BI Dorong Investasi Migas - Tekan Defisit Nerca Perdagangan

NERACA

Jakarta – Guna menekan neraca perdagangan nasional Bank Indonesia (BI) mendorong pemerintah agar mampu menggenjot produksi dan investasi Minyak dan Gas (Migas).

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan desakan tersebut agar neraca perdagangan Indonesia pada Migas tidak defisit terus. "Domain kebijakan fiskal, tapi bagian yang selalu menjadi topoik pembahasan. Untuk meningkatkan produksi lifting minyak yang turun perlu investasi dan peningkatan produksi dan makan waktu," kata Perry di Jakarta Senin (3/3).

Menurut Perry, dua ketentuan tersebut memang tidak bisa menjadi rujukan jangka pendek. Sebab hal tersebut untuk jangka menangah panjang. Namun tanpa memulainya dari sekarang mustahil defisit migas dapat terkendali. "Investasi dan produksi di tingkatkan untuk medium term," paparnya.

Selanjutnya Perry menuturkan perlunya pemerintah menahan laju konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Ia juga menilai dengan mandatory biodisel dapat menekan kuota BBM. "Pemerintah perlu menegendalikan konsumsi BBM dan biodiesel anjuran pemerintah berdampak mengurangi konsumsi BBM," katanya.

Berdasarkan data dari Kementrain Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Investasi hulu minyak dan gas bumi tahun 2014 ditargetkan sebesar US$ 25,64 miliar. Rinciannya, untuk kegiatan eksplorasi sebesar US$ 3,84 miliar, administrasi US$ 1,6 miliar, pengembangan US$ 5,3 miliar, dan produksi sebanyak US$ 14,9 miliar.

Rencana kegiatan yang akan dilakukan antara lain, survei seismik dua dimensi (2D) sepanjang 9.020 kilometer (km), seismik tiga dimensi (3D) seluas 11.633 km persegi, pengeboran sumur eksplorasi sebanyak 205, pengembangan 1.364 sumur, dan kerja ulang (work over) sebanyak 932 sumur, serta perawatan sumur (well services) sebanyak 33.060.

Jumlah ini sesuai pembahasan rencana kerja dan anggaran (work program and budget/WP&B) antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama dengan kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS). “Naik 32 persen jika dibandingkan realisasi investasi tahun 2013 yang sebesar US$ 19,342 miliar,” kata Pelaksana Tugas Kepala SKK Migas, J. Widjonarko

Dari realisasi investasi tahun 2013, untuk kegiatan eksplorasi sebesar US$ 1,877 miliar, administrasi US$ 1,199 miliar, pengembangan US$ 4,306 miliar, dan produksi sebanyak US$ 11,96 miliar. Investasi di sektor hulu migas menunjukkan tren meningkat beberapa tahun terakhir. Pada 2010, investasi tercatat US$ 11,031 miliar, 2011 naik menjadi US$ 13,986 miliar, dan meningkat lagi US$ 16,543 miliar pada 2012. “SKK Migas mendorong peningkatan investasi, khususnya pada kegiatan eksplorasi untuk penemuan cadangan baru,” kata Widjonarko.

Tantangan

Dalam APBN 2014 ditargetkan lifting minyak sebesar 870.000 barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 7.175 juta british thermal unit per hari (bBtud). Jumlah ini setara 2.110.000 barel ekuivalen minyak per hari. Target penerimaan Negara dari penjualan migas tersebut sebanyak US$ 30,6 miliar.

Target produksi migas dari pemerintah ini lebih tinggi ketimbang hasil pembahasan WP&B 2014 yang memperkirakan lifting minyak sebesar 804.000 barel per hari dan gas bumi sebesar 6.853 bBtud. “Gap target produksi ini menjadi tantangan industri migas pada tahun 2014,” kata Widjonarko.

SKK Migas menyiapkan beberapa langkah untuk menyiasati tantangan yang dihadapi. Yang pertama, mengatasi masalah gangguan operasi. Upaya yang dilakukan dengan mengurangi kegagalan operasi produksi dan pengeboran untuk mendapat tambahan produksi dan fasilitasi penyelesaian masalah proyek. Kedua, mengurangi penghentian produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown). Langkah yang dilakukan antara lain, evaluasi detail atas rencana pemeliharaan fasilitas produksi dan meningkatkan pengawasan fasilitas produksi.

Kemudian, mengatasi decline rate yang tajam dengan memastikan jadwal pengeboran sumur pengembangan tepat waktu dan optimalisasi proses pengembangan. Keempat, mengatasi kendala pembebasan lahan dan perijinan. Caranya, SKK Migas akan terlibat langsung dalam proses pembebasan lahan, jadwal pembebasan lahan diupayakan tepat waktu, serta mengupayakan dan mendorong terus penyelesaian Service Level Agreement (SLA) terkait perijinan. Terakhir, mengatasi kendala pengadaan dengan pemutakhiran proses bisnis dalam proses pengadaan dan meningkatkan akuntabilitas dan tata kelola yang baik. “Jika langkah-langkah tersebut berjalan baik, ditambah upaya kontraktor mengoptimalkan produksi minyak di sejumlah lapangan, mudah-mudahan produksi minyak berada dikisaran 830-840 ribu barel per hari,” tutupnya. [agus]

Related posts