Pentingnya Tren Manajemen Risiko Sektor Keuangan 2014

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis

Jumat, 28/02/2014

Bank Sentral Amerika Serikat memasuki tahun 2014 ini akan melakukan pengawasan risiko perbankan dari perdagangan dan investasi komoditas. Sebagian besar literatur makro ekonomi pada krisis keuangan telah difokuskan pada pemahaman dan pemodelan propagasi dan aplikasi guncangan merugikan yang terjadi secara acak.

Memang langka, cukup besar, guncangan keuangan yang merugikan dapat menjelaskan dua sifat kepemilikan (lihat misalnya Gertler dan Kiyotaki, 2009). Namun, dengan menyiratkan bahwa krisis keuangan bisa terjadi setiap saat dalam siklus bisnis, juga tampaknya tidak sejalan dengan fakta bahwa terjadinya krisis perbankan sistemik adalah berhubungan erat dengan kondisi kredit (Gorton, 2010, 2012).

Karenanya memerlukan suatu pendekatan alternatif. Kondisi ini memperlihatkan bahwa manajemen risiko perbankan gagal dalam mengendalikan risiko dari aktivitas komoditas sehingga solusinya adalah melepas bisnis komoditas dari kepemilikan bank.

Karakteristik dari Komoditas yaitu harga adalah ditentukan oleh penawaran dan permintaan pasar bukannya ditentukan oleh penyalur ataupun penjual dan harga tersebut adalah berdasarkan perhitungan harga masing-masing pelaku Komoditas contohnya adalah (namun tidak terbatas pada): mineral dan produk pertanian seperti bijih besi, minyak, ethanol, gula, kopi, aluminium, beras, gandum, emas, berlian atau perak, tetapi juga ada yang disebut produk "commoditized" (tidak lagi dibedakan berdasarkan merek) seperti komputer.

Risiko nilai tukar juga semakin sulit diabaikan bagi manajemen risiko. Eichengreen (2005) memodelkan kurangnya fleksibilitas nilai tukar dengan melihat pada reaksi suku bunga yang ditujukan untuk menimbangi variabilitas pada pasar mata uang asing.

Dampak neraca yang meningkatkan nilai liabilitas eksternal ril mata uang domestik telah menarik perhatian analist dalam beberapa tahun terakhir ini, yang mencari mekanisme melalui melemahnya mata uang domestik dapat mengakibatkan kontraksi pada aktivitas ekonomi (inilah, adanya “devaluasi kontraksi”).

Menurut Eichengreen (2005), Mohanty dan Klau (2004) dan Cavoli dan Rajan (2005a), dampak ini dapat diintrepretasikan sebagai dampak negatif keseluruhan dari melemahnya output nilai tukar riil dalam jadwal permintaan agregat.

Hal ini sejalan dengan Calvo’s (2001) yang menyatakan bahwa masa melemahnya nilai tukar dapat mengakibatkan pada meluasnya kebangkrutan. Céspedes et al. (2000) malah mengembangkan fokus yang lebih sempit pada peran liabilitas dolarisasi output melalui dampaknya pada risiko premia, dan menemukan bahwa tidak mungkin untuk lebih melemahkan nilai tukar untuk menyebabkan resesi.

Istilah hedging atau lindung nilai sebenarnya mempunyai tujuan yang satu yaitu untuk melindung “nilai” dari pelaku pasar agar tidak mencapai kerugian dari nilai yang diharapkan atau jika terjadi kerugian maka kerugian tersebut dapat diminimalisir. Baik Detken dan Gaspar (2003) maupun Eichengreen (2005) mengases situasi dampak neraca yang merugikan sebagai memunculkan respon rendah dari output nilai tukar.

Pada kasus ini, terdapat lebih sedikit kasus untuk meningkatkan tingkat suku bunga untuk menghadapi kerugian riil dan kejutan keuangan. Lebih jauh lagi, Eichengreen (2005) menganalisis secara eksplisit depresiasi kontraktif.

Sebagai suatu organisasi, perusahaan pada umumnya memiliki tujuan dalam mengimplementasikan manajemen risiko. Tujuan yang ingin dicapai antara lain adalah: mengurangi pengeluaran, mencegah perusahaan dari kegagalan, menaikkan keuntungan perusahaan, menekan biaya produksi dan sebagainya. Manajemen risiko adalah proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan.

Sementara itu tokoh dari kelompok Better Market Dennis Kelleher mengingatkan: “Wall Street went to war against Washington and financial reform; it has had many significant victories and, yes, some defeats; but, most importantly, Wall Street’s war continues unabated with no end in sight. Wall Street’s too-big-to-fail banks simply have too much money at stake, literally hundreds of billions if not trillions of dollars, to stop fighting.”

Apa yang dilakukan oleh Bank sentral Amerika Serikat dengan melarang bank berbisnis komoditas mulai tahun 2014 ini memperlihatkan bahwa manajemen risiko perbankan tidak siap dan tidak mampu dalam mengendalikan risiko perdagangan komoditas sehingga satu-satunya solusi yang paling aman adalah dengan melepas bisnis komoditas dari perbankan.

Kasus yang baru saja terjadi di Amerika ini memeperlihatkan akan pentingnya peran regulator perbankan yang di Amerika Serikat di lakukan oleh Bank Sentral. Dalam konteks bisnis komoditas yang didampingi oleh risiko nilai tukar, maka risiko sistemik hanya dapat dihindari dengan membuat regulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan yang berorientasi pada sektor perbankan yang prudent.