Mendag Klaim Omzet Pasar Tradisional Naik 57%

Pasca Direvitalisasi

Selasa, 25/02/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengklaim omzet pasar akan mengalami kenaikan rata-rata 57% setelah dilakukan revitalisasi. “Omzet transaksi di pasar tradisional sebelum dan sesudah direvitalisasi akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 57%,” ungkap Lutfi dalam keterangan pers yang diterima Neraca, kemarin (24/2).

Ia mengatakan revitalisasi pasar tradisional dapat membantu mempromosikan produk dalam negeri dan kuliner khas Indonesia. Selain itu, lanjut Lutfi, revitalisasi pasar juga dapat mendorong peningkatan daya saing para pelaku UKM agar mampu menghasilkan produk-produk berkualitas dan inovatif kepada konsumen.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, jumlah pasar tradisional yang tercatat mencapai 9.559 pasar. Sementara yang belum tercatat sekitar 3.000 pasar, artinya jumlah pasar mencapai 12.559. Sejauh ini, Kemendag telah melakukan revitalisasi pasar sebanyak 491 pasar dengan nilai anggaran mencapai Rp1,6 triliun. Pada 2014, Kemendag berencana akan melakukan revitalisasi sebanyak 80 pasar dengan anggaran mencapai Rp500 miliar.

Lutfi menggarisbawahi bahwa Kementerian Perdagangan akan terus memantau perkembangan program revitalisasi pasar. Namun, tentu saja keberhasilan pelaksanaan program revitalisasi pasar tergantung dari kerja sama yang sinergis dari seluruh pemangku kepentingan, baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, maupun para pengelola pasar, pedagang, dan konsumen.

Lebih jauh lagi, ia mengatakan program revitalisasi pasar tradisional yang dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan diambil melalui dana alokasi khusus dan tugas pembantuan juga ditujukan untuk mendorong percepatan pembangunan di daerah. “Pertumbuhan ekonomi di daerah akan memperkuat sektor perdagangan dan meningkatkan daya saing pasar domestik. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan dan kompetisi global yang semakin ketat,” ujarnya.

Sebelumnya Wakil Menteri Perdagangan juga sempat mengatakan bahwa revitalisasi pasar telah bermanfaat bagi para pedagang di pasar tersebut. Pasalnya setelah pasar di revitalisasi maka pendapatan pedagang ikut meningkat. “Berdasarkan pengalaman yang kita lihat, rata-rata omzetnya naik mulai dari 30% sampai dengan 250%,” imbuhnya.

Ditambahkan Bayu, revitalisasi pasar bukan sekedar membangun fisik tapi juga bagaimana mengajar masyarakat pasar yaitu pedagang dan konsumen mengelola pasar dengan baik. Pihaknya juga mengaku akan membangun sekolah pasar. Maksud dari sekolah pasar adalah membuat para pedagang menjadi pedagang yang baik. Misalnya dalam pemeliharaan pasar, pengelolaan pasar. “Hal itu adalah bentuk-bentuk agar tidak hanya fisiknya saja tetapi kegiatan di pasar tersebut jadi lebih baik,” tukasnya.

Saat ini keberadaan pasar tradisional semakin tenggelam seiring perkembangan dan menjamurnya pasar swasta atau modern. Konsumen mulai beralih ke pasar modern karena memiliki nilai lebih yang tidak ada di pasar tradisional. Perilaku konsumen diyakini bisa menenggelamkan eksistensi pasar tradisional.

Setidaknya ada enam hal yang tidak didapat pada pasar tradisional. Pertama, faktor kesehatan, kebersihan, dan keamanan konsumen. Faktor kedua, tertib hukum seperti pada ketepatan timbangan. Ketiga, pasar yang mempromosikan dan sebisa mungkin menjual produk dalam negeri. Faktor keempat, pasar yang peduli pada konsumen. Kelima, peduli pada lingkungan. Terakhir, pasar yang melindungi identitas masyarakat setempat. Pemerintah mengklaim tidak tinggal diam menjaga eksistensi pasar tradisional. Salah satunya melalui program revitalisasi.

Bangun Pasar

Disaat Kemendag ingin merevitalisasi pasar tradisional, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) juga ikut berkontribusi dalam memajukan ekonomi daerah salah satunya dengan membangun pasar tradisional dan lokasi pedagang kaki lima (PKL). Kemenkop akan membangun 60 pasar tradisional dan 88 lokasi PKL.

Menteri UKM Syarief Hasan mengatakan, khusus untuk wilayah Kota Bogor, pihaknya telah membangun 3 lokasi PKL dan 2 unit Pasar Tradisional di Kabupaten Bogor. Sedangkan dalam bidang pemasaran dan jaringan usaha, pihaknya akan membuka akses dan pangsa pasar produk KUKM yang lebih luas di luar negeri. “Saya sangat prihatin melihat kondisi PKL dan pasar tradisional kita. Padahal keberadaan mereka sesungguhnya adalah cermin kehidupan dan kekuatan ekonomi kita,” kata dia.

Untuk itu dalam pelaksanaan program penataan sarana usaha PKL dan revitalisasi pasar tradisional melalui koperasi ini akan menjadi solusi dan memberikan manfaat ganda. “Kita tahu bahwa tidak kurang dari 5,5 juta tenaga kerja di sektor perdagangan diserap oleh kegiatan pedagang pasar tradisional,” ujar dia.