Kegalauan Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Oleh: Rikson Pandapotan Tampubolon, Mahasiswa Magister S-2 USU

Jumat, 28/02/2014

Minimnya sosialisasi dan pembahasan mengenai “Masyarakat Ekonomi ASEAN” membuat kecemasan di kalangan masyarakat tidak tentu arah. Bagaimana tidak? Ketiadaan pemahaman yang baik mengenai konsep ini membuat masyarakat tidak mengerti hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyambut atau menaklukkan tantangan ekonomi ke depan. Rakyat menjadi “diam” dan cemas. MEA sebenarnya adalah sebuah peluang ekonomi Indonesia, untuk menaklukkan dan memimpin ekonomi di ASEAN. Tetapi apabila tidak dikelola dan dipersiapkan dengan benar. Maka bukan manfaat, mudaratlah yang dapat.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community– AEC) 2015 yang sering disingkat dengan MEA,akan kita hadapi kurang lebih satu tahun lagi. Ada perasaan yang bimbang atau mirip istilah “kegalauan” dalam istilah yang lagi trend bagi anak-anak muda hari ini. Mengingat ASEAN (Association of South East Asia Nations) yang beranggotakan sepuluh Negara-negara di Asia Tenggara akan melebur dan membentuk sebuah kekuatan ekonomi yang baru, tanpa sekat atau pembatas dalam interaksinya.

ASEAN dengan MEA menjadi seperti sebuah konsep negara federasi yang baru. Menjanjikan kekuatan ekonomi yang baru, yang diproyeksikan sebagai penyeimbang kekuatan ekonomi global.

Membuatnya seakan tidak terbatas. ASEAN menjadi sebuah tatanan masyarakat yang baru. Membuat negara anggotanya bebas untuk melakukan aktivitas ekonominya baik dalam barang dan jasa. Urusan-urusan administrasi dalam hubungan ekonomi antar Negara di dalamnya akan “dibereskan”. Jadi kelak, untuk mengunjungi Negara satu dengan yang lain tidak perlu menggunakan paspor atau visa. Inilah bentuk ASEAN yang baru.

Indonesia sebagai menyumbang PDB (Product Domestic Bruto) tertinggi di Negara-negara ASEAN dan memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan yaitu 6,3 persen di tengah kelesuan ekonomi global. Harapannya Indonesia bisa memanfaatkan momentum MEA inisebagai faktor pendukung kekuatan ekonominya. Belum lagi, saat ini kekuatan ekonomi ASEAN menyumbang PDB sebesar 3,36 triliun dollar AS pada tahun 2012, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 5,6 persen, serta jumlah penduduk 608 juta jiwa, yang merupakan potensi pasar dan tenaga kerja yang besar apabila dikelola dengan baik.

Menghitung Kesiapan Kita

Sebuah pertanyaan sederhana menghampiri pikiran masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda usia kerja yang belakangan di cap sebagai generasi emas (golden age). Bagaimana nanti nasib kita, pemuda atau para tenaga kerja Indonesia?

Kegalauan itu cukup beralasan. Ditengah himpitan ekonomi masyarakat hari ini, khususnya dalam hal mencari kerja. Para tenaga kerja kita, baik yang bekerja dan sedang mencari kerja akan merasa semakin sulit untuk memperoleh pekerjaan. Bagaimana tidak? Angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja akan menciptakan pengangguran, yang bila tidak ditangani segera akan menjadi kendala/penghambat dalam capaian pembangunan.

Kesempatan kerja atau lapangan pekerjaan yang sebelumnya hanya di dominasi oleh persaingan anak-anak negeri, akan ditambah lebih rumit lagi dengan hadirnya para pencari kerja dari negAra lain dari negara anggota ASEAN. Sebuah konsekuensi yang diakibatkan dari kesepakatan membangun masyarakat ekonomi ASEAN. Berlaku sebaliknya, Indonesia juga di perkenankan untuk melakukan ekspansi tenaga kerjanya ke Negara-negara ASEAN yang lain.

MEA adalah bentuk integrasi ekonomi regional yang direncanakan untuk dicapai pada tahun 2015. Dengan pencapaian tersebut, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan basis produksi dimana terjadi arus barang, jasa, investasi dan tenaga terampil yang bebas serta aliran modal yang lebih bebas. Adanya aliran komoditi dan faktor produksi tersebut diharapkan membawa ASEAN menjadi kawasan yang makmur dan kompetitif dengan perkembangan ekonomi yang merata, serta menurunnya tingkat kemiskinan dan perbedaan sosial-ekonomi di kawasan ASEAN.

Pertanyaan diatas adalah salah satu yang dianggap penulis hal yang relevan yang patut untuk menghitung kesiapan kita, dibahas disamping hal-hal lainnya. Misalnya, soal daya saing sumber daya manusia (SDM), prioritas sektor-sektor unggulan, reformasi kelembagaan, infrastruktur dan lain sebagainya.

Menggalakkan Sosialisasi

Sosialisasi yang massif dan menyeluruh akan menghindarkan kita terhadap hal-hal yang sekiranya tidak perlu terjadi. Pemahaman yang baiklah yang akan menggerakkan kesadaran para warga masyarakat untuk mengambil“posisi” yang tepat untuk berhadapan dengan MEA. Jangan sampai, ketidak tahuan kita akan agenda yang kita hadapi ke depan membuat kita hanya menjadi “objek” ekonomi ASEAN.

Tak bisa dipungkiri, luas wilayah Indonesia, letak geografis yang strategis, populasi yang besar ditambah bangkitnya golden age akan menarik perhatian Negara-negara ASEAN yang lain. Untuk itu kita, harus “pintar-pintar” mengelolanya agar memberikan keuntungan yang maksimal untuk mendulang ekonomi Indonesia yang lebih kuat. Indonesia yang akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Setidaknya hal ini sudah ditandai, masuknya Indonesia sebagai anggota G-20, forum Negara-negara maju. Dan dengan diramalkan nya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia yang baru dengan julukan Kelompok MINT yaitu Meksiko, Indonesia, Nigeria, dan Turki.

Pemerintah pusat dan daerah perlu bersinergi mempersiapkan diri dan mensosialisasikan bahkan kesetiap daerah. Agar segenap elemen-elemen dalam masyarakat benar-benar menyadari tugas, fungsi dan perannya dalam menghadapi MEA. Dan, pemerintah daerah perlu juga membantu pemerintah pusat, misalnya dengan melindungi pertahanan ekonomi lokal masing-masing dalam sejumlah peraturan/regulasi untuk menjaga ketahanan nasional maupun daerah dari dampak negatif liberalisasi ekonomi ASEAN.

Bukan batu besar yang sering membuat kita jatuh, tetapi batu-batu kecil. Penulis yakin, sosialisasi adalah bagian kecil dari strategi Indonesia menghadapi dinamika ASEAN dalam konsep MEA-nya. Tetapi bila tidak diperhatikan secara serius, maka rancang bangun strategi yang brillian sekalipun akan hancur bila pemangku kepentingan (stakeholder), terlebih masyarakat tidak memahami persoalan MEA. Hanya dengan pemahaman yang baik dan persiapan yang matanglah. Kita, Indonesia bisa memenangkan “pertempuran” ASEAN dalam gelanggang MEA. Semoga! (analisadaily.com)