Petambak Pantura Jawa Disuntik Bantuan Modal Kerja Rp 22,2 Miliar

Selasa, 25/02/2014

NERACA

Cirebon – Bencana banjir yang melanda wilayah Jawa terutama pantura menyapu bersih tambak yang merupakan sentral produksi perikanan budidaya Jawa Barat. Agar produksi perikanan kembali berjalan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelontorkan anggran Rp 22,2 miliar agar tambak kembali produktif, dan tidak mengganggu target produksi perikanan nasional tahun 2014 ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo mengatakan bencana alam, seprti banjir yang menerpa wilayah Pantura Jawa secara umum sangat mengganggu produksi perikanan nasional, kendati demikian agar sentra produksi perikanan terutama budidaya wilayah pantura kembali berproduksi maka dari itu KKP mengalokasikan anggran Rp 22,2 miliar yang digunakan sebagai modal kerja bagi petambak dan nelayan yang kemudian digunakan untuk penyediaan sarana dan rehabilitasi saluran tambak.

“Secara umum adanya bencana banjir ini mengganggu produksi perikanan nasional, tapi kita masih punya waktu 10 bulan untuk dapat terus meningkatkan produksi perikanan oleh karenanya pemerintah giat untuk memberikan bantuan agar para petambak kembali berproduksi,” kata Sharif saat ditemui pada acara penyerahan bantuan kepada pembudidaya ikan korban banjir di desa Bendungan, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, Senin (24/2).

Menurut Sharif, bencana banjir yang melanda memang tidak bisa diprediksi, hanya saja kami dari pemerintah akan berupaya sedemikian rupa agar mampu memulihkan sentra-sentra produksi perikanan agar target produksi nasional bisa tercapai. “Kami dari pemerintah masih optimis target tahun ini masih dapat kami lampau bahkan bisa lebih, maka dari itu kami terus memantau perkembangan terkait dengan bencana banjir ini, dan sebisa mungkin meminimalisir kemungkinan dampak dari bencan banjir, salah satunya dengan memberikan bantuan ini,” imbuhnya.

Sharif mengatakan, alokasi bantuan sebesar Rp 22,2 miliar tersebut bersumber dari KKP sebesar 15,7 miliar serta dari Tahir Foundation Rp 6,5 miliar. Nantinya, Tahir Foundation akan memberikan bantuan/hibah selama 5 tahun dengan nilai per tahunnya Rp 20 miliar. Sehingga total Tahir Foundation akan memberikan hibah senilai Rp 100 miliar. Selain itu, Pemerintah juga memberikan bantuan berupa benih udang bandeng sebanyak 7,5 juta ekor untuk 5 kabupaten di Jawa Barat, yakni Kab. Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Indramayu, Kab. Subang dan Kab. Cirebon.

Adapun luas kawasan budidaya yang terkena dampak banjir tercatat 68.377 ha yang tersebar di 4 provinsi. Kawasan tambak di Provinsi Jawa Barat merupakan kawasan terparah terkena banjir, dengan kerusakan seluas 49.843 ha. Sedangkan kawasan tambak di Jawa Tengah yang rusak mencapai 15.143 ha, Banten 611 hektar dan Jawa Timur 2.377 ha. Kerusakan ini diperkirakan akan mengganggu produksi perikanan nasional, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun untuk ekspor. “Musibah banjir yang merusak kawasan tambak, tidak saja akan berdampak pada terhentinya kegiatan ekonomi dan berkurangnya pendapatan masyarakat pembudidaya untuk beberapa saat, tapi juga berdampak pada produksi ikan nasional,” jelasnya.

Sedangkan total perkiraan kebutuhan anggaran untuk pemulihan tambak pasca bencana banjir sebesar Rp 180 miliar. "Untuk menutupi kekurangan tersebut, KKP sedang mengajukan usulan anggaran tambahan kepada Kementerian Keuangan. Tentu saja dengan dukungan dan persetujuan DPR. Mudah-mudahan usulan ini dapat segera disetujui,” ujarnya.

Kerugian Terbesar

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP Slamet Soebjakto, mengatakan wilayah pantura ini merupakan daerah terparah yang terkena dampak bencana banjir, total kerugian yang harus ditanggung oleh para petambak mencapai sekitar Rp 432.409.287.500. “Dari daerah yang terkena bencana banjir, wilyah Pantura, Jawa Barat yang menelan kerugian paling besar dibandingkan daaerah lain,” katanya.

Sehingga penyerahan paket bantuan sarana produksi Kepada Pembudidaya Ikan yang terkena banjir di wilayah Pantura Jawa Barat ini, merupakan wujud rasa tanggung jawab dan kepedulian sosial kita bersama. Dimana awal tahun 2014 ini beberapa daerah dirundung musibah bencana berupa erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara, banjir bandang di Manado Sulawesi Utara, serta banjir besar di kawasan Pantura Jawa Barat, Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur serta erupsi gunung Kelud. Adanya musibah ini telah menimbulkan kerugian yang cukup besar terhadap kegiatan perikanan budidaya disamping tidak produktifnya tambak dan rusaknya infrastruktur seperti saluran irigasi, konstruksi tambak maupun jalan produksi di sentra produksi. “Bencana ala mini sangat menganggu produksi perikanan karena semua daerah-daerah yang terkena bencana gagal panen, oleh karenya kami melakukan perbaikan-perbaikan agar kembali berproduksi,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Slamet KKP bekerjsama dengan Kementrian Pekerjaan Umum (PU) melakukan perbaikan-perbaikan seperti saluran dan irigasi agar tambak-tambak yang terkena bencana kembali berproduksi. “Fokus kami saat ini melakukan perbaikan agar mampu menggenjot produksi setelah dirundung bencana,” tegasnya.