Perdana Karya Batalkan Jual Beli Saham RITS

NERACA

Jakarta-PT Perdana Karya Perkasa Tbk (PKPK) membatalkan Perikatan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) saham RITS Ventures Limited. Kesepakatan pembatalan atau pengakhiran ini diakui perseroan telah dilakukan pada 19 Februari 2014 oleh para pihak yang berwenang dari kedua manajemen. “Saat ini dokumen pengakhiran perjanjian sedang dalam proses penandatanganan.” kata Sekretaris Perusahaan PT Perdana Karya Perkasa Tbk, Herry Priambodo di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Perikatan Perjanjian Jual Beli Bersyarat ini, menurut dia, sebelumnya dilakukan dalam rangka rencana Penawaran Umum Terbatas (PUT) I perseroan. Seperti diketahui, emiten tambang batu bara ini tahun lalu memang berniat melakukan right issue. Namun, aksi koporasi ini tampaknya tersandung izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemegang sahamnya.

Dalam rencana rights issue-nya, perseroan menawarkan 22,65 miliar saham baru di harga Rp250 per saham, dengan potensi raihan dana sebesar Rp5,66 triliun. Namun, efek dilusi bagi pemegang saham dari aksi ini mencapai 97,67%. Sementara itu, hingga kuartal ketiga 2013, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp752,81 juta dibanding periode yang sama tahun lalu merugi Rp3,76 miliar.

Meski demikian, pendapatan usaha pada akhir September 2013 menurun 18,74% menjadi Rp184,73 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp277,34 miliar. Adapun beban pokok pendapatan usaha menjadi Rp152,98 miliar dari Rp181,55 miliar.

Dalam rencana pengembangan usahanya, manajemen perseroan sebelumnya mengaku akan menggarap blok-blok migas yang dikelola oleh Vico Indonesia dan Total E&P Indonesia di wilayah Kalimantan. Selain itu, perseroan juga berniat mengakuisisi PT Indowana Bara Mining Coal yang tercatat sebagai pemegang konsesi izin usaha pertambangan (IUP) yang berlokasi di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Perusahaan membutuhkan dana sekitar Rp 5,06 triliun akan digunakan untuk mengakuisisi RITS Ventures Ltd yang menggenggam 66,5% saham di Indowana Bara. Diperkirakan, luas areal konsesi tambang milik Indowana mencapai 5.000 hektare. Potensi sumberdaya batubaranya mencapai 447 juta ton berkadar kalori 4.800 kkal/kg-5.500 kkal/kg.

Rencananya, perseroan dapat memulai produksi batubara dari tambang Indowana pada awal tahun 2014 dengan nilai produksi mencapai 31,2 juta ton, dengan perkiraan pembangunan konstruksi tambang Indowana akan selesai pada kuartal pertama 2014. Setelah akuisisi ini tuntas, Perdana Karya akan mengembangkan industri hilir batubara berupa pabrik alkohol sintetis. Pabrik alkohol sintetis yang dibangun bersama investor asal Jerman ini bakal beroperasi mulai 2019. (lia)

BERITA TERKAIT

Bukaka Kuasai 25% Saham Poso Energy

PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kembali menguasai 25% saham PT Poso Energy. Sebelumnya, Bukaka sempat melepas 4,49% sehingga kepemlikan…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

Awal Pekan Ini, BEI Suspensi Saham Renuka

NERACA Jakarta - Setelah masuk pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi kenaikan harga saham di luar kewajaran, awal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…