Jika Tak Mau Stock Split, Sebaiknya Didelisting

NERACA

Jakarta – Sejatinya, industri pasar modal bisa merambah masyarakat kecil untuk berinvestasi saham dengan harapan bisa meningkatkan likuiditas pasar. Namun faktanya di lapangan, minimnya investor lokal berinvestasi saham tidak hanya di pengaruhi masalah edukasi dan sosialisasi yang belum merata, tetapi juga akses berinvestasi saham dinilai mahal karena ada beberapa saham emiten yang harganya sudah kemahalan dan enggan melakukan stock split saham.

Pengamat pasar modal, PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, kalau bicara masalah stock split merupakan wewenang dari pihak manajemen masing-masing emiten. Namun, untuk saham dengan kepemilikan publik yang sedikit, dan tercatat sudah sangat mahal, seperti HM Sampoerna maupun Multi Bintang maka harus ada tindakan tegas dari pihak otoritas. “Untuk stock split menjadi wewenang emiten. Tapi kalau saham publik sangat sedikit, kenapa tidak didelisting saja,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Senin (3/3).

Menurut dia, sebagai perusahaan publik, seharusnya mayoritas porsi ke publik tentunya harus lebih besar. Dengan kepemilikan saham publik yang terlampau kecil maka substansinya ke publik tentunya sangat kecil. Tercatat, jumlah saham HM Sampoerna yang dipegang publik saat ini sangat sedikit,yaitu hanya sekitar 2,5%. Saham HMSP ini terbilang sangat tinggi, pada 2013 harganya berada kisaran Rp61 ribu, dan sempat mencapai Rp85 ribu per lembar saham. Sementara pada 28 Februari 2014, tercatat berada di kisaran Rp68.600.

Dengan kepemilikan saham publik yang sedikit, menurut dia, tidak mementingkan likuiditas pasar. Salah satunya, karena manajemen perseroan menilai keuangan atau cashflow perseroan masih cukup baik sehingga tidak membutuhkan opsi pendanaan lainnya. Namun, bagi calon pemegang saham baru tentunya akan berpikir dua kali untuk masuk ke saham tersebut. “Bagi calon pemegang saham baru tentunya mempertimbangkan likuiditas, sehingga akan pertimbangkan kembali menjadi pemegang saham.” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menyambut positif atas kebijakan pihak otoritas bursa yang memberlakukan jumlah saham yang beredar ke publik. Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Robinson Simbolon pernah bilang, selama ini otoritas hanya bisa menghimbau kepada emiten yang harga sahamnya tinggi untuk melakukan stock split.

Kali ini, OJK akan mewajibkan emiten tersebut memecah nilai saham, apabila sudah melewati indikator tertentu,”Hal ini bertujuan agar harga saham tersebut terjangkau, ramai diperdagangkan dan bertambah likuid. "Dengan stock split, akan membuat pergerakan saham di BEI lebih aktif dan likuid,”ujarnya.

Dalam catatan OJK, ada sejumlah emiten yang harga sahamnya tinggi bahkan di atas Rp 100.000 per saham. Misal, PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), PT Delta Djakarta Tbk (DLTA), PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk (SQBI), dan PT Merch Sharp Dohme Pharma Tbk (MERK). Pada penutupan perdagangan Jumat (1/3), harga saham MLBI ada di level Rp 900.000, DLTA senilai Rp 285.000, SQBI Rp 234.000, dan harga saham MERK di Rp 152.000 per saham.

Merespon seruan OJK untuk stock split, sejauh ini baru beberapa emiten yang sudah mendeklarasikan rencana stock split-nya. Diantaranya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Rasio pemecahan nilai nominalnya adalah 1:5. Artinya, setiap satu saham JPFA saat ini akan dipecah menjadi lima saham.

Selain JPFA, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) sebenarnya juga memiliki niat serupa dengan rasio 1:5. Namun, rencana ini masih dalam kajian. Mereka akan merealisasikan rencana ini bila harga saham emiten semen pekat merah tersebut sudah mencapai Rp 20.000 per saham. Akhir pekan lalu, harga sahamnya sudah bertengger di posisi Rp 18.150 per saham.

Analis Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo menyakini, saham JPFA dan SMGR akan semakin diminati investor pasca stock split. Sebab, kedua emiten tersebut punya prospek pertumbuhan kinerja yang tinggi, sehingga investor ritel bakal kian tertarik.

Selain itu, lanjut Lucky, masih ada beberapa emiten yang prospek kinerjanya apik tetapi harga sahamnya terlampau tinggi. Dia mencontohkan, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Saham TLKM kini diperdagangkan di posisi Rp 10.850, ITMG Rp 40.250 dan PTBA di Rp 14.900 per saham. lia/bani

BERITA TERKAIT

3 Kawasan Ekonomi Khusus Tak Jelas Operasinya

NERACA Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan terdapat tiga kawasan ekonomi khusus (KEK) yang telah diusulkan sebagai…

LBH-GTI: Balon Kepala Daerah Berijazah Palsu Sebaiknya Mundur

LBH-GTI: Balon Kepala Daerah Berijazah Palsu Sebaiknya Mundur NERACA Jakarta - Ketua Lembaga Bantuan Hukum Garda Tipikor Indonesia (LBH-GTI), Prof.…

Kredit 2018, Perbankan Tak Mampu Agresif

      NERACA   Jakarta - Perbankan diperkirakan tidak akan mampu agresif dalam menyalurkan kredit pada semester I 2018…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

EKSPOR MOBIL RI KE VIETNAM MULAI TERANCAM - Luhut: Dubes Harus Mampu Berikir “Out of The Box”

Jakarta-Menko bidang Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan menilai, Indonesia harus menjalankan politik luar negeri yang lebih ofensif, dengan tetap mengedepankan kepentingan…

Kebijakan Impor Beras Butuh Sinkronisasi Data

NERACA Jakarta – Pemerintah perlu benar-benar melakukan sinkronisasi data terkait dengan kebijakan yang membuka masuknya beras impor agar jangan sampai…

KONSEKUENSI DERASNYA ARUS DIGITALISASI - 2018, Perusahaan Konvensional Terus Tergerus

Jakarta-Meski ekonomi dunia termasuk Indonesia ‎diperkirakan akan membaik pada 2018, arus digitalisasi terus merambah sehingga perusahaan ritel maupun transportasi konvensional…