Bahasa Lokal Jadi Pengantar Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 01/03/2014

NERACA

Setiap bahasa memiliki keunikan sendiri. Tidak ada satu bahasa pun yang lebih baik dari bahasa lainnya. Ciri-ciri keunikan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan berbagai aspek kehidupan manusia tercermin dalam bahasa. Dalam konteks Indonesia, bahasa ibu selalu mengarah pada bahasa daerah tertentu atau disebut bahasa lokal.

Punahnya satu bahasa mengakibatkan hilangnya berbagai konsep mengenai keunikan aspek kehidupan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Menyusut bahkan hilangnya kepercayaan diri untuk menggunakan suatu bahasa, khsusnya bahasa lokal, dilatarbelakangi oleh beberapa anggapan negatif.

Dalam percakapan sehari-hari misalnya. Orang lebih cenderung menggunakan kata-kata asing daripada kata-kata dalam bahasanya sendiri, karena kata-kata itu dianggap lebih “gaul”. Padahal, bahasa ibu adalah bahasa yang pertama kali dipelajari oleh seseorang sejak kecil yang menjadi dasar pemahamannya secara alamiah.

Direktur Kantor Perwakilan UNESCO Jakarta Hubert J. Gijzen menuturkan, bahasa lokal memiliki peran penting sebagai pengantar menuju ilmu pengetahuan. “Sejumlah penelitian mendukung hipotesa bahwa ilmu pengetahuan di usia dini dapat lebih mudah diajarkan atau ditangkap oleh para siswa, apabila disampaikan dengan bahasa lokal mereka, bahasa yang mereka gunakan dalam percakapan keseharian,” kata dia

Untuk itu, tepat di Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) yang jatuh pada 21 Februari, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani masalah pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO) bersama Kemdikbud, mempromosikkan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar bagi pendidikan di tingkat dasar.

“Selain itu UNESCO juga mempromosikan persatuan dalam keberagaman serta mendorong pemahaman tingkat internasional, multilingualisme dan multikulturalisme,” ujar Hubert dalam acara peringatan ke-14 HBII dengan tema "Bahasa Lokal untuk Kewarganegaraan Global: Titik Terang Ilmu Pengetahuan".