Kementan Anggarkan Rp102 Milliar untuk Sinabung

Rabu, 05/03/2014

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp 102 milliar untuk rehabilitasi sektor pertanian atas bencana letusan gunung di Sinabung, Sumatera Utara. AnggAran itu rencananya digunakan untuk pengadaan benih.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan kerugian sektor pertanian akibat dari letusan di Gunung Sinabung, Sumatera Utara yang Rp 1,5 triliun, Gunung Kelud, Jawa Timur mencapai Rp 377 miliar. Saat ini pemerintah sedang melakukan upaya rehabilitasi pertanian agar produksi pertanian kembali berjalan normal. Saat ini pemerintah menganggarkan sekitar Rp 102 milliar untuk rehabilitasi pertanian yang terkena dampak bencana letusan gunung. “Alokasi anggarannya belum ada angka pastinya, karena baik Sinabung maupun Kelud masih dalam proses identifikasi. Untuk saat ini baru Sinabung dan dari Kementan siapkan Rp 102 milliar” kata Suswono saat konferensi Pers di Jakarta, Selasa (4/3).

Adapun relokasi anggaran itu rencannya untuk pengadaan benih agar para petani bisa kembali berproduksi, sehingga produksi bisa berjalan normal kembali. “Saat ini permintaan baru benih, kalau untuk yang pupuk belum ada permintaan. Maka dari itu untuk sementara waktu kita baru alokasikan untuk pupuk,” imbuhnya.

Sedangkan untuk di Sinabung sendiri realisasi bantuan sudah berjalan, tapi memang masih bertahap. Sambil menunggu kondisi sudah aman baru semua alokasikan. “Semua menunggu identifikasi selesai, jadi post anggrannya jelas. Kalau sinabung dari Kementan sudah alokasikan Rp 2,7 milliar pas awal terjadi bencana,” paparnya.

Melihat kondisi saat ini, gunung Sinabung relatif aman, dan sudah banyak pengungsi yang kembali ke rumah mereka. Dan para petaninya sudah siap untuk terjun ke sawah lagi. "Gunung Sinabung, laporan terakhir sudah tidak erupsi dan sebagian masyarakat sudah kembali ke tempatnya ada 16 desa dari 32 desa," ujarnya.

Adapun total luas wilayah pertanian yang mengalami kerusakan akibat terkena abu vulkanik ini mencapai 50,9 ribu hektar. "Luas tanaman petani 50,9 hektar di 14 Kecamatan, yang terdiri dari 26,6 ribu hektar tanaman pangan, hortikultura 18,8 ribu hektar, dan perkebunan 5,6 ribu hektar. Sementara untuk tanaman puso seluas 12 ribu hektar, terdiri dari 2,2 ribu hektar tanaman pangan, 6,8 ribu tanaman hortikultura, 3,2 hektar perkebunan," terangnya.

Sedangkan akibat letusan gunung Kelud untuk luas lahan yang rusak di Kabupaten Malang dan Kediri meliputi beberapa jenis tanaman. Luasan lahan yang rusak di Kabupaten Malang, padi 1,3 ribu hektar, jagung 2 ribu hektar, sayuran 688 hektar. Di Kediri padi 3.8 ribu hektar, cabai rawit 1.6 ribu hektar, cabai besar 1 ribu hektar, tomat 318 hektar, Nanas 700 hektar tebu 1.8 hektar. “"Kerugian diperkirakan akibat erupsi Gunung Kelud memang tidak separah di Sinabung dengan rincian padi 871 hektar, jagung 790 hektar, cabai merah 538 hektar, cabai rawit 1.220 hektar, tomat 155 hektar, bawang merah 47 hektar, nanas 1.200 hektar," jelasnya.

Namun demikian, Suswono menyebutkan untuk pasokan kebutuhan pangan diprediksi aman, terutama untuk makanan utama seperti beras. “Untuk pasokan aman, seperti beras saat ini cadang di bulog untuk kebutuhan nasional cukup. Seandainya ada lonjakan harga bulog langsung mengeluarkan ke pasar,” ujarnya.

Intinya adanya bencana banjir, dan gunung meletus belum berdampak pada stok pangan nasional, jika ada yang dikhawatirkan adalah pada saat musim kemarau, karena biasanya banyak serangan hama itu yang nantinya akan mengganggu produksi. “Maka dari itu kami sedang melakukan langkah antisipasi sambut musim kemaru April nanti,” tukasnya. [agus]