Televisi Bukan Penuntut Perilaku

Oleh: Arifah Suryaningsih, Alumni MM UGM

Senin, 24/02/2014

Banyak kajian dan penelitian telah membutikan, bahwa kehadiran teknologi kotak ajaib bernama televisi bukan saja mempercepat penyebaran arus informasi, namun juga sekaligus mereduksi tata nilai masyarakat. Sayangnya sebagian besar masyarakat kita tidak menyadari bahwa perilaku dan kehidupannya telah dipengaruhi oleh tayangan televisi tersebut.

Kehadiran televisi telah melebur dalam setiap ruang keluarga. Begitu penghuninya membuka mata, maka akan menyala pula televisi di sana. Bahkan, suara-suara bising yang berasal dari kotak ajaib itu akan lebih mendominasi mengalahkan percakapan-percakapan ringan yang terjadi dalam keluarga. Sehingga momentum yang seharusnya bisa digunakan untuk menjalin komunikasi sebagai perekat penghuni rumah secara tidak langsung telah terebut oleh siaran televisi.

Bahkan kini, televisi tidak lagi sendiri. Kehadiran teknologi internet bersama komputer, laptop, telephone cellular, Blacberry, iPad, iPhone dengan segala macam aplikasi chatting, browsing dan juga kebebasan dalam bermedia sosial semakin menambah semarak dunianya para net-generation, anak-anak kita. Lemahnya kesadaran masyarakat akan hal ini, terjadi secara terus menerus, menahun sehingga hal ini menimbulkan dampak perubahan perilaku masyarakat. Televisi menjadi trendsetter mulai dari gaya rambut, gaya berbusana, gaya tutur. Menyeluruh hingga gaya hidup kita tanpa disadari lebih berkiblat kepada televisi.

Rhenald Kasali (2013) dalam bukunya, Camera Branding mengatakan bahwa kita tengah hidup dalam peradaban Social TV yang jauh lebih terlihat dan saling memperlihatkan. Perbuatan dan perkataan, mimik dan bahasa tubuh, individu close-up dan kerumunan wartawan yang mengejar berita, komentar para ahli, telah mempengaruhi mood kita sehari-hari. Ia mempengaruhi cara berpikir kita, anak-anak, murid-murid dan orang yang kita temui di jalan raya. Semua meniru-niru apa yang disaksikan di televisi.

Bahkan kini bukan hanya tayangan sinetron yang harus diwaspadai, acara hiburan lawakan pun banyak menyajikan kekerasan dan bullying dalam tindakan maupun perkataan, baik di skenario maupun spontan. Menampar, menendang, dan mengolok-olok kelemahan fisik lawan main sepertinya menjadi hal yang sangat lucu dan pantas ditayangkan. Hampir keseluruhan konten televisi kini senang menyajikan konflik dan ketegangan, pertempuran antar orang yang bertengkar, dari masyarakat kelas bawah hingga para elite negeri.

Kehadiran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sejak tahun 2002 yang diharapkan mampu memfilter siaran-siaran TV yang semakin kebablasan belum juga memenuhi harapan masyarakat. Karena komisi ini nyatanya bekerja masih kurang optimal dan masih kalah dengan kekuatan modal yang ada dibalik kondisi media massa di Indonesia lebih banyak berpihak pada kekuatan modal dan kekuatan politik tertentu.

Sehingga publik merasakan bahwa media tidak terlalu memperhatikan lagi agenda publik, namun bergerak menurut kepentingan internal media itu sendiri. Rating program menjadi aspek paling penting bagi kebijakan strategi program media. Hal ini tentu saja masih jauh dari harapan dan semangat yang diamanahkan Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 untuk menempatkan publik sebagai pemilik dan pengendali utama ranah penyiaran.

Apa yang baru saja dilakukan KPI dalam memberikan sanksi pengurangan durasi terhadap dua program siaran di dua stasiun swasta. Yakni Pesbukers yang ditayangkan di ANTV dan Dahsyat yang ditayangkan di RCTI perlu diapresiasi. Namun demikian, KPI seharusnya mempunyai taring yang lebih tajam untuk memfilter maraknya acara-acara abal-abal yang jauh dari unsur pendidikan. Independensi yang ada padanya harus benar-benar mampu mengayomi masyarakat.

Semua harus bergerak dengan cepat jika tidak mau kecolongan. Meminjam istilah Chairman The Society of Heads, David Boddy, bahwa negara-negara sedang dicengkeram oleh national attention deficit syndrome atau sindrom menurunnya konsentrasi karena anak-anak menghabiskan banyak waktu pada hiburan-hiburan di depan layar. Penurunan konsentrasi karena penjejalan konten-konten kekerasan akan berdampak kepada pendangkalan moral anak. Apalagi seorang anak adalah peniru ulung. Dengan melakukan pengamatan atau yang disebut juga modeling atau imitasi, seseorang (anak) secara kognitif menampilkan perilaku orang lain dan kemudian mungkin akan mengadopsi perilaku orang lain itu menjadi perilaku dirinya sendiri.

Literasi media sebagai upaya untuk menanamkan pengetahuan dan keterampilan tentang bagaimana berinteraksi dengan media, menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak. Lembaga negara seperti KPI, perguruan tinggi, sekolah, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat harus terus berusaha mengembangkan pendidikan literasi media bagi seluruh lapisan masyarakat.

Akhirnya ketika televisi harus terus dituntut memberikan inovasi terhadap beragam acaranya, demi peningkatan rating dan kepentingan bisnisnya, tanpa kajian yang mendalam terhadap relevansi pendidikan bagi anak dan masyarakat maka keluarga lah yang tetap harus menjadi ujung tombak nomor satu untuk merawat generasi mudanya dari bahaya laten televisi dan teknologi yang lebih muda lainnya.

Artinya filter yang paling ampuh itu sejatinya terletak pada ranah keluarga ini. Penanaman pendidikan moral sejak dini dan pendampingan secara masif harus terus dilakukan. Kita harus terus memantau, layak dan tidaknya siaran itu masuk ke dalam ruang keluarga kita. (haluankepri.com)