Indeks BEI Belum Lepas Dari Profit Taking

Selasa, 25/02/2014

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 22,579 poin (0,49%) ke level 4.623,574. Sementara Indeks LQ45 berkurang 5,198 poin (0,66%) ke level 779,698. Aksi ambil untung yang dilakukan investor karena indeks yang sudah tinggi menjadi pemicu melemahnya indeks BEI.

Tercatat dana asing masih mengalir masuk lantai bursa sebanyak setengah triliun rupiah,”Sifat dari koreksi indeks BEI karena ambil untung masih dalam tahap yang wajar setelah mengalami "rally" penguatan pada pekan sebelumnya," kata Research Department PT Asjaya Indosurya Securities, William Surya wijaya di Jakarta, Senin (24/2).

Secara umum, lanjut dia, IHSG BEI masih dalam tren menguat dengan ditunjang oleh volume pembelian yang masih cukup bagus dan masih adanya arus dana asing yang mencatatkan beli bersih pada awal pekan ini (24/2) sebesar Rp543,3 miliar,”Secara teknikal, potensi indeks BEI kembali meningkat mencoba menembus level 4.679 poin cukup terbuka," kata dia.

Analis HD Capital, Yuganur Wijanarko menambahkan, keadaan jenuh beli (overbought) pada pasar saham di dalam negeri mendorong indeks BEI mengalami tekanan pada awal pekan ini,”Pelaku pasar cenderung mengambil posisi ambil untung sehingga laju IHSG BEI tertahan," ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih berada di zona merah karena aksi ambil untung pelaku pasar yang belum berhenti. Dia menuturkan, pelaku pasar direkomendasikan untuk menunggu momentum sebelum melakukan akumulasi saham. Beberapa saham yang dapat diperhatikan diantaranya pada perdagangan Selasa (25/2) diantaranya, Erajaya Swasembada (ERAA), Bank Jatim (BJTM), Astra Otoparts (AUTO) , BW Plantation (BWPT).

Pada perdagangan kemarin, aksi ambil untung didominasi investor domestik. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih senilai Rp 500 miliar di seluruh pasar. Maraknya aksi jual terjadi menjelang penutupan perdagangan. Hanya dua sektor yang bertahan positif, yaitu agrikultur dan konsumer, sisanya jatuh ke zona merah.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 220.994 kali pada volume 3,797 miliar lembar saham senilai Rp 4,618 triliun. Sebanyak 116 saham naik, 171 saham turun, dan 88 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia bergerak mixed cenderung melemah. Sentimen negatif dari Wall Street akhir pekan lalu membuat pelaku pasar regional lakukan aksi jual.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 20.000 ke Rp 1,08 juta, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 300 ke Rp 11.200, Astra Agro (AALI) naik Rp 300 ke Rp 23.800, dan Mayora (MYOR) naik Rp 200 ke Rp 30.600. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 25.950, Waran Bekasi Fajar (BEST-W) turun Rp 620 ke Rp 200, Indocement (INTP) turun Rp 525 ke Rp 22.250, dan J Resources (PSAB) turun Rp 330 ke Rp 2.960.

Perdagangan sesi pertama, indeks BEI ditutup melemah tipis 9,726 poin (0,21%) ke level 4.636,427. Sementara Indeks LQ45 turun 2,729 poin (0,35%) ke level 782,167. Aksi beli terhadap saham-saham unggulan, tidak mampu bertahan lama mengamankan posisi indeks yang sudah bergerak di zona hijau pada awal perdagangan. Pasalnya, aksi ambil untung mulai muncul di saham-saham yang sudah naik tinggi tersebut.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 116.200 kali pada volume 2,176 miliar lembar saham senilai Rp 2,678 triliun. Sebanyak 115 saham naik, 133 saham turun, dan 90 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia masih bergerak mix hingga sesi pertama. Bursa saham China dan Hong Kong melemah paling dalam hingga sesi pertama.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 20.000 ke Rp 1,08 juta, Astra Agro (AALI) naik Rp 475 ke Rp 23.975, Multi Prima (LPIN) naik Rp 175 ke Rp 5.275, dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 125 ke Rp 9.550. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 525 ke Rp 26.125, Indocement (INTP) turun Rp 400 ke Rp 22.375, Surya Toto (TOTO) turun Rp 250 ke Rp 7.450, dan Mitra Adiperkasa (MAPI) turun Rp 200 ke Rp 6.800.

Kemudian diawal perdagangan, indeks BEI sebaliknya dibuka naik 6,62 poin atau 0,14% menjadi 4.652,78. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 1,72 poin (0,22%) ke level 786,61,”Secara teknikal IHSG BEI masih berpotensi mengalami kenaikan. Tetapi, mengingat posisinya yang sudah berada di area jenuh beli (overbought) dan mulai terkoreksinya beberapa bursa global dapat mengganggu laju indeks BEI," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Sementara itu, Head of Research Valbury Securities Asia, Alfiansyah mengatakan potensi kenaikan indeks BEI tertahan oleh faktor teknis karena IHSG telah jenuh beli,”Ancaman inflasi tinggi akibat bencana alam juga perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi suku bunga acuan bank, kredit konsumsi dan investasi. Hal itu selanjutnya akan berimplikasi pada tingkat konsumsi dan pertumbuhan perusahaan di sektor tertentu," katanya.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 202,88 poin (0,90%) ke level 22.365,36, indeks Nikkei naik 35,29 poin (0,24%) ke level 14.900,41 dan Straits Times menguat 5,47 poin (0,18%) ke posisi 3.105,58. (bani)