Holcim Bagikan Dividen Sebesar Rp 689 Miliar

Senin, 03/03/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun mencatatkan penurunan laba tahun 2013 sebesar 29,48% menjadi Rp952,11 miliar dibandingkan laba tahun sebelumnya yang Rp1,35 triliun, namun PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) tetap akan membagikan dividen kepada pemegang saham.

Perseroan akan membagikan dividen final total sebesar Rp689,66 miliar dari perolehan laba bersih tahun buku 2013. Dari total dividen itu, sebesar Rp283,42 miliar atau Rp37 per saham sudah dibagikan sebagai dividen interim pada tahun lalu. Sehingga Holcim Indonesia hanya tinggal membagikan sisanya yaitu Rp 405,98 miliar atau Rp53 per saham menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 6 Mei 2014.

Corporate Communications Manager PT Holcim Indonesia Tbk, Diah Sasanawati mengatakan, dewan direksi akan mengajukan persetujuan dari para pemegang saham untuk pembayaran dividen final total sebesar Rp90 per saham dari laba bersih 2013,”Jadi dividennya sebesar 72,5% dari laba bersih,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Tercatat jumlah total saham beredar Holcim sebanyak 7,66 miliar saham. Perseroan mencatat penurunan laba bersih 2013 sebesar 29,48% menjadi Rp952,11 miliar. Perolehan pada tahun sebelumnya sebesar Rp1,35 triliun. Pendapatan dari penjualan naik jadi Rp9,68 triliun dari tahun sebelumnya Rp9,01 triliun. Beban pokok naik menjadi Rp6,33 triliun dari sebelumnya Rp5,73 triliun membuat laba perseroan tergerus.

Selain itu, laba bruto naik jadi Rp3,35 triliun dari laba bruto sebelumnya Rp3,28 triliun. Laba usaha turun jadi Rp1,85 triliun dari laba usaha sebelumnya Rp2,04 triliun. Sedangkan laba sebelum pajak turun jadi Rp1,34 triliun dari laba sebelum pajak sebelumnya Rp1,87 triliun. Total aset per Desember 2013 menjadi Rp14,89 triliun naik dari total aset per Desember 2012 yang Rp12,17 triliun.

Pada tahun 2014 ini, perseroan memiliki tambahan produksi 1,7 juta ton per tahun menyusul akan beroperasinya pabrik Tuban I pada April 2014 nanti, namun perseroan belum ada rencana untuk meningkatkan market share nya di Jawa Timur.

Asal tahu saja, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika diakui perseroan berpengaruh besar pada sektor industri secara keseluruhan. Direktur Komersial PT Holcim Indonesia Tbk Jan Kunigk pernah bilang, industri padat modal dengan biaya dalam bentuk denominasi dolar Amerika akan mengalami kenaikan biaya.“Tentunya, kenaikan biaya ini juga akan berdampak pada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual”, katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa perseroan mengalami kenaikan biaya yang signifikan untuk membiayai klan, distribusi, energi, dan upah di tahun 2013. Dia mengakui, biaya keuangan untuk perluasan Tuban juga mengalami peningkatan karena naiknya suku bunga bank dan depresiasi rupiah dari pinjaman luar negeri. (bani)