Awas Investasi Bohong

Banyak Orang Pintar Jadi Korban

Sabtu, 01/03/2014

NERACA

Edukasi akan untungnya berinvestasi terus diberikan oleh lembaga-lembaga keuangan. Namun, hal tersebut juga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan dari investor yang masih hijau, lewat investasi beragam.

Tergiur tawaran investasi dengan hasil tinggi, bahkan dengan janji tak mungkin rugi, lagi-lagi membuat banyak orang gigit jari. Itulah cerita berulang yang terus terjadi di dunia investasi di Indonesia. Korban investasi bodong tidak sedikit, kerugian yang diderita korban pun cukup besar.

Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadadmenuturkan, adanya investasi bodong bukan berarti OJK telah lalai dalam melakukan tugasnya. Dia menjelaskan, sebagian besar investasi tersebut tidak pernah mendapat izin resmi dari OJK.

"Oleh karena itu banyak keluhan masyarakat yang akhirnya OJK mau tidak mau bekerja sama dengan penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan dan lainnya. Kalau ada indikasi pidana akan kita proses," tambah dia

Investasi bodong ini bisa terjadi karena dua hal. Ada orang bodoh atau dibodohi dan orang bohong atau menipu. Bodoh dan bohong ini disingkat menjadi bodong. Bodoh bukan berarti berpendidikan rendah atau tidak pintar. Kenyataannya, banyak orang pintar jadi korban. Bodoh dalam arti tidak mau tahu dan tidak berusaha mencari tahu kredibilitas orang dan bisnis tempatnya menanamkan dana.

Menurut Muliaman, perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur investasi yang menjanjikan keuntungan besar namun tidak jelas. "Jangka panjangnya, masyarakat nanti akan paham dan tak akan beli dan mengerti bahwa ini tidak jelas. Makanya edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar tidak mudah diiming-imingi return yang sangat tinggi. Tetapi kalau tak jelas tolong telepon ke OJK saja. Penyedia harus jelas, produknya juga," pungkas dia