Gandeng 24 Bank Umum, Mandiri Perluas Layanan Repo

NERACA

Jakarta - Dalam rangka memperluas layanan repurchase (repo) Bank Mandiri menggandeng 24 bank umum. Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, dengan kerjasama tersebut maka transaksi repo atau reverse repo Bank Mandiri bisa diakses oleh 55 bank. “Termasuk 26 buah bank pembangunan daerah,” kata Budi dalam siaran persnya Rabu (26/2).

Dia juga menjelaskan, layanan repo tersebut diharapkan bisa membantu industri perbankan nasional untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, khususnya pendanaan jangka pendek, sehingga dapat melaksanakan fungsi intermediasi tanpa terganggu oleh permasalahan likuiditas.

Selain itu, Budi juga menjelaskan transaksi repo ini, bisa menjadi salah satu sumber pendanaan dan alternative penempatan dana. “Bisa jadi salah satu cara untuk menempatkan dana di pasar uang antar bank, sehingga diharapkan mampu mendukung upaya pendalaman sektor keuangan Indonesia,” jelas dia.

Implementasi Mini MRA itu sendiri dilakukan dengan memanfaatkan penggunaan kontrak standar dalam transaksi repo atau reverse repo antar bank. Hal itu dilakukan untuk mempermudah dan meminimalkan potensi resiko dari pelaksanaan transaksi repo atau reverse repo antar bank.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memfasilitasi penandatanganan kesepakatan bersama Mini MRA (Master Repurchase Agreement) tahap II oleh 38 bank di Jakarta. Dengan bergabungnya 38 bank tersebut, jumlah pelaku pasar yang sepakat untuk menggunakan perjanjian standar Mini MRA dalam bertransaksi repo (repurchase agreement) menjadi 46 bank.

Selain bertambah jumlahnya, kepesertaan bank juga semakin luas dan telah mewakili seluruh kelompok bank Buku 1 sampai dengan Buku 4 dan telah mencakup Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Umum Swasta Nasional, Bank Asing/Campuran dan Bank Persero. Dengan penggunaan Mini MRA sebagai perjanjian standar, pelaksanaan transaksi menjadi lebih praktis karena bank peserta hanya perlu sekali saja untuk menandatangani perjanjian. Pelaksanaan transaksi repo selanjutnya dapat mengacu pada MRA sebagai payung dalam melakukan transaksi.

“Fasilitasi perluasan peserta Mini MRA ini adalah salah satu upaya Bank Indonesia untuk mempercepat pendalaman pasar uang rupiah”, jelas Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo.

Agus menjelaskan kedepannya, dengan meluasnya penggunaan Mini MRA, kami berharap market line repo antar bank akan terbentuk. “Sehingga pada saatnya nanti implementasi Global MRA akan lebih mudah diterapkan, bahkan dengan institusi keuangan non bank,”tambahnya.

Dengan adanya implementasi Mini MRA terbukti mendorong peningkatan transaksi repo secara signifikan. Rata-rata harian volume transaksi repo sampai dengan pertengahan Februari 2014 mencapai Rp740 milyar, meningkat hampir 6 kali lipat dibandingkan pada periode 2013, atau kumulatif sampai dengan Februari 2014 (mtd) telah mencapai Rp27 triliun.

Sementara itu, perkembangan suku bunga repo (repo rate) juga mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Repo rate yang sebelumnya cenderung lebih tinggi, saat ini telah berangsur turun dan konvergen dengan suku bunga interbank PUAB bahkan untuk beberapa tenor berada dibawah suku bunga PUAB yang uncollateralized. Perkembangan yang membaik tersebut diharapkan akan semakin mendorong bank-bank lain untuk bergabung dan lebih aktif melakukan transaksi repo.

Bank yang berpartisipasi pada penandatanganan Mini MRA tahap II ini adalah Bank Agris, Bank Antardaerah, Bank Artha Graha Internasional, Bank BNP Paribas Indonesia, Bank Capital Indonesia, Bank CIMB Niaga, Bank Commonwealth, Bank Danamon Indonesia, Bank Ganesha, Bank Hana, Bank ICB Bumiputera, Bank ICBC Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Kesejahteraan Ekonomi, Bank Mayapada Internasional, Bank Mega, Bank Mutiara, Bank Nusantara Parahyangan, Bank OCBC NISP, BPD Daerah Istimewa Yogyakarta, BPD Kalimantan Selatan, BPD Sulawesi Tenggara, Bank Permata, Bank Pundi Indonesia, Bank QNB Kesawan, Bank SBI Indonesia, Bank Sinarmas, Bank Sumut, Bank Tabungan Negara, Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Bank UOB Indonesia, Bank Victoria International, Bank Windu Kentjana International, Bank Yudha Bhakti, Bank Nusa Tenggara Barat, BPD Sulawesi Tengah, BPD Sumatera Selatan & Bangka Belitung dan Bank BRI Agroniaga. [sylke]

Related posts