Ukraina dan Geoekonomi

Selasa, 04/03/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

Dirut Bond Research Institute (BondRI)

Ukraina memang bukan negara adidaya, namun dalam perjalanan sejarah geopolitik sepanjang abad 20, nama Ukraina selalu muncul semasa era perang dunia I dan II. Walau tempat kejadian perkara relatif jauh dari nusantara, ada baiknya tidak bersikap do nothing terhadap insiden di kawasan ini. Terlepas dari aspek sejarah yang selalu melibatkan Ukraina dalam konflik geopolitik, pertanyaan yang relevan adalah : “Apabila krisis Ukraina semakin pelik, langkah apa yang perlu dipersiapkan untuk menjaga kondisi stabilitas serta pertumbuhan ekonomi domestik?” Hal ini perlu disikapi dengan pertimbangan bahwa negara Indonesia sangat rentan terhadap dinamika perubahan dua variabel utama makroekonomi, yaitu pergerakan harga minyak dunia dan volatilitas kurs.

Untuk variabel pertama, jika krisis semakin pelik maka harga minyak dunia akan mengalami rally, itu pasti. Jika risiko harga minyak dunia meningkat, maka tekanan laju inflasi domestik dalam jangka pendek bakal sulit ditahan. Jika laju inflasi tertekan naik, maka ekspektasi imbal hasil berinvestasi para investor di pasar modal domestik akan mengalami kenaikan, singkat kata yield akan terkerek naik dan rally harga obligasi pun akan segera terjadi. Dalam ranah surat berharga, jika yield obligasi mengalami kenaikan maka risiko sovereign juga akan naik. Dalam perspektif geoekonomi, jika telah melibatkan volatilias komoditi minyak dunia, maka krisis kawasan kemungkinan besar merambat ke kawasan lainnya, tak terkecuali Asia.

Dalam laporan harian Domestic Economic Scorecard BondRI terkini, kondisi harga minyak dunia yang telah terkerek selama 2(dua) minggu terakhir akan berpotensi besar mempengaruhi figur ragam variabel lainnya. Sebenarnya dampak krisis Ukraina belum sepenuhnya priced-in ke dalam ragam figur tersebut. Namun jika krisis terus berlangsung, harga minyak dunia ini pasti naik. Dalam RAPBN 2014 disebutkan bahwa harga minyak dunia ditetapkan pada level US$105 per barel. Pra krisis, valuasi BondRI terhadap harga minyak dunia ada di support-resistance 103.60-104.75 untuk rilis Februari 2014. Jika kondisi geopolitik di Ukraina semakin pelik, maka figur rentang harga minyak ini akan segera berubah di bulan Maret, yang berpotensi menembus batas level yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam di RAPBN.

Pra krisis Ukraina, Domestic Economic Score sebenarnya sudah mulai menurun dibanding figur periode pengukuran kinerja sebelumnya. Kontributor penurunan bersumber dari score makroekonomi, fiskal, financial industries dan capital market. Dari perspektif makroekonomi, kondisi Rupiah sebenarnya sedang membaik. Namun oleh karena kenaikan harga minyak, score makro terkerek turun dari periode pengukuran sebelumnya. Dari perspektif fiskal, penurunan score bersumber dari kenaikan yang terjadi pada figur indikator total utang luar negeri dan surat berharga pemerintah.

Penurunan score fiskal ini sungguh disayangkan mengingat neraca transaksi perdagangan justru dalam kondisi yang membaik. Dari perspektif industri finansial dan pasar modal, penyumbang penurunan skor adalah figur IHSG dan BondRI Capital Market Score yang turun berbarengan sesi Senin sore. Hal ini sungguh disayangkan, menilai kondisi indeks harga obligasi IHOG-FRID justru sedang berpotensi naik dengan tren turunnya figur yield obligasi pemerintah secara merata pada hampir semua rentang tenor.

Jika sikon geopolitik di Ukraina semakin pelik, maka tren penurunan yield ini akan berpotensi mengalami pembalikan arah tentunya. Kembali kepada pertanyaan relevan : “Dalam kondisi harga minyak dunia yang berpotensi rally sepanjang krisis Ukraina belum settle, masihkah kebijakan bank sentral akan suku bunga acuan memiliki ruang untuk diturunkan?” Mari berharap krisis Ukraina tidak menjadi krisis geoekonomi.