Tekanan Terhadap Indeks BEI Masih Berlanjut

Selasa, 04/03/2014

NERACA

Jakarta –Mengawali pekan ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tutup melemah 36,011 poin (0,78%) ke level 4.584,205. Sementara Indeks LQ45 ditutup terkoreksi 6,918 poin (0,89%) ke level 769,773. Aksi jual investor menjadi pemicunya, meskipun Badan Pusat Statistik (BPS) merilis terjadi inflasi pada Februari 2014 hingga 0,26%. Sementara inflasi tahunan atau year on year di Februari 2014 sebesar 7,75%.

Sesuai prediksi pasar, neraca perdagangan pada Januari 2014 mengalami defisit hingga US$ 430,6 juta. Defisit terjadi akibat larangan ekspor hasil tambang mentah. Menurut analis Trust Securities, Yusuf Nugraha, perlambatan ekonomi global memberi kekhawatiran pasar saham menyusul data pertumbuhan manufaktur China yang menurun sehingga menekan bursa saham regional, termasuk IHSG BEI.

Dari dalam negeri, Yusuf menambahkan neraca perdagangan periode Januari 2014 kembali defisit dipicu tingginya impor migas. Ekspor mengalami penurunan salah satunya dipicu dari diberlakukannya aturan larangan ekspor bahan baku mineral yang berlaku 12 Januari 2014.

Kendati demikian, Yusuf mengatakan bahwa laju inflasi pada Februari 2014 yang tercatat sebesar 0,26% masih dinilai stabil,”Inflasi memang sedikit meningkat namun masih sesuai ekspektasi pasar, kondisi itu menjadi salah satu faktor positif bagi indeks BEI sehingga tidak tertekan lebih dalam," ucapnya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa masih diperkirakan akan bergerak terkoreksi seiring belum redanya aksi jual investor. Pada perdagangan Senin awal pekan kemarin, aksi jual terjadi karena gejolak di Eropa. Investor asing dan domestik melepas saham dan mencari instrumen investasi yang lebih aman, salah satunya emas.

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 305,94 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 180.341 kali pada volume 3,653 miliar lembar saham senilai Rp 7,130 triliun. Sebanyak 91 saham naik, 195 saham turun, dan 79 saham stagnan.

Volume dan nilai transaksi sedikit naik setelah ada aksi tuutp sendiri saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) senilai Rp 719,6 miliar di pasar negosiasi. Transaksi ini difasilitasi broker Maybank Kim Eng Securities. Hubungan Ukraina dan Rusia makin panas setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan pasukan ke negara pecahan Uni Soviet tersebut. Sentimen ini membuat bursa-bursa regional kena tekanan jual.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Goodyear (GDYR) naik Rp 1.075 ke Rp 19.575, Eatertaniment (SMMT) naik Rp 175 ke Rp 6.025, BFI Finance (BFIN) naik Rp 100 ke Rp 2.280, dan Fortune (FORU) naik Rp 60 ke Rp 325. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari (LPPF) turun Rp 900 ke Rp 13.100, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 25.400, Indocement (INTP) turun Rp 450 ke Rp 22.000, dan Bank Ekonomi (BAEK) turun Rp 450 ke Rp 1.950.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup terkoreksi 46,733 poin (1,01%) ke level 4.573,483. Sementara Indeks LQ45 jatuh 9,902 poin (1,27%) ke level 766,789. Aksi jual terjadi karena gejolak di Eropa. Tekanan jual membuat indeks sulit bergerak ke atas. Indeks sama sekali tak menyentuh zona hijau dan jatuh sampai ke titik terendahnya di 4.573,358.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 103.356 kali pada volume 2 miliar lembar saham senilai Rp 4,674 triliun. Sebanyak 82 saham naik, 178 saham turun, dan 60 saham stagnan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya BFI Finance (BFIN) naik Rp 100 ke Rp 2.280, Astra Agro (AALI) naik Rp 100 ke Rp 25.600, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 50 ke Rp 11.225, dan Erajaya (ERAA) naik Rp 45 ke Rp 1.485.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Matahari (LPPF) turun Rp 850 ke Rp 13.150, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 46.900, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 25.350, dan Indocement (INTP) turun Rp 475 ke Rp 21.975.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 43,09 poin atau 0,93% menjadi 4.577,12. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 9,96 poin (1,28%) ke level 766,72,”IHSG melemah seiring dengan bursa saham di kawasan Asia yang menyusul kekhawatiran investor terhadap meningkatnya tensi politik dan militer antara Ukraina dan Rusia sehingga memicu aksi penyelematan aset di pasar saham," kata analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Dia menambahkan, penguatan bursa saham AS pada akhir pekan lalu juga belum mampu mengkompensasi sentimen negatif dari memanasnya tensi Ukraina dan Rusia itu. Namun demikian, Yualdo Yudoprawiro mengatakan bahwa pasar saham domestik mengantisipasi rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang diharapkan mampu menahan sentimen negatif eksternal.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menambahkan bahwa jika rilis data-data makro ekonomi domestik sesuai dengan estimasi pasar maka peluang kenaikan dapat terjadi. Bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 121,01 poin (0,53%) ke level 22.715,96, indeks Nikkei turun 300,08 poin (2,02%) ke level 14.540,56 dan Straits Times melemah 28,65 poin (0,92%) ke posisi 3.082,23. (bani)