Inflasi Takkan Lewati Ambang Batas 1%

Prediksi BPS

Senin, 01/08/2011

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memperikirakan besaran inflasi pada Juli 2011 takkan melebihi “ambang” batas 1%. Bahkan kajian BPS tekanan inflasi hanya berkisar 0,5%-0,7% saja. "Kita perkirakan masih di bawah 1% dan year on year (YoY) di bawah 5%, angkanya 0,5%-0,7%," kata Kepala, BPS Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,(31/7)

Diakui Rusman, selama ini ada kekhawatiran bahwa kenaikan harga bahan pokok seperti beras, telor dan daging ayam, bahkan pengeluaran tahun ajaran baru akan mengerek inflasi lebih tinggi di Juli 2011.

Hanya saja Rusman mengingatkan, saat bulan Ramadhan bersamaan banyak faktor lain yang juga memberi sumbangan signifikan pada deflasi. "Selama ini orang risau beras, telur dan daging ayam naik. Tapi ingat ada yang menyumbang deflasi juga seperti turunnya harga bawang merah, cabe rawit, minyak goreng, gula pasir yang bobotnya lumayan," katanya.

Rusman menambahkan, kondisi inflasi Juli 2010 lalu mencapai 1,57%, sementara Juli tahun ini diperkirakan di bawah 1%. Maka ia optimis secara YoY inflasi sampai Juli 2011 masih di bawah 5%. Sementara target inflasi YoY tahun 2011 ini berdasarkan APBN Perubahan sebesar 5,65 %. “Nggak sampai 1%. Pasti di bawah 1%,” tegasnya.

Sebelumnya BPS mengumumkan pada Juni 2011 terjadi inflasi 0,55%, penyumbang tertinggi dari kenaikan harga beras. Inflasi melonjak tajam karena adanya kenaikan harga bahan pokok di minggu kempat Juni.

Inflasi kumulatif Januari-Juni (semester I) 2011 adalah 1,06%, sementara inflasi YoY di Juni mencapai 5,54%, turun dari 5,98% di Mei karena pada Juni 2010 angka inflasi adalah 0,97%.

Ditempat terpisah, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro mengatakan, tingginya inflasi di Cina maka akan menimbulkan ekspektasi produksi yang terjadi di China akan semakin mahal. "Sehingga Indonesia bisa sama kompetitifnya dengan Cina," ujarnya.

Menurut mantan Dekan FEUI in, meningkatnya inflasi China, serta menurunya pertumbuhan ekonomi di negara tirai Bambu tersebut merupakan kesempatan Indonesia untuk lebih dapat bersaing dengan industri China.

Bambang menambahkan, inflasi China tidak akan berpengaruh langsung pada Indonesia, pasalnya saat ini neraca perdagangan dengan China masih mengalami kerugian. "Artinya volume perdagangan Indonesia-China itu masih tinggi sekali," tambahnya

Dijelaskan Bambang, hal inilah yang menjadi penopang perekonomian Indonesia dengan China lebih banyak pada sektor perdagangan. "FDI hampir tidak ada, sedikit sekali. Terus surat-surat berharga apalagi," urainya,

Bambang mengingatkan, jika ancaman inflasi yang terjadi di China juga merupakan ancaman inflasi global. Dengan kata lain sewaktu-waktu inflasi juga akan melanda Indonesia.

Karenanya, dia menilai diperlukan kebijakan terkait persedian stok pangan untuk mengatisipasi hal tersebut. "Kalau ancaman inflasi sudah ancaman global ya, tinggal kita menyiasati persediaan beras," jelas Bambang.

Lebih lanjut Bambang mengungkapkan tingginya harga beras saat ini memang tergantung dari impor. Kuncinya, kata dia, bagaimana pemerintah menjaga produksi beras. "Pastikan kita bisa mengelola produksi nasional dengan bagus," imbuhnya.

Yang jelas, kata Bambang lagi, saat ini perekonomian Indonesia melaju sangat kencang. Karena itu perlu diwaspadai. Sebab bisa menyebabkan bubble. "Bubble itu biasanya kalau ada pertumbuhan yang tidak alamiah. Artinya, pertumbuhan tinggi yang mungkin terlalu tinggi," tandasnya.

Terkait krisis utang AS, Bambang melihat hal ini yang menyebabkan adanya pengalihan arus modal asing dari AS menuju ke pasar Asia terutama Indonesia. "Capital inflow-nya yang mestinya ke Amerika sebagian makin banyak Indonesia. Rupiahnya makin kuat, terus kita ada kekhawatiran sudden reversal," pungkasnya. **cahyo