Permata Prima Siap Belanja Modal US$ 2 Juta

NERACA

Jakarta – Tahun ini, PT Permata Prima Sakti Tbk (TGKA) berencana akan mengganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sekira US$ 2 juta. Jumlah ini menurun dibandingkan capex pada tahun 2013.

Direktur Permata Prima Sakti Aris Munandar mengatakan, penurunan capex ini lebih kepada beberapa proyek yang tengah penyelesaian dan sedang tahap finalisasi,”Di tahun 2013 itu sekitar US$ 5-7 juta lebih banyak pembangunan fasilitas infrastruktur pertambangan, seperti pelabuhan (port) dan ditahun ini untuk finalisasi saja,”ujarnya di Jakarta, Selasa (25/2).

Aris menambahkan, untuk mendukung pendanaan ini akan berasal dari dana internal dan eksternal seperti mendapatkan perpanjangan kreditur dari perbankan,”Untuk target produksi kami sendiri di angka 2 juta ton batu bara," paparnya.

Menurut Aris, target 2 juta ton hampir sama dengan target di 2013. Hal ini dilakukan karena melihat kondisi pasar batu bara yang belum menunjukkan peningkatan harga batu bara serta pembatasan dari pemerintah agar tidak melakukan jor-joran produksi pada tahun ini,”Produksi sama karena harga tidak akan jauh dari tahun lalu, percuma juga kita produksi jor-joran, kebanyakan suplai harga batu bara makin turun juga. Kita lakukan dengan efisien biaya. Karena kami melakukan ini dengan jangka panjang,”paparnya.

Untuk hasil produksi batu bara sendiri menurut Aris lebih banyak melakukan ekspor ke luar negeri sebesar 75% dan sisanya 25% untuk domestik,”Ekspor ke Taiwan, Thailand, Malaysia, dan India, karena lokasi kami di Sumatera. Untuk domestik ada Semen Padang, Sinarmas Pulp and Paper, PLN, dan Pasar Ritel lainnya," pungkasnya.

Sebagai informasi, volume penjualan batu bara TKGA di kuartal ketiga tahun ini sekitar 650.000 metrick ton (MT), meningkat dibandingkan dengan volume penjualan batubara di kuartal kedua tahun ini sekitar 580.000 MT. Namun menurun jika dibandingkan dengan kuartal pertama yang mencapai lebih dari 640.000 MT.

Selain itu, tercatat pendapatan bersih perseroan per 30 September 2013 mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jumlahnya dari sebesar US$ 128,60 juta menjadi US$ 151,84 juta.

Untuk menghadapi turunnya harga batu bara dunia saat ini, perseroan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. Caranya melalui efisiensi biaya melalui perubahan mine plan (rencana tambang), aplikasi teknologi tambang serta perampingan biaya logistik. Perseroan juga memiliki strategi untuk mempertahankan captive market seperti Thailand, Malaysia dan pasar domestik yang memberikan harga terbaik. Pihaknya juga akan melakukan kesepakatan dengan kreditur untuk memperpanjang jangka waktu pinjaman untuk memperkuat modal kerja perseroan. (bani)

BERITA TERKAIT

Tekan Impor Barang Modal, Pemerintah Ingin Pacu Produksi Lokal - Terkait Neraca Perdagangan

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan produksi barang subtitusi impor perlu didorong untuk mengurangi kebutuhan barang modal dan…

Tembaga Semanan Raih Laba US$ 22,9 Juta

Sepanjang tahun 2017 kemarin, produsen tembaga-aluminium terbesar di Indonesia PT Tembaga Mulia Semanan Tbk membukukan laba kotor sebesar US$ 22,…

Royal Prima Targetkan Laba Bersih Rp 45 Miliar - Tambah Layanan Fasilitas Kesehatan

NERACA Jakarta - Sukses mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Royal Prima Tbk (PRIM) langsung agresif mengejar pertumbuhan bisnis…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Atas Nama Kepentingan Masyarakat - Pemprov DKI Lepas 26,25% Saham Delta Djakarta

NERACA Jakarta – Komitmen pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk tidak berinvestasi yang tidak menyangkut pada kepentingan masyarakat dibuktikan dengan keseriusan…

CLEO Bukukan Laba Bersih Rp 12,56 Miliar

NERACA Jakarta – Pada kuartal pertama 2018, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) membukukan laba bersih tumbuh sebesar 44,56% menjadi Rp…

Produk Lindung Nilai LQ45 Bakal Dirilis

Dalam rangka meningkatan pertumbuhan transaksi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal meluncurkan produk single share option untuk…