Dewan Hortikultura Desak Pemerintah Impor Cabai - Harga Makin Mahal

NERACA

Jakarta – Harga cabai semakin hari semakin mengalami kenaikan yang tidak terkendali. Hal tersebut lantaran produksi cabai di beberapa sentra mengalami gangguan bencana mulai dari erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur sampai banjir yang mengganggu jalur distribusi barang. Maka dari itu, pemerintah didesak untuk segera menstabilkan harga cabai dengan cara impor.

Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN), Benny Kusbini memperkirakan harga cabai akan naik sepanjang 2014 akibat kurangnya pasokan dari sentra produksi. Karenanya, dengan produksi cabai dalam negeri yang merosot maka kebijakan impor cabai harus dibuka. Benny menyebutkan Indonesia bisa mengimpor cabai dari Vietnam dan Thailand.

Benny menyatakan salah satu sentra penghasil cabai yakni Kecamatan Kepung, Kabupatan Kediri,Jawa Timur kini mengalami gagal panen akibat erupsi Gunung Kelud sehingga mengancam pasokan cabai nasional. Selain itu, Indonesia sedang memasuki musim penghujan serta beberapa daerah menjadi terkena banjir, dan hal itu menyebabkan produksi cabai mengalami gagal panen.

“Saat ini hingga Bulan Mei ke depan merupakan masa panen cabai, tetapi hasil panen tercatat hanya mencapai 30% dari target. Sementara setelah Bulan Mei, cuaca akan memasuki musim kemarau dan akan menurunkan produksi cabai,” jelasnya di Jakarta, Kamis (27/2).

Dikatakan, pemerintah harus bergegas mengimpor cabai dari kedua negara itu. Pasalnya, jika terlambat, produksi cabai Vietnam bisa diserap China yang juga merupakan negara mengalami gagal panen cabai. “Kalau sudah keduluan China, kan merepotkan. Setelah Vietnam kosong, harapan berikutnya tinggal Thailand,” ungkapnya.

Menurutnya, kementerian Perdagangan bersama Kementerian Pertanian harus duduk bersama guna menentukan jumlah kebutuhan cabai nasional dan jumlah produksi nasional. “Dari situ, baru ditentukan berapa alokasi untuk impor,” tukasnya.

Para pedagang cabai rawit di pasar tradisional Jakarta pun meminta pemerintah segera membuka keran impor. Ini untuk menekan harga cabai rawit lokal yang naik setiap hari naik. Salah seorang pedagang sayuran Djoko mengatakan, harga cabai rawit merah hari ini kembali mengalami peningkatan harga Rp 1.000/kg. Sehingga harga jual cabai rawit merah di tingkat pasar tradisional sudah menembus Rp 73.000/kg.

“Hari ini kembali naik Rp 1.000/kg menjadi Rp 73.000/kg. Kalau impor baik untuk menekan harga mengapa tidak, asal jangan terlalu berlebihan. Pasokan cabai di Pasar Induk Kramat Jati juga sudah mulai turun,” jelas Djoko.

Normalnya, harga cabai rawit di tingkat pasar tradisional hanya berkisar antara Rp 25.000-35.000/kg. Dampak letusan Gunung Kelud banyak berpengaruh kepada pasokan cabai rawit merah di Jakarta. Akibat harga cabai yang mahal, Djoko mengaku tidak dapat melayani pembeli dengan jumlah eceran. Minimal pembeli hanya boleh membeli cabai rawit merah seharga Rp 5.000.

"Penyebabnya menurut pedagang besar di Pasar Induk karena Kelud, katanya pasokan terbesar cabai rawit merah dari sana. Sekarang nggak berani jual eceran minimal harus beli Rp 5.000 itupun, jumlah cabai rawit merahnya tidak terlalu banyak karena sudah dioplos sama cabai rawit putih lokal," katanya.

Menurut statistik harga Kementerian Perdagangan hari ini, harga jual rata-rata cabai rawit merah di Jakarta mengalami kenaikan dari Rp 68.000/kg menjadi Rp 69.000/kg. Angka itu adalah yang tertinggi dibandingkan kota lainnya seperti Bandung hanya Rp 59.000/kg, Semarang Rp 60.000/kg, Yogyakarya Rp 61.000/kg, Surabaya Rp 47.800/kg, Denpasar Rp 63.000/kg, dan Makassar yang hanya Rp 38.000/kg.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) akui importasi cabai segar untuk konsumsi rumah tangga tidak mudah. Pasalnya, produsen cabai di dunia ini tidak banyak. Kalaupun ada, jenisnya berbeda dan tidak sesuai dengan cita rasa masyarakat Indonesia.

Bayu Krisnamurthi Wakil Menteri Perdagangan mengatakan, salah satu negara produsen cabai yang jenisnya mirip dengan yang ditanam oleh petani Indonesia adalah Thailand. "Tetapi untuk kirim dari Thailand ke sini (Indonesia) membutuhkan waktu 7-10 hari," kata Bayu.

Menurut Bayu, bulan Januari ini produksi hortikultura lokal memang rendah karena di beberapa wilayah sentra produksi sedang dalam tahap penanaman. Guna mengantisipasi hal tersebut, Kemendag juga telah memberikan izin impor kepada para importir.

Mengutip data Kemendag untuk semester I tahun ini permohonan izin impor cabai yang diberikan sebanyak 130 ton. Sebelumnya, Bachrul Chairi Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan, jumlah perusahaan importir cabai hanya satu perusahaan. "Sulit untuk mencari cabai," kata Bachrul.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Tetapkan Hasil Penjualan SBR004 Rp7,3 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sebesar Rp7,3 triliun dengan…

Pemerintah & DPR Sepakat Kurs Rp 14.500 per US$ - PERUBAHAN ASUMSI MAKRO EKONOMI RAPBN 2019

Jakarta-Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR akhirnya sepakat untuk mengubah kembali asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp14.500 dari…

BPS: NPI Masih Defisit di Agustus 2018 - MESKI EKSPOR TUMBUH, LAJU IMPOR LEBIH DERAS

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) sepanjang Agustus 2018 mengalami defisit sebesar US$1,02 miliar, menurun sedikit…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Indonesia-Sri Lanka Lanjutkan Kesepakatan Ekspor Pakaian

NERACA Jakarta – Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Hanoi, Vietnam, Rabu, membahas tindak…