Industri Properti Bakal Melambat di 2014

Prediksi Pelaku Usaha

Kamis, 27/02/2014

NERACA

Jakarta – Kalangan pengusaha properti memprediksi, pada tahun 2014 ini pertumbuhan industri properti akan mengalami perlambatan. Selain karena 2014 adalah tahun pemilu, masalah lain yang mengganjal pertumbuhan sektor ini adalah adanya pengetatan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari perbankan.

Country Director Century 21 Indonesia, Hendry Tanzel, menjelaskan secara umum industri properti nasional di tahun pemilu ini akan berjalan lambat. Berkaca pada internalnya saja transaksi Century 21 pada tahun ini mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan tahun 2013. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan Bank Indonesia terkait pengetatan uang muka dan larangan KPR inden, termasuk adanya Pemilu tahun ini.

"Di tahun 2013 pertumbuhan 30%, target tahun ini ada perlambatan. Karena ada tahun politik tahun ini dan ada pengetatan dari bank Indonesia tentang KPR sehingga ada seleksi dari pasar sekunder,” kata Hendry saat konferensi pers Ciputra World, di Jakarta Rabu (26/2).

Kendati melambat, Hendry tetap optimistis industri properti di Indonesia akan terus tumbuh. Target pada tahun 2014, Century 21 Indonesia akan tumbuh 20%. "Memang akan ada perlambatan, tapi kita tidak pesimistis dan yakin tetap akan tumbuh dari tahun sebelumnya, tahun ini tumbuh sekitar 20% di tahun ini," imbuhnya.

Adapun demikian, dia mengungkapkan secara total transaksi industry property nasional di 2013 mencapai Rp 40 triliun untuk seluruh broker properti di Indonesia. "Nilai transaksi seluruh industri properti di Indonesia Rp 40 triliun itu untuk keseluruhan," ungkapnya.

Dua Faktor

Sebelumnya Konsultan Properti Internasional, Anton Sitorus Head of Research Jones Lang Lasalle, juga memprediksi pasar properti di Indonesia akan melambat ini dikarenakan gejolak ekonomi dunia termasuk yang melanda kawasan Asia Pasifik.

Dia menilai dua faktor utama penyebab perlambatan itu adalah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga. kedua faktor internal tersebut memaksa para pelaku pasar menahan rencana ekspansi atau pembelian di sektor properti. "Ditambah lagi akan ada pemilu di tahun ini sehingga membuat volume permintaan pasar di sektor properti," ujarnya.

Berdasarkan hasil survei lembaganya di Jakarta, Anton menyebut, tren perlambatan penjualan di sektor perkantoran, pusat perbelanjaan dan apartemen terjadi sejak kuartal III 2013. Dia memperkirakan tren ini masih akan terjadi di 2014.

Di sektor perkantoran komersial, dia menjelaskan, permintaan tetap positif namun terjadi penurunan volume. Begitu pula dengan tingkat hunian yang stabil karena tambahan pasokan tidak banyak.

Sedangkan pertumbuhan harga sewa ruang kantor akan melambat mengikuti tren semester II 2013 seiring dengan penundaan peluncuran proyek baru dari para pengembang. "Sedangkan di sektor pusat perbelanjaan, perkiraan saya permintaan ruang masih akan relatif stabil cenderung melambat, tingkat hunian tetap berada di level seperti tahun lalu. Harga sewa naik tipis karena pembangunan proyek baru masih terbatas," tutur dia.

Sementara sektor residensial (kondominium dan perumahan), Anton bilang, akan mengalami penurunan penjualan sementara akibat dari peluncuran proyek atau kluster baru tidak sebanyak 2013. Kenaikan harga masih berlangsung meski terganjal penjualan yang melambat.

Senada mengenai hal itu, memasuki tahun ini, Country Head Jones Lang LaSalle, Todd Lauchlan menuturkan, perlambatan pasar berpeluang untuk berlanjut dalam beberapa triwulan ke depan. Kondisi ekonomi dan sosial-politik menjelang pelaksanaan pemilu diperkirakan meningkat sehingga dinamika bisnis termasuk sektor properti akan sedikit mereda.

"Secara umum permintaan dan pertumbuhan harga properti diperkirakan menurun pada tahun ini dibanding 2013. Tapi momen setelah pemilu bisa menjadi awal baru pertumbuhan pasar properti dengan asumsi pelaksanaan pemilu berjalan positif dan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut," harapnya.

Akan tetapi, Todd memprediksikan momen setelah pemilu bisa menjadi awal baru pertumbuhan pasar properti dengan asumsi pelaksanaan pemilu dan hasilnya berjalan positif, dan pertumbuhan ekonomi terus berlanjut. “Prediksi sejumlah institusi ekonomi global terhadap Indonesia memberikan optimisme yang kuat untuk investor baik dalam negeri maupun internasional untuk mengembangkan bisnis di Indonesia, yang tentunya akan memberikan imbas positif bagi sektor properti tanah air,” tutupnya.