PGN Bukukan Laba Bersih US$ 861 Juta

Senin, 03/03/2014

NERACA

Jakarta – Ditengah wacana PT Pertamina mengakuisisi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), rupanya tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Pasalnya, sepanjang tahun 2013, perseroan masih membukukan laba bersih US$ 861 juta. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, perseroan juga mencatatkan pendapatan neto sebesar US$ 3,001 miliar, meningkat 16% dibandingkan periode yang sama 2012. Pada 2013 laba bruto PGAS sebesar US$ 1,418 miliar, laba operasi sebesar US$ 934 juta serta EBITDA sebesar US$ 1,121 miliar.

Kata Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Hendi Prio Santoso, tujuan utama seluruh kegiatan usaha yang dilakukan oleh perseroan adalah untuk meningkatkan pemanfaatan gas di dalam negeri. Selama bertahun-tahun, gas bumi yang diproduksi di Indonesia lebih banyak diekspor karena perseroan tidak memiliki infrastruktur yang memadai apalagi terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia,”Kami akan membantu pemanfaatan maksimal produksi gas Indonesia bagi kepentingan domestik dengan terus melanjutkan pembangunan integrasi infrastruktur gas. Kebijakan dan strategi yang telah kami terapkan mendukung kapasitas internal kami baik dari sisi teknis dan keuangan untuk meneruskan proyek-proyek pembangunan infrastruktur gas,”ujarnya.

Menurutnya, dengan kinerja pendapatan usaha perusahaan dan pengaruh pergerakan nilai tukar mata uang, perseroan berhasil mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk 2013 sebesar US$ 861 juta. Dari sisi beban pokok pendapatan, kenaikan harga beli gas dari pemasok mulai 1 September 2012 dan 1 April 2013 mempengaruhi kenaikan beban pokok pendapatan di periode 2013 sebesar 43% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga beli gas dari pemasok, perseroan melaksanakan penyesuaian harga jual gas ke pelanggan. Di tengah kondisi makro ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2013, penyajian laporan keuangan dalam mata uang dolar Amerika Serikat (USD) memberikan dampak terhadap pencatatan pendapatan PGAS 2013. Perseroan menerima pembayaran dalam mata uang rupiah dan dolar AS untuk gas yang dijual kepada pelanggan.

Pada akhir 2013, rupiah melemah 26% menjadi Rp12.189 per dolar AS dari Rp9.670 per dolar AS akhir tahun 2012. Pelemahan nilai mata uang rupiah tersebut berdampak pada pencatatan porsi pendapatan dalam mata uang rupiah sehingga laba bruto pada 2013 menjadi sebesar US$1.418 juta.

Selain itu, pada tahun 2013, PGAS juga mencatatkan aset sebesar US$ 4,363 miliar meningkat dari US$ 3,908 miliar di 2012. Belanja modal dan penyertaan meningkat dari US$ 172 juta di 2012 menjadi US$ 681 juta di 2013. Liabilitas perseroan meningkat tipis dari US$ 1,553 miliar di 2012 menjadi US$ 1,636 miliar di 2013. Sedangkan ekuitas perseroan melonjak dari US$ 2,355 miliar di 2012 menjadi US$ 2,727 miliar di 2013. (bani)