Industri Rantai Pendingin Sulit Berkembang

Fasilitas Fiskal Minim

Jumat, 28/02/2014

NERACA

Jakarta - Tingkat pertumbuhan konsumsi domestik di Indonesia diperkirakan akan terus mengalami tren peningkatan hingga 10 tahun mendatang. Sehingga bisa dipastikan akan mengerek pertumbuhan sektor industri dari berbagai sektor, tidak terkecuali industri makanan olahan.

Di sisi lain, pertumbuhan sektor industri makanan olahan di Indonesia ternyata belum diimbangi oleh keberadaan sektor industri rantai pendingin makanan yang kapasitas terpasangnya hanya sebesar 50 % dari kebutuhan nasional.

Celakanya, apabila pemerintah tidak serius mengembangkan, bukan tidak mungkin saat implementasi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 mendatang, sektor industri rantai pendingan makanan nasional akan dikuasai oleh para pemain asing dari negara ASEAN lainnya.

Untuk itu, Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) mengharapkan pemerintah segera memberikan sejumlah fasilitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan sektor industri rantai pendingin makanan di dalam negeri.

Direktur Eksekutif ARPI Hasanuddin Yasni mengatakan untuk saat ini, total produksi perikanan kita mencapai 14 juta ton, tapi kapasitas terpasang rantai pendingin berupa cold storage yang ada di dalam negeri hanya sebesar 7,2 juta ton. Demikian halnya dengan produksi ayam potong nasional sebesar 3,7 juta ton, namun cold storage yang tersedia hanya 1,9 juta ton. Sementara untuk daging sapi dari total 580 ribu ton, cold storage yang ada 400 ribu ton.

"Sektor industri rantai pendingin makanan di Indonesia tahun ini membutuhkan tambahan investasi sekitar US$ 400 juta untuk menambah kapasitas terpasang sebesar 500 ribu ton lagi. "Asumsinya kalau per 1 ton dibutuhkan investasi sebesar US$ 800, sementara kebutuhan untuk penambahan kapasitas sebesar 500 ribu ton lagi," ungkap Hasanuddin saat acara pers conference jelang penyelenggaraan Indonesia Seafood & Meat Conference and Expo 2014, di Jakarta, Kamis (27/2).

Dengan adanya penambahan kapasitas rantai pendingin sebesar 500 ribu ton di tahun 2014 ini, ARPI sendiri mentargetkan sektor industri rantai pendingin bisa mengalami pertumbuhan sebesar 7 % dibandingkan pertumbuhan tahun 2013 lalu. "Masih banyak hambatan investasi yang dikeluhkan oleh para investor. Selain persoalan infrastuktur, minimnya fasilitas fiskal yang ditawarkan pemerintah juga jadi kendala untuk penyerapan investasi di sektor industri rantai pendingin ini," tukasnya.

Dia menjelaskan, untuk sektor industri rantai pendingin yang bahan bakunya 100% masih diimpor, pemerintah hingga kini belum mau memberikan fasilitas pembebasan bea masuk komponen. Demikian halnya dengan fasilitas tax holiday untuk pembangunan pabrik perakitan cold storage di dalam negeri. Padahal, lanjut Hasanuddin, paket insentif fiskal tersebut sangat dibutuhkan untuk mendorong investasi di sektor industri rantai pendingin makanan di Indonesia.

IISM 2014, Untuk mendorong pertumbuhan investasi di sektor industri rantai pendingin makanan, APRI bekerjasama dengan PT Pelita Promo Internusa (PPI) sebagai pihak penyelenggara dan didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta Kementerian Perindustrian RI sebagai co-host akan mengadakan konferensi teknologi pendinginan produk pangan bertaraf internasional dengan pamerannya yang akan menyajikan sistem rantai dingin (cold connection) pada hasil laut (seafood) dan daging (meat dan poultry).

Acara yang akan menjadi salah satu event penting untuk industri dan teknologi pengolahan hasil laut dan daging tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 2-4 Oktober 2014 bertempat di Jakarta International Expo Kemayoran Hall D.

"International Indonesia Seafood & Meat Conference and Expo 2014 di sektor tersebut merupakan ajang event yang sudah banyak ditunggu oleh pelaku bisnis di wilayah Indonesia dan negara sekitarnya," kata Managing Director PPI, Sofianto Widjaja.

Menurut Sofianto, bertolak kepada program pemerintah yang ingin memberdayakan potensi produksi hasil-hasil laut dan daging nasional, serta keinginan mengurangi impor pangan ataupun mengurangi ketergantungannya, terlebih lagi di tahun depan (2015) pemberlakuan perdagangan bebas di komunitas negara-negara ASEAN (AEC), event ini akan sangat membantu pelaku bisnis didalam mengembangkan usaha dan strategi berkompetisi didalam gempuran produk-produk ASEAN jika AEC dilaksanakan.

"Event expo ini akan menghadirkan berbagai teknologi refrigerasi terkini yang ramah lingkungan dan hemat energy dari hulu ke hilir, yakni untuk logistik (cold dan chill storage), transportasi berpendingin (trucking) untuk darat, laut dan udara dan, pangsa pasar produk unggulan baik domestik maupun mancanegara yang dapat digarap baik secara ritel maupun kuota. Adapun target transaksinya sekitar 10% dari total investasi yang dibutuhkan untuk penambahan kapasitas terpasang nasional," ungkapnya.

Berdasarkan catatan ARPI, target pemerintah untuk produksi nasional di sektor seafood pada tahun 2014 ini adalah 19,6 juta ton atau tumbuh 20% setahun (6,5 juta ton adalah produksi rumput laut yang tidak memerlukan pendingin). Di sektor daging sapi (meat), pemerintah menargetkan 580 ribu ton untuk daging sapi (impor terus dikurangi) dan poultry (ayam dan unggas) 3,7 juta ton atau tumbuh 7-10% setahun.