Ancaman Defisit Neraca Jasa Makin Melebar

Kamis, 27/02/2014

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Hendri Saparini mengingatkan Indonesia terancam defisit neraca jasa yang semakin lebar saat pemberlakuan perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015. Pasalnya, sejak lima tahun terakhir negeri ini sudah menderita defisit neraca jasa dengan tren yang melebar. Sedangkan pemerintah sendiri tidak ada inisiatif untuk memperbaiki masalah tersebut.

“Defisit neraca jasa termasuk salah satu sektor yang memberatkan ekonomi makro kita. Bayangkan selama 5 tahun terakhi trennya terus meningkat dengan capaian US$11,42 miliar pada 2013, atau meningkat 10,55% dibanding akhir 2012 mencapai US$10,33 miliar. Artinya selama ini pemerintah memang tidak punya rencana untuk memperbaiki masalah ini,” ujarnya di Jakarta, Rabu (15/2).

Hendri menilai tingginya defisit neraca jasa Indonesia yang secara persisten terjadi selama 5 tahun terakhir ini akan semakin lebar dengan diterapkannya MEA pada 2015 nanti. Sebab dengan terintegrasinya ekonomi di kawasan ASEAN sebagai satu kesatuan pasar akan meningkatkan intensitas pedagangan barang dan investasi. Pada akhirnya juga berdampak pada peningkatan aktifitas perdagangan sektor jasa yang cenderung defisit semakin lebar.

“Defisit neraca perdagangan jasa ini berpotensi semakin lebar lagi dengan diperluasnya liberalisasi sektor jasa dalam MEA. Saat ini saja defisit kita sudah melingkupi basis logistik, kesehatan, penerbangan, pariwisata serta teknologi informasi dan komunikasi. Sebetulnya ini masalah lama yang tak kunjung usai dan tak pernah diperbaiki,” tutur Hendri.

Dia menjelaskan, saat ini Indonesia menjadi negara paling berprestasi dalam hal defisit neraca jasa di banding negara ASEAN lainnya. “Kita paling berprestasi sebagai negara yang menderita defisit neraca jasa tertinggi di ASEAN. Bahkan sejak 2005 hingga sekarang trennya relaitif stabil di level US$10 miliar. Sedangkan Filipina yang sebetulnya negara baru mengembangkan ekonominya sudah bangkit ke arah surplus sekitar US$4 miliar,” ujarnya.

Tidak Mengerti

Pada kesempatan yang sama, pengamat ekonomi Core M. Faisal melihat Indonesia sangat memiliki kemampuan untuk meredam defisit neraca jasa itu. Salah satunya dengan mengoptimalkan kinerja sektor perjalanan. Terlebih Indonesia memiliki potensi pariwisata yang tak tertandingi dan banyak pilihan.

“Malaysia saja yang potensi pariwisatanya kecil bisa menghasilkan devisa mencapai US$8,7 miliar per tahun. Masa kita cuma bisa menghasilkan US$1,5 miliar saja. Ini artinya tidak ada pengelolaan pariwisata yang baik di Indonesia,” ujarnya.

Faisal mengatakan, melalui sektor perjalanan yang mampu menghasilkan devisa sebesar US$8,7 miliar, Malaysia mampu meredam defisit neraca jasa menjadi US$4,56 miliar. Tanpa dukungan sektor perjalanan semestinya Malaysia bisa mengalami defisit hingga sekitar US$9,06. “Karena pemerintah Malaysia ngerti genjot kinerja pariwisatanya maka defisit itu bisa diredam. Nah pemerintah kita sepertinya tidak mengerti itu,” ujarnya.

Dia menilai data Badan Pusat Stastistik (BPS) yang mengatakan pariwisata Indonesia sukses mencatat sejarah dengan keberhasilan menarik kunjungan wisatawan mancanegera (wisman) pada tahun 2013 kemarin sebesar 8,8 juta orang sebagai prestasi naïf. “Malaysia yang minim pariwisata saja mampu menarik wisman sampai 24,7 wisman pada 2011. Jadi catatan BPS itu jangan dilebih-lebihkan sebagai prestasi,” ujarnya.

Pengamat ekonomi UI Eugenia Mardanugraha menjelaskan, untuk mengurangi defisit neraca jasa Indonesia, pemerintah seharusnya berpihak pada penggunaan jasa orang Indonesia. “Jangan sedikit sedikit pakai jasa asing,” ujanya.

Selain itu, dia juga menjelaskan, pemerintah wajib mengecilkan utang. “Jadi proyek proyek itu diharapkan membangunnya jangan pakai utang apalagi utang luar negeri,” tambah dia.

Eugenia menjelaskan, defisit neraca jasa memang terjadi di berbagai sektor misalnya konstruksi. “Ada beberapa sektor yang harusnya dikerjakan oleh orang Indonesia, misalnya konstruksi, komunikasi dan semua sektor dimasuki asing, jadi otomatis kita bayar jasa termahal ke asing,” tambah dia.

Menurut pengamat Indef, Enny Sri Hartati, defisit neraca jasa akan terus mengalami peningkatan seiring meningkatnya volume perdagangan. Pasalnya, meningkatnya volume perdagangan tersebut tentu akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan jasa di perdagangan yang saat ini kebanyakan dipenuhi oleh asing. Terlebih, defisit neraca jasa ini seringkali tertutupi karena neraca barang yang terlihat mengalami surplus cukup besar.

“Setiap tahun volume perdagangan meningkat, baik dari sisi ekspor maupun impor sehingga kebutuhannya juga meningkat. Nah, yang jadi permasalahan, untuk kebutuhan jasanya tersebut didominasi oleh asing sehingga defisitnya mengalami peningkatan.” jelasnya.

Dari moda transportasi di pelabuhan misalnya, kata dia, kebanyakan dipenuhi oleh kapal asing. Seperti juga di pelayaran, “Kita punya Pelni. Yang harus diperhatikan, tidak hanya untuk perdagangan internasional, tapi juga antarpulau sehingga harga jeruk dari Medan misalnya, tidak lebih mahal dari harga jeruk yang diimpor dari China.” tuturnya.

Demikian juga di sektor asuransi, kemasan, dan lisensi merek dagang. “Yang paling sederhana, kemasan dan bagaimana hak cipta atau merek dagang itu kenapa harus dari Singapura. Nilai kemasan misalnya, bisa jadi 30% dari harga.” ungkapnya.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya defisit neraca yang semakin melebar, menurut Enny, adalah mengoptimalkan peran BUMN dalam bidang jasa, terutama yang terkait dengan sektor perdagangan. “Kalau kita bisa take over, tidak hanya akan menyerap tenaga kerja tapi juga bisa menambah penerimaan devisa negara.” tandasnya. sylke/lulus/lia