Menakar Prospek IPO ANTV Ditengah Khawatiran Investor

Bidik Dana Segar Rp 1,1 Triliun

Senin, 03/03/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun sejumlah investor mengkhawatirkan prospek kinerja entitas anak perseroan, yakni PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) yang bakal IPO nanti mampu diserap pasar dan akan ikut memburuk menyusul negatifnya sejumlah emiten di bawah naungan grup Bakrie, namun perseroan tetap bersikeras akan melepas sahamnya lewat penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) dengan kisaran harga Rp1.380-Rp1.930 per saham.

Direktur Utama Ciptadana Securities, Fery Budiman Tanja selaku penjamin emisi mengatakan, jumlah lembar saham yang akan dilepas sebanyak-banyaknya adalah 294.116.000 saham baru dan sebanyak-banyaknya 294.116.000 saham divestasi milik PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) atau total sebanyak 15% dari total saham yang dimilik perseroan,”Dari 15% itu, 7,5% saham divestasi dan 7,5 lagi saham baru,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Bahkan dirinya menyakini, saham perdana ANTV akan likuid kedepannya dan karena itu, dia menargetkan perolehan dana dari penerbitan saham ini akan mencapai Rp811,76 miliar hingga Rp1,13 triliun. Sementara menurut Presiden Direktur PT Intermedia Capital (IMC), holding untuk stasiun televisi ANTV, Erick Thohir mengatakan, prosesi IPO ini memiliki arti penting bagi perseroan dalam mendukung semangat go public yang merupakan kelanjutan dari proses transformasi yang telah berhasil membawa pertumbuhan kinerja positif bagi perusahaan dan induk perusahaan.

Dia menjelaskan, dipilihnya momentum IPO ini sebelum dimulainya Piala Dunia dimaksudkan agar masyarakat calon investor bisa ikut menikmati peningkatan penjualan dari masa Pemilu dan Piala Dunia,”Dengan IPO, masyarakat bisa turut terlibat langsung dalam bisnis yang prospektif ini. Dengan ini kami berharap transformasi IMC akan semakin menemukan momentum bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,”ungkapnya.

Tahun ini, PT Intermedia Capital (IMC) menargetkan, peningkatan perolehan laba bersih 2014 sebesar 69,64-78,57% dibandingkan perolehan laba pada 2013 menjadi sebesar Rp190 miliar sampai Rp200 miliar. Kata Direktur PT Intermedia Capital, Harlin Erlianto Rahardjo, besarnya target pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ada dua even besar yang akan berlangsung pada tahun ini, yaitu World Cup dan pemilihan umum (Pemilu) 2014,”Pada 2014 kita punya target, karena ada pemilu sama World Cup. Jadi target laba bersih kita Rp190 milair sampai Rp200 miliar. Pada 2013, laba kita di angka Rp112 miliar, tapi itu belum audit," tuturnya.

Sementara, lanjut dia, untuk pendapatan 2014 pihaknya menargetkan pertumbuhan yang juga cukup agresif hingga Rp1,1 triliun,”Pendapatan kita pada 2013 sekitar Rp800-an miliar. Kalau pada 2014 ini kita target bisa Rp1 triliun sampai Rp1,1 triliun karena ada pemilu dan World Cup," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan pernah mengatakan, pelaku pasar khususnya investor perlu mempertimbangkan lagi jika ingin membeli saham ANTV. Alasannya, saat ini emiten yang tergabung dalam grup Bakrie banyak yang mengalami penurunan kinerja,”Pelaku pasar yang sudah mengetahui track record grup Bakrie pasti sudah memahami akan bagaimana nantinya saham-saham mereka,”katanya.

Dia menjelaskan, yang ditakutkan emiten jika akan melakukan IPO adalah ketiadaan minat dan respect dari investor untuk saham yang akan dikeluarkan. Sehingga, untuk perusahaan yang tergabung dalam grup yang memiliki sejarah kurang baik sebaiknya memperbaiki kinerjanya,”Salah satu tindakan investor bisa saja memboikot proses IPO atau dengan kata lain tidak datang ke proses IPO tersebut. Yang sudah listing 5 sampai 10 tahun saja belum bagus sahamnya”, ungkapnya.

Padahal, menurut dia, perusahaan media khususnya televisi cukup menarik unutk dikoleksi di mana banyak iklan dan masyarakat menyaksikan televisi tersebut. “Sektor media sangat bagus di mana konsumsi masyarakat meningkat, banyak yang gunakan jasa TV untuk beriklan”, jelasnya.

Hanya saja, jika sektornya bagus namun manajemen perusahaan tidak bagus, tentu akan berakibat merugikan. Dia mencontohkan saham ELTY yang terus anjlok padahal di tahun 2012-2013 sektor properti sedang booming diminati pelaku pasar,”IPO memang haknya grup Bakrie dan perusahaan manapun, namun menjadi hak investor juga untuk membeli sahamnya atau tidak,”ujarnya. (bani)