Anggito Tidak Perlu Mundur

Oleh: Elmi Frida Purba, Mahasiswa Fisipol UGM Yogyakarta

Rabu, 26/02/2014

Berita di hampir semua media massa menyoroti tentang kemunduran Anggito Abimanyu sebagai dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), kampus yang terkenal dengan budaya kesantunan, kejujuran dan menjunjung tinggi integritas. Tak salah jika banyak menaruh kepercayaan yang tinggi terhadap dosen dan seluruh akademika di kampus ini, hal ini dapat dilihat banyaknya mahasiswa berminat kuliah di kampus UGM ini termasuk dipercaya menghasilkan kualitas intelektual yang diakui secara nasional dan internasional. Hal yang wajar jika seorang dosen dan seluruh akademika untuk tetap menjaga nama baik kampus UGM.

Dugaan kesalahan Anggito karena salah mengutip referensi tulisan dari Hatbonar Sinaga yang sudah terbit pada harian yang sama pada tanggal 21 Juli 2006 berjudul “ Menggagas Asuransi Bencana” dan Anggito menuliskan judul “ Gagasan Asuransi Bencana”. Bila melihat dari judul tidaklah menjadi masalah jika bagian isi pembahasan dalam opini menandakan adanya perbedaan pendapat dari masing-masing penulis, bukan mengutip persis sama artinya mengutip secara keseluruhan ataupun sebagian.

Meskipun mengambil kutipan tidak salah jika dicantumkan nama penulis atau referensinya dengan benar. Kesalahan terbesar jika penulis tidak mencantumkan referensi dan mengutip secara utuh (persis sama) dan menganggap tulisan itu hasil opini atau karyanya sendiri padahal karya orang lain. Kesalahan ini perlu diperhatikan agar menjadi sebuah pembelajaran penting bagi setiap penulis dan seluruh masyarakat agar memahami kaidah dan etika yang berlaku.

Harus diakui bahwa Anggito memiliki kesalahan dalam hal ini jika memang terbukti dan pernyataan pengunduran dirinya sudah diterima oleh Pratikno selaku rektor UGM dan keputusan pengunduran ini akan dilakukan pembahasan dan diambil keputusan dari Sidang Akademik (SA). Memang harus diakui bahwa Anggito termasuk dosen terbaik di kampus Ekonomi dan Bisnis UGM, dari para pendapat dikatakan bahwa ia sebagai asset kampus karena diakui memiliki kemampuan intelektual dan integritas. Penampilan bersahaja, menebar senyum dan dekat dengan mahasiswanya. Penulis hanya beberapa kali melihat beliau di kampus, mengikuti seminar “ anti korupsi” narasumbernya adalah beliau meskipun belum pernah berbicara ataupun berdiskusi. Namun menurut pendapat penulis bahwa beliau adalah benar aset kampus UGM karena kemampuan intelektualnya tidak kalah bahkan masih dibutuhkan.

Tidak Perlu Mundur

Harus diakui bahwa setiap manusia tidak luput dari kesalahan dalam perjalanan hidupnya dan mendapat hukuman jika memang terbukti bersalah. Tetapi harus dilihat juga secara keseluruhan aspek kesalahan, dampak, kejujurannya dan aspek etika sosialnya. Anggito telah mengakui bahwa ini benar kesalahan yang dilakukannya sendiri sehingga memilih mundur dari dosen UGM.

Menurut penulis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari kondisi ini yaitu : pertama, kejujuran seseorang harus dihargai. Tulisan beliau yang terbit di opini Harian Kompas pada 10 Februari 2014 kemudian beliau langsung memberikan penjelasan dan menyatakan mengundurkan diri pada 17 Februari 2014. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak ingin nama baik kampus UGM tercemar hanya karena kesalahan yang dilakukannya sendiri dan beliau mengutamakan kejujuran dari pada berspekulasi kondisi membela diri tidak bersalah.

Kedua, seorang akademik (dosen) harusnya tidak masuk pada jajaran birokrat sebagai pengambil keputusan dan posisi penting, sebagaimana diketahui bahwa seorang akademik tidak perlu masuk pada posisi birokrat karena dapat mencemari pola kebiasaan birokrat yang jauh dari kaidah ilmiah kampus atau dengan kata lain bahwa banyaknya spekulasi dan kompromi di birokrat karena membudayanya transaksi fee gelap dan berkaitan dengan politik (membela mementingkan politik pribadi ataupun partai).

Politik pribadi yaitu korupsi, kolusi, nepotisme dan mempertahankan jabatannya. Ketiga, media massa perlu lebih selektif dalam menerbitkan opini para penulis dalam hal ini peran editor media lebih berhati-hati karena opini yang pernah diterbitkan tidak perlu diterbitkan lagi. Peran editor media massa sangat diperlukan agar berita ataupun opini dapat bermanfaat bagi semua kalangan dan sama-sama diuntungkan.

Dengan demikian bahwa menurut penulis bahwa sebaiknya Anggito tidak perlu mundur sebagai dosen di kampus Ekonomi dan Bisnis UGM hanya saja diberikan sanksi yang dapat sebagai pembelajaran bagi siapapun jika memang terbukti bersalah. Diharapkan agar Anggito untuk benar-benar kembali ke dunia akademik, jika mulai tahun 2012 beliau menjabat sebagai Dirjen Haji dan Umroh di Kementerian Agama RI untuk urusan haji Indonesia maka cukuplah beliau sebagai penasehat ataupun sebagai pengawas kebijakan.

Semoga hal ini menjadi pembelajaran bagi semua kalangan bahwa plagiat merupakan kesalahan dan perlu diperhatikan bersama.(analisadaily.com)