Pengusaha Properti Usul Bunga KPR Single Digit

Selasa, 25/02/2014

NERACA

Jakarta - Urbanisasi tinggi terutama di Kota besar Indonesia tidak diimbangi dengan penyediaan tempat tinggal. Akibatnya jumlah warga yang tidak punya rumah di Indonesia masih sangat besar. Pasalnya Bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah) yang saat ini sangat tinggi menjadi biang keladi masyarakat tidak mampu memiliki rumah. "Orang sekarang makin susah dapat rumah, karena saat ini bunga KPR tinggi sekali," kata komisaris utama Pemilik Ciputra Group, Ciputra, di Jakarta, Senin (24/2).

Ciputra mengungkapkan ideal bunga KPR harusnya di bawah 10% alias single digit, sehingga beban masyarakat untuk kredit rumah lebih ringan. "Bunga itu harusnya di bawah 10%, jadi orang mudah bisa kredit rumah," ungkapnya.

Menurtnya, harusnya pemerintah bisa menekan bunga kredit rumah lebih rendah, karena kepala keluarga saat ini makin banyak tidak memiliki rumah. "Harusnya pemerintah itu bisa turunkan bunga, kasihan banyak di kita tidak punya rumah, angkanya lebih dari 10 juta yang kepala keluarga tidak punya rumah," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama Direktur PT Ciputra Residence Agussurja Widjaja menambahkan, perseroan mendapati kebutuhan rumah di Indonesia bertambah sekitar 800.000 per tahun. Kebutuhan rumah yang tinggi ini menjadi dasar optimisme perseroan untuk terus membangun perumahan di Indonesia.

"Pembeli kita sebagian besar adalah end user. Efeknya ada tapi tidak sebesar target market segmen yang lain. End user adalah orang-orang yang butuh rumah. Backlog sekarang 14 juta, tiap tahun bertambah 800.000, jadi demand tetap ada," ungkapnya.

Fase Perlambatan

Sebagian pengamat menilai Industri properti me­nyambut 2014 dengan pesimistis. Pasalnya, setelah tiga tahun terakhir booming hingga menyentuh puncak­nya di 2013, siklus properti diramal­kan mulai memasuki fase perlambat­an. Meski begitu, potensi pertum­buhan di beberapa jenis properti masih cukup menjanjikan.

Ketua Umum Persatuan Perusaha­an Real Estat Indonesia (REI) Eddy Hussy memproyeksikan, industri properti hanya bisa tumbuh 5%-10% di 2014. Sedikit lebih optimistis, Tu­lus Santoso Brotosiswojo, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Ciputra Development memperkirakan, per­tumbuhan industri properti hanya sedikit di atas inflasi, yaitu 10%-15%. Sebagai perbanding­an, tahun lalu, pertumbuhan industri properti diyakini di atas 20%.

Beberapa faktor yang menjadi pe­nyebab perlambatan bisnis properti, antara lain peraturan loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah (KPR), pelarangan KPR inden, kena­ikan tingkat suku bunga, pelemahan nilai tukar rupiah, serta pemilihan umum (pemilu).

Sekedar mengingatkan, pada 30 September 2013, Bank Indonesia (BI) merilis aturan mengenai LTV progresif untuk KPR. Artinya, kon­sumen harus menyiapkan uang muka lebih besar untuk rumah kedua, keti­ga, dan seterusnya. Bukan hanya itu, bank sentral juga mengharamkan bank mengucurkan KPR untuk pro­perti inden alias properti yang belum rampung dibangun.

Tak cuma soal kebijakan BI, hajat­an pemilu tahun depan juga bisa menjadi hambatan bagi industri pro­perti. Eddy menyebut, pemilu bisa membuat orang mengerem pembeli­an properti, terutama oleh investor.

Arief Rahardjo, Senior Associate Director Research & Advisory kon­sultan properti Cushman & Wake­field, meramalkan, pengembang, in­vestor, maupun end user akan lebih memilih wait and see di 2014. "Seca­ra historis, pemilu 2004 dan 2009 memberi guncangan pada pasar pro­perti meskipun hanya untuk semen­tara waktu," ujar dia.

Khusus sektor residensial (peru­mahan), kata Arief, tekanannya lebih tinggi lagi lantaran skema KPR ma­kin ketat. Peningkatan harga yang sangat signifikan hingga mencapai 25% per tahun selama empat tahun terakhir diperkirakan akan melan­dai. Tahun 2014, kenaikan harga rumah diprediksi sekitar 18%.

Meski begitu, Eddy tetap percaya diri masih ada celah bagi industri properti untuk tumbuh di 2014. Penggerak utamanya adalah tinggi­nya angka backlog perumahan di In­donesia yang mencapai 15 juta unit. Dari kacamata investor, menanam investasi di properti juga masih lebih menguntungkan ketimbang menyim­pan uang di deposito.

Kondisi yang kurang menguntung­kan ini juga disadari oleh pengem­bang. Tengok saja, PT Agung Podo­moro Land Tbk yang mematok target pertumbuhan konservatif sebesar 10% di 2014. Proyeksi ini sejalan de­ngan asumsi pertumbuhan industri. Kenaikan suku bunga acuan BI tahun ini dinilai efektif meredam perminta­an konsumen.