Pemerintah Klaim Stok Cabai Cukup

Produksi Terganggu Bencana

Senin, 24/02/2014

NERACA

Jakarta - Meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur membuat pasokan cabai jadi tersendat. Pasalnya, daerah tersebut merupakan salah satu sentra produksi cabai. Namun begitu, pemerintah mengklaim bahwa stok cabai dalam keadaan cukup. Hal tersebut seperti diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bayu mengatakan pemerintah masih menahan untuk melakukan impor cabai ditengah harga cabai yang mulai meningkat. Ia beralasan produksi cabai yang mengalami gangguan bisa digantikan dari beberapa daerah sentra produksi cabai yang tidak terkena gangguan. Terlebih adanya provinsi tertentu yang sedang mengalami panen cabai rawit.

"Yang terdampak dari letusan Kelud ini adalah produk hortikultura khususnya untuk cabai. Kita melihat di Jawa Barat sedang dalam periode yang bagus ditambah panen di Cianjur dan beberapa pedagang di sana menyatakan harganya turun karena masuk produksi. Kekurangan yang ditimbulkan karena gangguan Kelud di sentra produksi di Jawa Timur masih bisa ditutupi dari Jabar, Jateng (Jawa Tengah), Sumatera Selatan dan Sulawesi Utara. Sampai saat ini masih bisa dicover," jelas Bayu.

Bayu mengakui lonjakan harga cabai rawit khususnya di Jakarta lebih disebabkan karena terganggunya distribusi dari sentra produksi cabai ke pasar induk di Jakarta. "Harga ini melonjak karena ada gangguan distribusi satu dua hari ini termasuk karena banjir sebelumnya," imbuhnya.

Ia mengatakan kondisi perekonomian di daerah yang terkena dampak letusan Kelud kembali normal. Pasar-pasar yang awalnya tutup karena abu vulkanik gunung kini sudah mulai buka dan kegiatan jual beli kembali dilakukan. "Bencana alam ini sudah langsung ditangani oleh masyarakat dan Pemda dan belum ada satupun pasar yang berhenti beroperasi semuanya tetap berjalan. Pasar yang rusak kondisinya sudah mulai diberbaiki tetapi kegiatan di pasarnya berjalan seperti biasa," jelasnya.

Sebelumnya, Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI) Ngadiran mengatakan harga produk hortikultura yaitu cabai rawit mengalami kenaikan yang cukup signifikan beberapa hari terakhir. Kenaikan bahkan terlihat cukup parah dalam 2 hari terakhir. Hal ini disebabkan karena berkurangnya pasokan dari sentra produksi cabai rawit di Jawa Timur karena letusan Gunung Kelud. "Pasokan cabai rawit saat ini berkurang cukup besar karena bencana letusan Gunung Kelud. Daerah penghasil seperti Kediri dan Malang mengalami gagal panen," ungkapnya.

Menurut tabel harga Kementerian Perdagangan (Kemendag) di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, harga cabai rawit per tanggal 18 Februari 2014 adalah sebesar Rp 35.000/kg. Sedangkan pada tanggal 19 Februari 2014 naik menjadi Rp 43.000/kg. Padahal rata-rata harga cabai rawit pada bulan Januari 2014 hanya mencapai Rp 26.645/kg.

"Itulah mengapa harga melonjak tajam karena kurang pasok. Cabai rawit saat ini pasokan hanya mengandalkan Sukabumi tetapi dengan kualitas dan kuantitas yang kurang baik dibandingkan Jawa Timur," jelasnya.

Sementara itu produk hortikultura lain yang mengalami kenaikan adalah cabai rawit hijau dari Rp 20.000/kg menjadi Rp 21.000/kg, daun sledri dari Rp 9.000/kg menjadi Rp 10.000/kg, terong dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000/kg, dan kembang kol dari Rp 9.500/kg menjadi Rp 10.000/kg.

Sedangkan produk hortikultura lainnya seperti bawang putih, bawang merah, daun bawang, tomat, wortel, buncis, sawi putih dan kol bulat harganya cendrung stabil bahkan mengalami penurunan.

Menteri Perdagangan M Lutfi mengaku kesulitan mencari cabe untuk diimpor. Lantaran stok cabe di dalam negeri berkurang karena sebagian besar lahan cabe rusak akibat erupsi Gunung Kelud. "Produk cabe itu susah cari impornya nggak ada gantinya itu," katanya.

Lutfi menambahkan alasan cabe susah diimpor, karena produk dari luar negeri berbeda. Luar Negeri memakai cabe bubuk. "Orang Indonesia kan nggak mau makan cabai tapi diganti menjadi cabai bubuk. Jadi sulit substitusinya," lanjutnya.

Rencananya pemerintah akan mencari pasokan cabe dengan memaksimalkan produksi dalam negeri. Dalam hal ini pasokan cabe akan disuplai dari pulau-pulau lain di luar pulau Jawa. "Jika mungkin bagaimana kita mengerjakan antarpulau," tukasnya.

Picu Impor

Bencana alam yang secara berturut-turut melanda Indonesia berpotensi akan memicu lonjakan impor pangan. Pasalnya, bencana alam mulai dari banjir yang melanda sentra-sentra produksi beras di Pulau Jawa, letusan Gunung Sinabung, banjir bandang di Manado sampai terakhir meletusya Gunung Kelud, Jawa Timur yang juga membuat produk hortikultura mengalami gagal panen.

Pengamat Pertanian Bustanul Arifin menyatakan bahwa bencana-bencana tersebut yang terjadi di sentra-sentra produksi komoditas pertanian menjadi salah satu alasan untuk melakukan impor pangan sehingga impor pangan pada tahun ini akan melonjak. “Sepertinya tahun ini tetap akan impor pangan. Tahun lalu (2013) data BPS (Badan Pusat Statistik) impor beras sebanyak 472.000 ton. Kedelai impor masih sebesar 2 juta ton dan jagung 3,2 juta ton. Tahun ini diperkirakan impor masih berkisar angka itu,” ungkap Bustanul, pekan lalu.

Bustanul memperkirakan ada beberapa komoditas pangan yang angka impornya berpotensi melonjak. Hal itu dilakukan untuk menutupi jumlah kebutuhan akibat beberapa sentra produksi mengalami gagal panen.