Banyak Hambatan, Laba Emiten Tambang Rontok

Senin, 03/03/2014

NERACA

Jakarta- Sentimen negatif tampaknya belum beranjak dari sektor komoditas tambang. Kinerja sejumlah emiten yang bergerak di sektor ini pun tercatat masih tertekan beberapa hambatan. Sebut saja, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang masing-masing mencatatkan penurunan laba di atas 30%.

Kepala Riset PT Buana Capital, Alfred Nainggolan mengatakan, penurunan laba bersih pada sejumlah emiten tambang merupakan hal yang wajar karena mendapat sentimen negatif dari penurunan harga komoditas. “Ini menjadi hal wajar, pasar mengerti harga komoditas tambang tengah mengalami penurunan.” katanya di Jakarta, pekan kemarin.

Tercatat, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatatkan laba tahun berjalan periode Desember 2013 sebesar Rp 1,854 triliun, atau turun 36,26% dibanding Rp 2,909 triliun yang diperoleh pada bulan yang sama tahun 2012. Padahal emiten pelat merah ini mampu meningkatkan volume penjualan hingga 15,8% dari 15,33 juta ton menjadi 17,76 juta ton.

Bahkan, penjualan sepanjang tahun lalu mencapai 9,59 juta ton atau 53,9% dari total penjualan ditujukan untuk pasar ekspor. Sementara itu, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penurunan laba bersih sekitar 46,65%, menjadi US$230,484 juta pada tahun 2013 dari laba bersih tahun sebelumnya sebesar US$432,043 juta. Penjualan bersih perseroan tercatat turun menjadi US$2,18 miliar dibandingkan tahun sebelumnya senilai US$2,44 miliar.

Adapun PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sepanjang tahun 2013, mengalami penurunan laba bersih 42,7% menjadi US$38,65 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya (US$67,49 juta). Sebagai strateginya, beberapa emiten tambang tersebut pun mengaku akan melakukan langkah efisiensi atas kegiatan operasionalnya dan mengoptimalkan produksinya.

Namun, dengan diberlakukannya pelarangan ekspor bijih mineral pada Januari lalu dinilai berpotensi menekan kinerja pertambangan pada tahun ini, khususnya yang fokus pada tambang mineral. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pun menyematkan outlook negatif untuk sektor pertambangan mineral dalam jangka pendek.

“Pelarangan ekspor bijih mentah dan penerapan menaikkan bea keluar progresif produk olahan mineral berdampak pada potensi penurunan pendapatan dan laba serta arus kas.” kata analis Pefindo, Niken Indriarsih.

Di sisi lain, menurut dia, terjadi peningkatan pinjaman untuk mendanai ekspansi kapasitas dan pembangunan smelter karena dampak positifnya baru akan dirasakan dalam jangka panjang. “Untuk jangka panjang, ini tentunya baik karena kita akan lebih mengekspor produk yang bernilai tambah.” ujarnya.

Oleh karena itu, dia melihat, tantangan yang akan dihadapi sektor ini pada 2014 yaitu adanya kenaikan biaya dengan penerapan bea keluar ekspor progresif dan biaya yang besar untuk melakukan ekspansi. Selain itu, juga menyelesaikan ekpansi atau pembangunan smelter tepat waktu, termasuk infrastruktur. (lia)