Kemendag Pastikan Impor Gula Bakal Naik

Dampak Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman

Senin, 24/02/2014

NERACA

Jakarta - Industri makanan dan minuman (Mamin) tengah mengalami peningkatan lantaran permintaannya sedang meninggi. Akibatnya, impor gula atau raw sugar pada 2014 akan meningkat. Atas dasar itu, Kementerian Perdagangan telah bersiap untuk melakukan impor gula dan hingga sekarang masih menghitung angka importasinya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan bahwa pihaknya masih menghitung besaran impornya yang akan masuk ke Indonesia. Bachrul mengatakan kebutuhan impor gula pada tahun ini kemungkinan akan melebihi impor gula pada tahun lalu. Alokasi impor gula mentah (raw sugar) selama 2013 mencapai 2,26 juta ton. "Untuk tahun ini, kurang lebih tahun lalu ditambah 6,5%. Itu plus pertumbuhan di industri makanan dan minuman," tuturnya di Kementerian Perdagangan, Jakarta, akhir pekan kemarin.

Ditambahkan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Indonesia melakukan impor gula terdiri dari 4 jenis gula. Namun jenis gula tersebut belum termasuk gula untuk konsumsi masyarakat. "Kita itu importasi gula, kita ada beberapa hal yang kita perhatikan. Gula pertama itu jelas kebutuhan industri makanan dan minuman. Hampir selalu impor raw sugar nanti diolah," ucap Bayu.

Kemudian, jenis gula kedua yang akan diimpor adalah gula untuk kebutuhan industri farmasi. Menurut Bayu, gula untuk farmasi ini bersifat khusus dan mempunyai spesifikasi berbeda dengan gula industri. "Jenis ketiga itu kalau memang diperlukan importasi untuk industri kawasan perbatasan," jelasnya.

Jenis gula terakhir yang akan diimpor adalah gula keperluan pabrik untuk diolah menjadi gula konsumsi. Namun, Bayu meyakinkan, komoditas ini akan menyesuaikan produksi tebu dalam negeri sehingga masih dalam hitungan. "Semua ini harus dihitung. Bukan hanya satu jenis dan satu pola. Kita lihat nanti, tapi sampai sekarang belum ada yang mengajukan," tegasnya.

Lebih lanjut lagi, pihaknya menginginkan agar Badan Urusan Logistik (Bulog) bisa melakukan intervensi terhadap gula nasional. Pasalnya Kementerian Perdagangan telah memberikan izin kepada Bulog untuk mengelola pasokan gula nasional. Bayu mengatakan Bulog harus mampu menjaga harga gula nasional dengan cara apapun. Termasuk jika terpaksa harus mengimpor gula. "Bulog harus mempunyai kemampuan intervensi harga. Bukan memindahkan stok saja. Kalau mau impor itu tugas Bulog, dia harus datang kepada kita, pengadaan impor ke kita. Dia mengajukan ke kita," ucapnya.

Dia menyadari, tugas Bulog menjaga stabilitas harga gula terbilang cukup berat. Bahkan ada potensi kerugian yang harus ditanggung sendiri oleh Bulog jika terpaksa harus mendatangkan gula secara impor dengan dana sendiri. Sebab dalam APBN 2014, pemerintah tidak memasukkan biaya untuk pengadaan stok gula. "Dulu kan itu permintaan mereka, Konteksnya untuk buffer, tapi setahu saya APBN 2014 belum ada dana pengadaan stok gula. Tapi nanti ini kan stabilisasi, mungkin nanti kita bisa gunakan dana stabilisasi," tuturnya.

Harga Murah

Terkait penugasan Bulog, Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengakui harga gula impor jauh lebih murah daripada gula lokal. Bulog masih menimbang-nimbang terkait penugasan dari pemerintah untuk menyediakan stok gula hingga ribuan ton di 2014.

"Kalau dihitung-hitung impor, karena harga impor selalu lebih murah. Apalagi sekarang harganya di bawah dalam negeri. Mungkin sampai di dalam negeri, harga fluktuatif tetapi kira-kira Rp 8.000 lebih sedikit. Lokal harapannya Rp 8.900/kg. Saya harus lihat lagi ya," kata Sutarto.

Pihaknya akan tetap memprioritaskan mendapatkan pasokan gula dari dalam negeri, dengan memperhatikan kepentingan petani tebu lokal. Hal ini juga dilakukan saat melakukan pengadaan beras lokal. "Cari untung nomor dua tetapi kita pertahankan itu. Untuk kepentingan stabilisasi harapan untung banyak bukan arahnya ke sana," katanya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan bertemu dengan asosiasi pabrik gula nasional maupun petani gula. Hal itu dilakukan untuk mengetahui berapa besar kemampuan gula lokal yang bisa diserap oleh Bulog.

"Semua pasti maunya di dalam negeri, tetapi saya sudah merencanakan untuk bertemu dengan pabrik-pabrik gula. Jadi yang kedua dengan asosiasi petani, jadi kita utamakan itu lah. Kalau kurang baru misalnya tidak sanggup nanti kita laporkan di rakor misalnya terpaksa harus impor. Belum bisa kita alokasikan berapa uang impor dan dari gula lokal," imbuhnya.

Perum Bulog mendapat tugas dari pemerintah untuk mengamankan stok gula nasional di tahun 2014 oleh pemerintah sebanyak 350.000 ton.

Masih terkait gula, Muhammad Lutfi sebagai Menteri Perdagangan diminta untuk juga menyelesaikan masalah tata niaga gula yang masih berantakan. Hal tersebut seperti diungkapkan Ketua Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia(Apegti) Natsir Mansyur dalam keterangan resmi yang diterima Neraca, belum lama ini.

Natsir menilai bahwa dalam selama ini terjadi kekacauan dalam pengaturan tata niaga gula. "Kami berharap kepada Menteri Perdagangan yang baru, memperhatikan carut marut masalah pergulaan nasional yang terjadi setiap saat, mulai dari produksi, distribusi, logistik dan perdaganggan," ujar Natsir.

Dia menilai, saat ini masih banyak persoalan gula yang belum terselesaikan, seperti soal impor raw sugar dari 3 perusahaan yang berbasis bahan baku tebu, namun diberikan izin impor sebesar 240 ribu ton. "Ini kacau, proses hukum tidak jalan," lanjutnya.

Kemudian juga soal audit investigasi selama 3 tahun terkait perembesan gula rafinasi ke pasar umum, yang menurut Natsir belum ada penanganan yang jelas serta belum ada sangsi, sehingga gula kristal putih untuk konsumsi produksi petani hancur.