Pasokan Susu Nasional Masih Andalkan Impor

Rabu, 26/02/2014

NERACA

Jakarta – Produksi susu nasional sangat rendah, oleh karennya kebutuhan susu nasional hingga sampai saat ini 80% masih mengandalkan pasok dari impor. Selain produksi yang minim, kendala lain karena peternakan susu sapi masih terpusat di Jawa.

"Saat ini kan 80% kebutuhan susu nasional masih dipasok dari impor, hanya 20% dari produksi lokal," ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro, di Jakarta, Selasa (25/2).

Syukur mengatakan, salah satu masalah tingginya impor susu saat ini karena peternakan sapi lebih banyak terpusat di Pulau Jawa. "Karena terpusat di Jawa, produksinya tidak maksimal, seperti di Lembang, jenis sapinya bagus, tapi karena pakan hijauan di Jawa terbatas sehingga produksinya tidak maksimal hanya 8-12 liter per ekor per hari," ucapnya.

Oleh karennya agar tidak terlalu fokus di Jawa saja, Kementerian Pertanian akan menyebarkan peternakan sapi di luar Pulau Jawa. "Kita mulai mengekstensifikasi, sebarkan sapi-sapi unggul ke peternak di luar Pulau Jawa, paling bagus memang di daerah dataran tinggi, hampir semua pulau di Indonesia ada, daerah di luar Jawa lahannya luas, pakan hijauan tidak ada masalah," katanya.

Salah satu contohnya seperti di Sumatera Barat, saat ini makin banyak peternak susu sapi, bahkan permintaan susu segar makin meningkat. "Di Sumatera Barat itu banyak peternak sapi, karena mereka mengandeng cafe-cafe susu di sana, sama peternaknya juga diolah jadi permen susu, zuppa sup dan olahan lainnya. Bahkan harganya pun sangat tinggi, kalau jual sendiri harga susunya hanya Rp 3.800-Rp 4.200 per liter, kalau menggandeng kemitraan dengan cafe harganya Rp 8.000 per liter. Ini juga berkembang di Sumatera Utara dan Jambi," tutupnya.

Sebelumnya Dahlan Iskan Menteri BUMN mengatakan, dalam 2 tahun terakhir produksi sapi nasional terus menurun 400 ton per hari. menurutnya banyaknya sapi perah yang dipotong jadi alasan penurunan produksi tersebut. "Kebutuhan susu kita sekarang ini kebanyakan masih impor," kata Dahlan.

Dahlan mengatakan sapi perah yang masih tersisa pun masih rendah produktivitasnya. Satu sapi perah di Indonesia hanya memproduksi sekitar 12 liter susu segar per hari. Dengan kata lain, hanya separuh yang bisa diproduksi sapi perah di Belanda, yang tiap harinya menghasilkan hingga 25 liter susu segar.

Ia menengarai, rendahnya produktivitas sapi perah Indonesia lantaran peternak masih malas. Ia menyebutkan, setiap 3 bulan kuku-kuku sapi perah harus dipotong, agar memberikan kenyamanan bagi sapi. "Misal petani kita malas memotong kuku sapi. Padahal itu tiap 3 bulan kuku sapi harus dipotong, Karena kalau kukunya terlalu lebar sapinya enggak nyaman, karena enggak nyaman produksi susunya enggak banyak," tukasnya.

Berdasarkan data yang ada konsumsi susu masyarakat 10,47 kg per kapita per tahun, padahal Filipina, Malaysia,dan Thailand masing-masing sudah mencapai 20 kg, 23 kg, 20-25 kg per kapita per tahun. Bahkan konsumsi masyarakat singapura dan India masing-masing sudah mencapai 32 kg dan 75 kg per kapita per tahun. Indonesiapun masih mengimpor bahan baku susu olahan dimana setiap tahunnya tak kurang dari 1,85 juta ton bahan baku susu diimpor, terutama dari Australia dan Selandia Baru.

Adapun pemerintah menargetkan swasembada susu tahun 2020. Sedangkan Populasi sapi perah saat ini di Indonesia berdasarkan hasil sensus BPS tahun 2011, sebesar 496.000 ekor persentase sebesar 80% ada di Pulau Jawa dengan produksi susu segarnya 1800 ton per atau setara dengan nilai 6 milyar rupiah. Untuk bisa mencapai swasembada susu tahun 2020, maka populasi sapi perah haruslah mencapai 2,3 juta ekor pada tahun 2020. Komitmen politik untuk mendukung penganggaran dalam mencapai populasi tersebut diperlukan untuk memperbanyak jumlah peternak dan jumlah populasi sapi saat ini.