Menggerakkan Solidaritas Sosial

Oleh: Riyanto, Relawan Pemberdayaan Masyarakat Miskin, alumnus Universitas Jember

Kamis, 27/02/2014

Setelah Gunung Sinabung meletus lalu disusul Gunung Kelud, lantas gunung berapi apa lagi yang akan meletus di Indonesia? Tentu, kita berharap bencana tak akan terjadi lagi di negeri ini. Sebagai bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa kita juga wajib berdoa agar terhindar dari bencana alam.

Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), awal Februari 2014 telah menyatakan bahwa terdapat 19 gunung api yang statusnya kini ditingkatkan menjadi 'Waspada' atau pada level II sejak Minggu (2/2). Sementara itu ada 3 gunung berapi dengan status 'Siaga' (level III). Kemungkinan-kemungkinan untuk terjadi bencana gunung meletus masih sangat terbuka lebar.

Kondisi tersebut hendaknya bukan hanya menjadi suatu peringatan agar kita selalu waspada menghadapi bencana tapi juga menjadi pendorong untuk menggalang kesetiakawanan (solidaritas) sosial. Kepedulian untuk menolong sesama perlu dibangkitkan kembali. Tanpa ada solidaritas sosial yang kuat niscaya kita akan kesulitan membantu korban bencana. Apalagi, kita sekarang berada dalam fase kritis bencana alam. Sewaktu-waktu gunung berapi bisa meletus. Sementara itu bencana alam lainnya seperti banjir dan tanah longor pun masih bisa terjadi. Bisa dibayangkan betapa sulitnya kita melepaskan diri dari beban itu tanpa adanya kepedulian dan cinta kasih yang kuat di antara sesama.

Pemerintah tak akan sanggup bekerja sendirian tanpa bantuan masyarakat. Penanganan korban bencana letusan Gunung Kelud yang masih banyak kelemahan menandakan bahwa pemerintah membutuhkan bantuan semua komponen bangsa. Distribusi bantuan kepada korban yang lambat dan tak merata adalah indikasi perlunya keterlibatan kelompok-kelompok masyarakat yang lebih besar, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Potensi kestiakawanan sosial masyarakat Indonesia sesungguhnya cukup besar. Hal itu dapat dilihat dari beberapa fakta yang bisa kita pantau melalui laporan media massa. Bantuan terus mengalir ke korban bencana alam baik melalui rekening yang dikelola oleh media maupun sejumlah LSM atau yayasan.

Lembaga-lembaga sosial terus bergerak menggalang bantuan masyarakat untuk korban bencana. Kelompok-kelompok masyarakat secara spontanitas juga berpartisipasi menggerakkan orang-orang untuk peduli kepada para korban. Singkatnya, hampir semua komponen bangsa sudah terpanggil untuk meringankan beban masyarakat yang tertimpa bencana.

Solidaritas sosial masyarakat tersebut perlu disyukuri karena kepedulian adalah modal penting untuk meringankan masyarakat yang sedang ditimpa kesulitan. Kita sudah selayaknya mempertahankan kondisi tersebut agar jangan sampai luntur apalagi lenyap. Kita perlu menggerakkan potensi kepedulian untuk menghadapi dampak bencana alam yang kompleks.

Selanjutnya, secara masif potensi-potensi itu harus dihimpun dan dikembangkan agar solidaritas sosial itu bisa berkesinambungan. Semangat masyarakat untuk berbagi perlu terus dihidupkan agar terus terjaga. Jangan sampai solidaritas sosial itu hanya untuk sesaat saja. Lebih dari itu, solidaritas sosial bisa menjelma menjadi modal sosial untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa tak berhenti pada persoalan bencana alam saja.

Pemimpin formal seperti gubernur dan bupati harus bergerak bukan dengan imbauan atau ajakan untuk peduli tetapi dengan sikap yang mengedepankan sense of crisis. Mereka harus mengambil langkah terdepan untuk menunjukkan kepeduliannya melalui tindakan nyata. Bagaimanapun pemimpin yang memberi contoh langsung akan diikuti oleh masyarakat dibanding pemimpin yang hanya pandai berorasi tanpa aksi. Sebuah teladan dari seorang pemimpin sangat efektif untuk menggerakkan solidaritas sosial. Masyarakat kini lebih menyukai sosok pemimpin yang bisa menginspirasi dibanding pemimpin yang hanya bisa menyuruh. Masyarakat mudah disentuh oleh sebuah keteladanan daripada oleh sebuah perintah.

Peran sekolah juga sangat strategis untuk menumbuhkan semangat solidaritas. Karakter peduli dan cinta kasih bisa ditanamkan di sekolah. Para guru bisa menumbuhkan solidaritas sosial siswa-siwanya melalui kegiatan belajar mengajar.

Mereka (para guru) dapat memberi motivasi agar anak didiknya mau berpartisipasi membantu masyarakat yang ditimpa bencana sekaligus memberi contoh langsung dengan mengumpulkan sumbangan sukarela di sekolah-sekolah. Praktik langsung bisa dijakan media siswa untuk belajar berbagi, belajar peduli, belajar mengembangkan empati.

Yang tak kalah pentingnya adalah peran media. Peran media juga sangat dibutuhkan untuk menggalang kepedulian masyarakat. Media bisa mengabarkan arti penting solidaritas di tengah-tengah bencana. Media bisa mengabarkan bahwa para korban sangat membutuhkan uluran tangan masyarakat. Selain itu, media juga bisa mengangkat kisah-kisah derita korban bencana alam. Dengan demikian masyarakat akan tergugah dan terpanggil untuk membantu. Simpati dan empati masyarakat akan tumbuh dengan menyaksikan berita di media.

Contoh daerah yang berhasil mengerakkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya sudah ada. Cohtoh daerah yang sukses menggerakkan masyarakat agar kembali mengembangkan budaya daerah juga telah ada. Kini sudah saatnya masyarakat perlu digerakkan agar memiliki jiwa sosial. Solidaritas sosial sudah selayaknya menjadi karakter dasar masyarakat Indonesia. Sebab, Pancasila sebagai dasar negara Indonesia telah menuntun kita untuk memperkuat solidaritas bangsa.

Harapan ke depan solidaritas sosial ini bisa kita galang dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, semoga kesetiakawanan ini bisa menembus batas dan sekat suku, agama, ras, kelompok, dan etnis. Sehingga, pada akhirnya solidaritas sosial ini ini benar-benar menjadi aset nyata untuk menghadapi persoalan-persoalan bangsa yang kian hari kian berat. (haluankepri.com)