Indonesia Layak Jadi Tujuan Investasi - Oleh: Dini Kinanthi Putri

Dalam sejarah disebutkan bahwa Indonesia atau Nusantara merupakan wilayah yang subur dan makmur, banyak dikunjungi pedagang dari Asia, Timur Tengah dan Eropa. Bahkan banyak Negara Barat ingin menguasai Indonesia, diantaranya Protugis, Inggris, Jepang dan Belanda. Hingga saat ini, Indonesia masih manarik untuk tujuan investasi maupun pasar yang besar bagi perdagangan global.

Posisi strategis wilayah Indonesia dan jumlah penduduk yang besar sangat menggiurkan bagi investasi dan pasar global. Namun disayangkan bangsa Indonesia belum mampu secara maksimal mengelola kekayaan alam dan pasar dalam negeri sabagai kekuatan ekonomi nasional.

Bahkan ada upaya pihak asing yang ingin mengerdilkan Indonesia dari sisi ekonomi. Indikasinya negara yang biasa memberikan utang menyebut Indonesia masuk dalam kategori fragile five atau negara rentan kerapuhan ekonomi. Negara dianggap fragile five adalah Indonesia, Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan sebenarnya Indonesia tidak menjadi fragile five sebab utang Indonesia masih kategori aman.

Negara yang ngasih utang itu beri statment agar mereka mudah melakukan aksi pecundang terhadap Indonesia. Infasi 2013 masih di bawah doubel digit sekitar 8,38%. Sementara pertumbuhan ekonomi masih kisaran 5,7%. Termasuk keanekaragaman hayati Indonesia yang luas.

Atas dasar tersebut yang layak kategori fragile adalah Amerika Serikat bukan Indonesia. Ini miss management makro, oleh mereka yang menyebut Indonesia masuk negara fragile. Amerika lah yang terindikasi negara fragile. Sebab mereka saat ini masih mengalami gejolak ekonomi.

Begitu krisis tiba AS tinggal ambruknya nggak hidup lagi. Namun demikian, legitiminasi fragile menjadi bahan evaluasi menjadi lebih baik. Kepentingam Indonesia terhadap isu tersebut sebagai warning. Kita sebagai bangsa harus mampu menghadang segala rintangan pihak asing yang berupaya mengusai Indonesia melalui ekonomi.

Kemandirian ekonomi nasional perlu digalakkan dari segala lini. Nasionalisme harus dikobarkan dengan semangat kerja keras, pantang menyerah, ulet, jangan sampai tergantung negara lain, sehingga sebagai bangsa tidak mudah diatur negara lain.

Kita berharap seluruh komponen dan elemen bangsa ini satu visi dan misi untuk membangun Indonesia menuju sejahtera adil dan makmur. Kita harus membuka peluang investasi seluas-luasnya dan sebesar-besarnya.

Sehingga banyak modal masuk, membuka peluang tenaga kerja yang banyak dan ekonomi nasional semakin kuat. Selamat berjuang para pengusaha muda, tunjukkan bahwa Indonesia mampu menjadi negara besar dengan kuatan ekonomi yang mandiri, serta mampu bersaing secara internasional. (mimbar-opini.com)

BERITA TERKAIT

Jaga Wiyata Gelar Aksi Edukasi Jaga Bhumi - Peduli Lingkungan Sejak Dini

Memperkenalkan kekayaan alam Indonesia dan juga menjaga kelestariannya kepada siswa sejak dini, dirasakan penting agar anak cucu yang akan datang…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Ekspansi di 2018, Wuling Bakal Tambah Puluhan Diler di Indonesia

Wuling Motors Indonesia ingin menunjukkan komitmennya dalam berinvestasi di Indonesia dengan rencana membangun puluhan jaringan diler pada tahun ini. Brand…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Peran Pers dalam Mewujudkan Stabilitas di Tahun Politik

  Oleh : Stevanus Sulu, Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, Kupang Pers sebagai media komunikasi massa berfungsi untuk menyalurkan aspirasi rakyat…

Menolak Isu Pencopotan Kepala BIN

  Oleh: Dodik Prasetyo, Peneliti Senior LSISI   Belakangan ini, masyarakat Indonesia diramaikan oleh berita penganiayaan tokoh agama seperti yang…

Matinya Edisi Cetak ?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi - Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo Realitas industrialisasi media berdampak sistemik…