Tiga Langkah Jitu Tekan Impor BBM

NERACA

Jakarta - Indonesia masih mengimpor minyak mentah sekitar 350 barel per hari, ditambah dengan impor BBM sekitar 600.000 barel per hari oleh karennya pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan impor minyak, baik minyak mentah maupun BBM.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo memaparkan, Impor yang cukup besar tersebut diyakininya bisa berkurang dengan melakukan beberapa langkah. “Setidaknya ada 3 langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi impor minyak.,” kata Susilo, di Jakarta (4/3).

langkah pertama konversi BBM ke gas, kedua kami ingin PLN hentikan produksi listrik dari diesel, dan ketiga mendorong penggunaan biodiesel. Sedangkan biodiesel, pemerintah menargetkan peningkatan produksi biodiesel hingga pada 2020 mencapai 400.000 barel per hari dari total produksi saat ini sebesar 100.000 barel per hari. Susilo mengatakan, salah satu sumber biodiesel yang saat ini sedang dikembangkan adalah berasal dari olahan Kemiri Sunan.

Target produksi biodiesel dari Kemiri Sunan tersebut bisa dicapai apabila terjalin kerja sama antara pemerintah pusat dengan daerah, dalam hal ini adalah pemerintah kabupaten/kota di seluruh Indonesia. "Jika semua Bupati menyediakan lahan 1.000 hektare, gak perlu lahan yang bagus, ditanami Kemiri Sunan, maka akan bisa atasi masalah kesulitan BBM di daerah terpencil. Di daerah harga solar bukan Rp 5.500 tapi Rp 20.000. Untuk daerah seperti itu Kemiri Sunan solusi," jelas Susilo.

Susilo mengaku, saat ini sudah ada proyek percontohan penggunaan Kemiri Sunan di beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya adalah di Kabupaten Nias. Kementerian ESDM pun telah menginstruksikan kepada pelaku usaha tambang untuk menanam Kemiri Sunan di wilayah sekitar tambang.

Ketua Umum APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) sekaligus Bupati Kutai Timur Isran Noor menambahkan, proyek-proyek energi terbarukan termasuk penggunaan Kemiri Sunan akan difokuskan di beberapa daerah, antara lain Kutai Timur, Kalimantan Barat, dan Nias.

"Yang prioritas itu adalah renewable energi. Termasuk kemiri sunan, kita mau kembangkan dulu, di nias. Di Sukabumi sudah, tapi belum kita kembangkan secara luas, seluruh Indonesia akan ditanam itu. Siap tidak siap kita akan tukar dengan biofuel," kata Isran.

Dari sisi pendanaan, Isran mengatakan, pengembangan proyek Kemiri Sunan tidak membutuhkan dana yang besar. Proyek ini juga bisa melibatkan pelaku industri kecil. "Dananya murah, dan itu juga bisa dikembangkan melalui industri kecil, bisa dikembangkan dengan setengah miliar (Rp 500 juta) itu sudah dengan mesin, kita kerja sama dengan koperasi supaya kegiatan ekonomi berjalan," tutup Isran.

Sedangkan menurut Rahmad Gobel oleh Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) mengatakan , sudah saatnya pemerintah lebih serius mengembangkan energi terbarukan. Dengan begitu, akan ada nilai tambah bagi industri. Dia meminta kepada Pemerintah agar lebih serius untuk memetakan mana saja daerah yang memiliki potensi energy terbarukan di Tanah Air. “Energi terbarukan memberi nilai tambah. Perlu dipetakan bukan hanya sekedar menerangi,” ujarnya.

Jika Pemerintah serius mengembangan energy terbarukan, dirinya yakin negara dapat menekan impor minyak mentah. “Energi terbarukan dapat tekan impor minyak, dan tidak bergantung pada impor lagi,” pungkasnya. [agus]

Related posts