Revitalisasi Tambak Masih Jadi Andalan Genjot Produksi

Perikanan Budidaya

Selasa, 25/02/2014

NERACA

Cirebon – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menggulirkan program revitalisasi taambak dalam rangka meningkatkan produksi perikanan. Adanya bencana alam yang menerpa para pembudidaya menjadikan produksi perikanan nasional sedikit terhambat. Kendati demikian dalam rangka mengejar target produksi tahun 2014 ini, DJPB terus melakukan perbaikan tambak dan menjalankan program revitalisasi tambak agar produksi perikanan dapat tercapai, bahkan terlampaui.

Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP mengatakan, bencana yang melanda daerah seperti banjir, gunung meletus mengakibatkan banyak tambak nelayan yang rusak, sehingga perlu ada perbaikan masal. Selain itu juga dalam rangka mengejar target produksi perikanan tahun ini tetap orientasi pada program revitalisasi tambak yang merupakan program andalan terutama perikanan budidaya.

“Secara umum bencana mengganggu produksi walaupun tidak signifikan, tapi tetap harus ada perbaikan. Selain itu juga agar produksi dapat terlampaui maka program revitalisasi tambak akan terus dijalankan,” kata Slamet sesaat setelah acara penyerahan bantuan kepada pembudidaya ikan korban banjir di desa Bendungan, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, Senin (24/2).

Adapun target produksi perikanan budidaya pada 2013 lalu mampu memproduksi sebanyak 13 juta ton sedangkan untuk tahun 2014 ini volume produksi perikanan budidaya naik dan ditarget sebesar Sekitar 16.8 juta ton, harapannya dengan program revitalisasi tambak nasional yang akan terus dijalankan dapat mencapai target produksi. “Selain perbaikan tambak akibat bencana, yang tidak kalah penting adalah program revitalisas tambak agar target tahun ini terlampaui,” paparnya.

Zonasi Tambak

Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo menegaskan, untuk lebih mendorong berkembangnya usaha budidaya ikan , KKP melakukan penyusunan Peraturan Menteri (Permen) yang isinya akan mengatur tahapan teknologi dalam usaha budidaya. Salah satu yang akan diatur dalam Permen ini adalah tentang zonasi tambak atau usaha budidaya. Sehingga nantinya tidak akan ada tumpang tindih penggunaan lahan dan penerapan system klaster akan lebih mudah dilakukan. Sistem ini juga akan menghindari adanya kontaminasi dan pencemaran yang dapat menyebabkan kegagalan dalam suatu usaha budidaya. Salah satu implementasinya adalah sistem tambak demfarm yang tengah dikembangkan KKP. “Sistem ini memberikan percontohan pola pengelolaan usaha budidaya tambak berbasis klasterisasi, memberikan contoh strategi mitigasi penyakit dan degradasi lingkungan, dan sebagai embrio bagi percepatan pengembangan kawasan budidaya udang,” jelasnya.

Menurut Sharif, program revitalisasi tambak ini merupakan bagian dari program revitalisasi perikanan, pertanian, dan kehutanan yang pernah dicanangkan oleh Presiden RI pada tahun 2005. Khusus untuk perikanan, baru pada tahun 2012, benar benar terealisasi dan program revitalisasi tambak dengan demfarm juga telah memberikan efek luar biasa bagi petambak maupun masyarakat di sekitar lokasi tambak demfarm. Terbukti dari tambak yang sebelumnya mangkrak dan kurang produktif, saat ini mulai produksi. Bahkan, peningkatan produksi tersebut berkorelasi positif dengan bertambahnya luasan tambak budidaya. “Program revitalisasi tambak juga mampu menyerap tenaga kerja baik musiman maupun pekerja tetap sebanyak 130.000 orang,” katanya.

Menurut Sharif, saat ini Indonesia memiliki potensi tambak nasional seluas 1,2 juta hektar, dengan luas existing tambak produktif 749.000 ha. Luasan tersebut juga merupakan lahan-lahan yang idle yang terbengkalai dan paling banyak di pulau Jawa, Kalimantan, Lampung, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan NTB. Untuk itulah KKP memberikan contoh pola pengelolaan budidaya tambak berbasis klasterisasi, memberikan contoh strategi mitigasi penyakit dan degradasi lingkungan. Revitalisasi tambak dilakukan dengan sistem budidaya ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable).