-lama, maka itu kita cari tempat yang mempunyai ambiance yang tepat sehingga tingkat stres lebih turun,” tandasnya.

Itu sebabnya, KFC terus berupaya menjawab kebutuhan konsumen dengan, misalnya, membangun gerai yang bersahabat dan nyaman, tempat makan outdoor, sistem pesan drive thru serta penyajian menu yang praktis. “Kita coba melihat dan memberikan apa yang customer butuhkan, customer needed. Dalam bentuk outdoor, kita kasih makanan yang enak, yang lezat. Jadi kesimpulannya daripada macet-macet, bisalah di KFC, dengan suara musik yang bagus, dengan ambiance yang bagus, dengan menu makanan yang sangat luar biasa,” beber Gandhi.

Jika kemacetan diibaratkan satu sisi mata uang, lanjut Gandhi, maka sisi yang lain dari mata uang itu adalah peluang. “Jadi kalau ditanya perkembangan kemacetan seperti ini, sekali lagi saya ulang, itu opportunity. Bahwa ada bisnis besar di sana. Saya melihat, sisi mata uang kan ada dua. Kalau mata uang Rp 100 di belakanganya tidak ada gambar, pasti palsu. Jadi ada dua buah sisi. Kalau di satu sisi macet, satu sisinya lagi adalah opportunity,” tuturnya.

Related posts