Kereta Bandara

Oleh: Ardi Winangun, Penggiat Komunitas Penulis Lapak Isu

Selasa, 04/03/2014

Setelah Bandar Udara Internasional Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara, membuka dan menyediakan jasa kereta bandar udara yang melayani para penumpang pesawat yang hendak meninggalkan atau menuju ke bandar udara, selanjutnya beberapa bandar udara di Indonesia melakukan hal yang sama.

Bandar udara kedua yang sudah melakukan penyediaan jasa kereta adalah Bandar Udara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat. Selanjutnya menyusul Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten; Djuanda, Sidoarjo, Jawa Timur; Adi Sucipto, Jogjakarta; dan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah.

Dari sekian bandar udara itu, Soekarno-Hatta yang harus bersusah payah membuka jalur baru sebab bandara tersibuk di Indonesia itu jauh dari jalur kereta api. Sedang Djuanda dan Ahmad Yani tinggal membelokkan sedikit rail-nya saja. Kedua bandar udara itu letaknya tak jauh dari jalur kereta api. Ahmad Yani kurang kurang dari 500 meter dari rail. Untuk Adi Sucipto keberadaan bandar udara dengan stasiun kereta sudah melekat, tinggal optimalisasi saja antarbangunan itu, tinggal mengintegrasikan.

Menyediakan layanan kereta bandar udara tentu akan semakin memanjakan penumpang pesawat. Dengan adanya layanan itu maka waktu tempuh dari dan menuju ke bandar udara akan semakin efisien sebab akan terbebas dari macet. Keluhan yang paling dirasakan penumpang pesawat dari dan ke Bandar Udara Soekarno Hatta adalah sering macetnya perjalanan karena padatnya lalu lintas di Jakarta.

Dibanding dengan Kuala Lumpur Malaysia dan Singapura, Indonesia jauh tertinggal dalam soal kereta bandar udara. Bila kita pernah di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), kita akan melihat bagaimana bersih, aman, nyaman, tertib, dan biaya terjangkau dari pelayanan kereta bandara udara. Dengan pelayanan yang demikian membuat para penumpang pesawat hilang stress akibat rasa bosan di udara.

Kereta bandar udara yang terdiri dari KLIA Express dan KLIA Transit, sepertinya tak pernah penuh sehingga setiap penumpang mendapat tempat duduk. Di sinilah kelebihan lain dari kereta bandar udara di negeri jiran itu. Pemerintah Malaysia tak mengejar untuk dari keberadaan kereta bandar udara. Kalau mengejar untung mereka seperti angkutan umum di Indonesia, yakni menunggu penuh baru jalan.

Bersih, nyaman, dan aman pada KLIA Express, KLIA Transit, dan pengelolaan stasiun itu tak terlepas dari mental orang Malaysia yang tertib dan merasa fasilitas umum harus dijaga bersama sehingga mereka tak merokok, membuang sampah, dan duduk sembarangan. Mental masyarakat itulah yang membuat suasana kereta bandar udara dan stasiun menjadi begitu lega dan bersih.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana wajah kereta bandar udara dan stasiunnya di Indonesia. Pertama kali dioperasionalkan, bisa jadi suasananya aman dan nyaman namun selanjutnya wajahnya bisa lain. Kelemahan orang Indonesia adalah tidak bisa merawat fasililtas yang ada.

Penulis mempunyai bayangan bahwa kereta bandar udara di Indonesia nanti akan menambah kekumuhan dan kepadatan di bandar udara. Kalau kita lihat stasiun kereta api dan bandar udara di Indonesia, jumlah orang yang hilir mudik di tempat itu sangat melimpah. Limpahan orang di tempat itu bukan karena banyaknya penumpang namun juga orang-orang yang mengais rejeki, mulai dari tukang ojek, sopi taxi baik resmi atau gelap, calo tiket, pedagang kaki lima, penjemput, dan orang-orang yang tujuannya tidak jelas.

Bila di bandar udara ada stasiun kereta maka itu akan mengundang pencari rejeki seperti di atas, yakni tukang ojek, sopir taxi baik resmi atau gelap, calo tiket, pedagang kali lima akan semakin banyak. Dengan adanya kereta bandar udara akan membuka ‘lapangan kerja’ baru bagi masyarakat. Sebagai tempat lapangan kerja baru tentunya akan diminati banyak orang. Dan di sinilah bertambahnya kepadatan itu terjadi. Bayangkan nanti kepadatan di Soekarno-Hatta yang setahun dikunjungi 64 juta penumpang akan bisa bertambah jutaan bila ada stasiun kereta bandar udara.

Mungkin tidak menjadi masalah bila mental masyarakat Indonesia bisa diatur, tertib, dan mematuhi aturan yang ada. Kalau kita lihat secara nyata, mental masyarakat Indonesia susah melakukan hal yang demikian sehingga bandar udara yang sudah padat akan bertambah padat hingga akhirnya menjadi kumuh. Bagaimana tidak kumuh kalau orang-orang yang tidak jelas tujuannya nongkrong di situ, bagaimana tidak kumuh kalau pedagang kali lima buka lapak seenaknya sendiri.

Bisakah pedagang kali lima dan orang-orang yang tak jelas ditertibkan? Sekali dua kali bisa namun selanjutnya petugas keamanan sudah malas karena mereka tidak jera-jera. Dan akhirnya terjadi kongkalikong antara pedagang kali lima dan petugas keamanan bandar udara. Kong kalikong yang terjadi adalah, pedagang kali lima memberi sesuatu kepada petugas dengan imbalan bisa berjualan di bandar udara. Tak hanya pedagang kaki lima namun taxi gelap yang melakukan langkah yang sama.

Kalau kita di Soekarno-Hatta sering kita menemukan pedagang kali lima yang menjual makanan, jam, atau barang lain tanpa takut ditangkap petugas. Baik dengan trolly maupun menenteng tas mereka menawarkan dagangannya kepada calon penumpang pesawat. Bahkan yang lucu, bila selepas tengah malam atau menjelang subuh, pernah kita temukan tukang pijit membuka praktek di salah satu terminal.

Dengan kondisi mental masyarakat yang masih demikian maka keberadaan kereta bandar udara di satu sisi memang bisa memberi pelayanan yang efisien dan cepat bagi penumpang pesawat yang mau dan dari bandar udara namun di sisi lain akan menambah kepadatan dan kekumuhan. (haluankepri.com)