Nilai Tukar Petani Februari 2014 Turun 0,16%

DAMPAK KENAIKAN Biaya PRODUKSI

Selasa, 04/03/2014

NERACA

Jakarta – Sesuai data yang dilangsir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) nasional per-Februari 2014 sebesar 101,79 atau turun 0,16% dibanding NTP bulan sebelumnya ditahun yang sama. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 0,22 persen lebih rendah dari Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang naik sebesar 0,38 persen.

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono mengatakan NTP memasuki bulan Februari 2014 ini menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya ditahun yang sama. Ini diakibatkan karena biaya produksi para petani lebih tinggi dibandingkan hasil yang diterima dari hasil pertaniannya. “Secara umum memang untuk NTP menurun karena memang cost petani lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang mereka perolah dari hasil pertaniannya,” kata Adi saat memberikan laporan Perkembangan Nilai Tukar Petani, di Jakarta, Senin (3/3).

Cost yang tinggi, sambung Adi karena memang seperti pupuk, benih yang langka mengakibatkan harga yang tinggi. Selain itu juga adanya bencana yang mengakibatkan distribusi terhambat sehingga barang-barang kebutuhan petani menjadi langka dan tentu saja harganya menjadi melambung tinggi. “Semua barang-barang kebutuhan pertanian langka dan mahal sehingga menjadikan NTP menurun,” imbuhnya.

Selain NTP yang turun, Nilai Tukar Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga ikut menurun pada februari ini mencapai 0,06% dibandingkan dengan NTUP bulan Sebelumnya ditahun yang sama. “Otomatis jika NTP turun maka NTUP nya ikut turun,” ujarnya.

Imbasnya, menurut Adi pada Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT). Secara nasional, pada Februari 2014 terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,45 persen yang utamanya disebabkan oleh naiknya indeks Kelompok Bahan Makanan serta Kelompok Perumahan. “Dari 33 provinsi yang dihitung IKRT-nya pada Februari 2014, 26 provinsi mengalami inflasi perdesaan, 6 provinsi mengalami deflasi perdesaan, dan 1 provinsi relatif stabil. Inflasi perdesaan tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Barat, yaitu sebesar 0,81%, deflasi perdesaan tertinggi terjadi di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 0,32%,” ungkapnya.

Kendati demikian, dia memproyeksikan untuk bulan-bulan kedepan NTP maupun NTUP akan trendnya akan meningkat, karena kebutuhan pertanian secara distribusi sudah mulai lancer sehingga harga bisa ditekan. “Bulan ini kan karena banyak bencana alam, sehingga menghambat jalur distribusinya wajar saja harga kebutuhuhan pertanian meningkat, tapi bulan berikutnya akan kembali normal, dan NTP maupun NTPU bakalan lebih baik dari bulan sekarang,” jelasnya.

Produksi Meningkat

Kendati NTP maupun NTPU menurun yang mengakibatkan inflasi di pedesan, namun demikian BPS melaporkan produksi padi pada 2013 naik mencapai 2,24 juta ton, produksi padi 2013 mencapai 71,29 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau 3,24%. "Ini merupakan angka sementara dengan kenaikan produksi terjadi di Jawa sebesar 0,97 juta ton dan di luar Jawa sebesar 1,27 juta ton," ujar dia.

Adi mengatakan kenaikan produksi karena adanya kenaikan luas panen sebvesar 391,69 ribu hektar atau 2,91% dan kenaikan produktivitas sebesar 0,16 kuintal per hektar atau 0,31%. Kenaikan produksi, lanjut Adi karena terjadi pada 2013 terjadi subround Januari-April dan subround September- Desember masing-masing sebesar 0,27 juta ton dan 2,54 juta ton. Sedangkan subround Mei -Agustus terjadi penurunan sebesar 0,57 juta ton.

Namun keniakan produksi padi tidak diikuti oleh produksi jagung yang mana menurut angka sementara sebesar 18,51 juta ton pipilan kering atau turun 0,88 juta ton atau 4,54%. Adi mengatakan alasan penurunan prodiksi jagunmg karena adanya penurunan luas panen 137,43 ribu hektar dan penurunan produktivitas 0,55 kuintal per hektar. "Penurunan relatif besar di Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tapi ada pengkatan produksi d NTT, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat dan Gorontalo," tutupnya.