BTN Miliki Empat Direksi Baru - Hasil RUPST

NERACA

Jakarta - Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2014 PT Bank Tabungan Negara Tbk menyetujui perubahan pengurus perseroan dengan mengangkat empat orang direksi yaitu Hulmansyah, Sri Purwanto, Rico Budidarmo dan Imam Nugroho Soeko. Menurut Direktur Utama BTN, Maryono, untuk selanjutnya akan dilakukan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terlebih dahulu oleh Otoritas Jasa Keuangan.

”Hulmansyah dan Sri Purwanto merupakan kader dari internal Bank BTN. Sementara Rico Budidarmo sebelumnya bertugas di Bank BRI dan Imam Nugroho Soeko bertugas di Bank Mandiri. Keputusan perubahan pengurus Bank BTN ini menjadi jawaban sekaligus melengkapi jumlah direksi yang ada selama ini. Saya berharap dengan telah terpenuhinya jumlah direksi, Bank BTN akan berjalan normal dengan performa kinerja 2014 yang lebih baik,” ujar Maryono di Jakarta, Selasa (25/2).

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan, RUPST tidak membicarakan masalah pengembangan bisnis perseroan dengan pola akuisisi atau merger seperti pemberitaan yang beredar selama ini. Oleh sebab itu, BTN tetap akan fokus sebagai housing bank yang memberikan dukungan pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia, terutama dalam mendukung program perumahan nasional melalui skim FLPP.

”Kami ingin bagaimana Bank BTN dapat berperan lebih besar dalam memberikan dukungan terhadap program perumahan nasional. Backlog penyediaan rumah bagi masyarakat merupakan potensi bisnis yang sangat besar dan kami akan bekerja keras menjadi pendamping Pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan rumah tersebut,” tegas Maryono.

Dia menambahkan RUPST menyetujui penggunaan 30% dari laba bersih perseroan atau sekitar Rp468 miliar akan dibagikan sebagai dividen tunai kepada pemegang saham. Sementara sisanya sesuai dengan UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas dialokasikan untuk cadangan umum.

Hingga 31 Desember 2013, BTN dimiliki oleh 10,5 miliar pemegang saham, dengan pemegang saham mayoritas adalah Pemerintah Republik Indonesia sebesar 60,14%. Sementara sisanya 39,86% dimiliki publik dengan komposisi 36,05% domestik dan 63,95% dimiliki investor asing. [kam]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Survei BI : Optimisme Konsumen Menguat

      NERACA   Jakarta - Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada November 2019 mengindikasikan optimisme konsumen menguat, tercermin…

Indonesia – Jepang Sepakati Transaksi Dagang Pakai Uang Lokal

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menyepakati kerangka kerja…

Tinggalkan Otomotif, Radana Finance Fokus UMKM dan Syariah

    NERACA   Jakarta – PT Radana Bhaskara Finance Tbk (Radana Finance) menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi industri multifinance…