Januari, Neraca Perdagangan Alami Defisit

Selasa, 04/03/2014

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia melansir bahwa neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Januari 2014 tercatat defisit sebesar US$0,43 miliar. Kinerja neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang menurun dan defisit neraca perdagangan migas yang meningkat. Surplus neraca perdagangan nonmigas menurun dari US$2,32 miliar pada Desember 2013 menjadi US$0,63 miliar, yang dipengaruhi ekspor nonmigas yang terkontraksi 11,60% (month to month/mtm) dan impor nonmigas yang meningkat 1,13% (mtm).

Tirta Segara, Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia mengungkapkan, defisit neraca perdagangan migas Januari 2014 yang meningkat dari US$0,81 miliar pada Desember 2013 menjadi US$1,06 miliar. Hal ini disebabkan ekspor migas yang turun tajam 26,69% (mtm), antara lain akibat gangguan produksi terkait cuaca buruk, meskipun impor migas juga turun 15,81% (mtm) akibat penurunan impor hasil minyak sebesar 14,90% (mtm) dan minyak mentah 16,13% (mtm).

Berdasarkan komoditas, defisit neraca perdagangan Januari 2014 terutama dipengaruhi kontraksi pertumbuhan ekspor komoditas nonmigas utama yang berbasis sumberdaya alam (SDA), sedangkan ekspor manufaktur masih dalam tren meningkat. Menurut dia, Ekspor batu bara dan minyak nabati (pangsa 26,7% dari total ekspor nonmigas) mengalami penurunan antara lain sesuai pola musiman dipengaruhi masih berlangsungnya proses negosiasi kontrak baru di tiap awal tahun.

“Ekspor bijih, kerak, dan abu logam (pangsa 2,43% dari total ekspor nonmigas), seperti tembaga dan nikel, juga menurun sebagai dampak implementasi UU Minerba,” ujar Tirta di Jakarta, Senin (3/3). Sementara itu, ekspor produk manufaktur sebagian tetap menunjukkan kinerja positif, seperti mesin/pesawat mekanik, produk kimia, pakaian jadi, dan barang-barang rajutan (pangsa 13,8% dari total ekspor nonmigas) yang masing-masing meningkat 31,92% (mtm), 1,43% (mtm), 3,41% (mtm), dan 0,38% (mtm).

Dia juga menilai defisit neraca perdagangan Januari 2014 masih sesuai pola musiman sehingga ke depan diperkirakan kembali membaik. Sesuai polanya, ekspor bulan Januari selalu tercatat lebih rendah dibandingkan dengan ekspor bulan Desember akibat berakhirnya puncak permintaan ekspor bahan bakar untuk musim dingin dan masih berlangsungnya proses negosiasi kontrak baru ekspor di tiap awal tahun.

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan neraca perdagangan kembali mencatat surplus. Prospek surplus neraca perdagangan didorong oleh faktor perkiraan membaiknya permintaan negara maju dan kembali meningkatnya ekspor produk tambang mineral pasca-tercapainya kesepakatan penerapan UU Minerba, serta tetap terkendalinya impor. Dengan perkiraan ini, Bank Indonesia masih berkeyakinan defisit transaksi berjalan keseluruhan 2014 dapat ditekan di bawah 3% dari PDB. [ardi]