Aneh, Mutiara Dijual dengan Nyicil

NERACA

Jakarta - Pengamat menilai imbauan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menjual Bank Mutiara secara bertahap (cicil) sebagai rencana aneh. Pasalnya mekanisme penjualan perusahaan industri keuangan berbeda dengan industri sektor riil. Sehingga rencana ini dapat dianggap sebatas kejar deathline.

“Mekanisme penjualan bank dengan cara dicicil itu sangat aneh. Karena dalam ketentutan ada keharusan penjualan bank menghasilkan benefit. Sedanngkan mekanisme cicil sangat rentan mengalami kerugian,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Hendri Saparini usai acara seminar "Meredam Defisit Neraca Jasa: Menciptakan Terobosan di Sektor Pariwisata" di Jakarta, Rabu (26/2).

Hendri menjelaskan pada dasarnya harga suatu perusahaan keuangan sangat ditentukan oleh indikator jangka pendek. Misalnya dimanika kinerja tahunan, votalitas kurs dan sentimen ekonomi yang tengah berlangsung. Sehingga penentuan aset perbankan sangat tidak mungkin dilakukan seperti menghitung fix aset (aset tetap).

“Kalau melalui cicil valuenya sangat tidak jelas. Masalahnya ini industri keuangan maka asetnya tidak bisa dilihat seperti barang mati fix aset yang dapat terukur jelas penyusutan atau pertambahan nilainya dalam kurun waktu tertentu. Sebab industri keuaagan sangat dipengaruhi oleh votalitas kurs, dan sintemen ekonomi jangka pendek lainnya. Jadi dia bisa berubah-ubah nilainya menjadi sangat tinggi dalam seketika. Dan jika itu terjadi sedangkan LPS sudah sepakat dengan harga tertentu jelas sangat rugi," tutur Hendri.

Lagipula Hendri mempertanyakan motif pencetus ide tersebut. Pasalanya LPS harus melakukan studi banding dengan negara lain dan mempelajari jaminan kesuksesannya. “Ini harus dipelajari supaya tidka seolah-olah hanya mengejar deadline,” tukasnya.

Lebih jauh Hendri menilai sulitnya LPS menjual Bank Mutiara disebabkan nasib bank tersebut sangat ditentukan oleh kebijakan politis. Sedangkan investor sangat ragu untuk membeli bank yang terlibat sekandal politik. Sehingga wajar jika selama 5 tahun terakhir penawaran saha Bank Mutiara tidak pernah laku.

“Masalah bank ini selalu diselesaikan secara politik sih karena memang kinerjanya sarat dengan skandal politik. Tapi kalau saja hal ini bisa diselesaikan secara bisnis murni sebetulnya akan sangat membuka peluang bagi investor. Jadi saya rasa wajar Bank ini tidak pernah laku divestasi selama 5 tahun terakhir,” ungkap Hendri.

Meski begitu Hendri sendiri tidak mengatahui persis harga ideal Bank Mutiara. “Kalau harganya sendiri saya tidak bisa lihat karena saya kurang pelajari kinerja internal Bank Mutiara. Untuk menghitung itu juga banyak instrument yang harus diperhatikan apakah kurs value atau riil value. Misalnya dengan menghitung jumlah kantor cabang beserta nilainya. Juga menghitung dinamika kinerjanya,” tutup Hendri. [lulus]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Survei BI : Optimisme Konsumen Menguat

      NERACA   Jakarta - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2019 mengindikasikan optimisme konsumen menguat, tercermin…

Indonesia – Jepang Sepakati Transaksi Dagang Pakai Uang Lokal

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menyepakati kerangka kerja…

Tinggalkan Otomotif, Radana Finance Fokus UMKM dan Syariah

    NERACA   Jakarta – PT Radana Bhaskara Finance Tbk (Radana Finance) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi industri multifinance…