Bahaya Generasi Uang Tanpa Keimanan

Oleh: Muhammad Syukri Albani Nasution, Mahasiswa Program Doktor PPs IAIN

Senin, 24/02/2014

Harapan besar kita gantungkan pada Demokrasi di era Reformasi ini. Mengedepankan asas transparansi bernegara ternyata tidak memberi efek yang benar-benar baik bagi masyarakat. Kemapanan pengetahuan masyarakat tentang situasi politik bangsa ini, menjadikan masyarakat sangat pragmatis memandang politik. Semuanya sangat fungsional, semua dikaitkan dengan uang. Praktik ini sudah berakar, atas-bawah, kiri-kanan. Seolah bangsa ini berjalan dengan pragmatisme-nya sendiri.

Apatisme masyarakat sudah menyentuh pada sisi "kebangkrutan cara pandang". Kebanyakan masyarakat tidak lagi merasa penting melihat figur siapa yang akan di pilih pada pemilu ini, tidak lagi merasa penting melihat komitmen dan visi-misi yang dibangun, masyarakat hanya akan mengikut naluri komersialisme. "Apa dapat berapa, siapa dapat apa". Inilah bagian dari pengalaman penulis ketika berjalan mengunjungi berbagai wilayah di Sumatera Utara ini.

Jika ditanya penyebab, jawabannya sangat Kausalitas. Semuanya punya sebab-akibat. Kinerja buruk anggota legislatif membuat masyarakat "muak" memilih. Masyarakat hanya berafiliasi dengan kepentingannya. Masyarakat "tak sanggup" berfilosofis dengan makna keberhasilan kepemimpinan, mereka punya hitungan yang akurat, berhasil itu, tidak lapar, tidak sakit, tidak miskin dan semacamnya.

Jika di tanya pula, mengapa masyarakat sangat pragmatis memandang keberhasilan kepemimpinan itu, jawabannya, karena banyak calon anggota legislatif, eksekutif baik pusat dan daerah menjanjikan hal yang pragmatis. Padahal ukuran pragmatis tidak bisa sama. Bagaimana mau mengukur tidak miskin pada semua orang, dan semua orang sudah bergantung pada ukuran dirinya sendiri.

Di sisi lain, di mulainya "budaya bayar" dalam setiap kampanye, tidak sedikit akhirnya masyarakat, setiap menerima kunjungan calon legislatif, selalu yang di tanya, " di kasi apa- di bayar berapa". Hal ini terasa kejam sebenarnya. Sebab, pada saat para caleg ingin menawarkan visi misi dan program kerja, justru yang di tanya "mau beri apa". Hal ini pulalah yang membuat para caleg, jika terpilih merasa tidak bertanggung jawab, sebab mereka sudah mengeluarkan banyak uang kepada setiap pemilihnya, merasa "kontrak politiknya" sudah selesai, hingga yang di fikirkan tinggal membalikkan modal.

Ketika pertanyaannya siapa yang dipilih, apakah calon yang menawarkan uang atau calon yang memiliki tekad kuat untuk membangun bangsa, maka jawabannya akan sangat bergantung pada afiliasi politik pemilih. Dan hal ini pula yang menjadi sebab-akibat bagaimana carut-marutnya perpolitikan bangsa ini.

Politik Keimanan

Pada saat inilah kita harus disadarkan dengan nilai-nilai keimanan. Bukankah kita semua umat beragama. Semua agama kita mengajarkan kesucian, kejujuran, itikad baik, dan meninggalkan kejahatan. Seharusnya norma berpolitik di mulai dari nilai-nilai keimanan. Jangan pernah tinggalkan keimanan dalam berpolitik. Inilah yang membuat kita mengasimilasi kebenaran dan kemungkaran. Akhirnya kita sulit membedakan mana yang benar-salah. Ini pula yang membuat kita mempersempit cara pandang.

Masyarakat merasa senang dan berhasil jika di beri uang para caleg, para caleg-pun merasa nyaman dan cukup hanya membayar masyarakat untuk memilihnya. Akhirnya terjadilah komersialisasi politik. Ikatan kontrak politik hanya berhenti sebatas pilih memilih. Setelahnya, masyakat akan ditinggalkan, masyarakat hanya berharap tanpa realita.

Masyarakat harus sadar, bahwa pemilu ini bukan hanya sekedar coblos-menyoblos atau contreng-mencontreng. Lebih dari itu, "pelabuhan" bangsa ini akan ditentukan setelahnya. Kita-kita yang memandang politik sekedar uang, bersiaplah mendapatkan pemimpin koruptor jilid baru, karena mereka sedang mempraktekkan teori "rentenir". Pinjaman sudah diberikan kepada kita, saatnya dipulangkan melalui uang bangsa ini berlipat-lipat.

Jangan pernah menggantungkan keberhasilan hanya dengan uang. Meskipun uang bagian dari solusi kehidupan. Namun keimanan kita harus mampu menjadi benteng, agar bangsa ini dengan segala prilakunya kembali ke jalan yang benar. Jangan sampai kita hanya memilih karena uang. Jadilah nanti perwakilan kita di legislalitif para penyamun, preman jalanan yang menghampakan keimanan.

Keuangan tanpa ketuhanan akan membuat masyarakat hidup tanpa tujuan. life by money not life by faith. Teori ini harus dibalikkan. Kita masih punya jalan untuk memperbaiki bangsa ini. Biarkan para caleg yang terpilih akan menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat. Merasa terhutang karena kepercayaan masyarakat, bukan di dominasi oleh uang yang telah ditaburkan.

Bahaya Golput

Bahaya lainnya yang muncul. Ada suara-suara yang menyerukan untuk tidak memilih (golput). "Buat apa memilih, toh nanti memilih juga gak ada yang berubah, tetap gini-gini aja”. kalimat ini bisa saja benar, tapi lebih dekat pada kesesatan. Jika semua masyarakat sudah mulai memakai bahasa ini ketika memandang pemilu, maka hancurlah bangsa ini. Semua orang merasa tak penting dengan pemilu, padahal pemilu menjadi awal integrasi harapan masyarakat dan tanggung jawab pemimpinnya.

Gaya baru kampanye saat ini, menyuruh orang untuk golput, di saat lain, sekelompok orang yang bermunajat dengan kejahatan telah sepakat memenangkan pemilu. Semua orang di dakwahkan tentang golput, padahal orang lain yang berkepentingan merusak bangsa ini, sepakat memilih calonnya. Hati-hati dengan golput. Tidak lagi saatnya kita "merajuk' dengan prilaku bangsa ini. Meskipun kita kecewa, tapi setidaknya, pemilu ini harus menjadi awal bagi kita untuk "tak salah memilih". Bukan memilih yang ber-uang, serta berjanji palsu. Tapi memilih orang-orang yang beriman. Ketakutannya kepada Tuhannya jauh lebih besar dari ketakutannya menjadi melarat. Ketakutannya ingkar janji lebih besar dari ketakutannya pada kemiskinan.

Pilihlah calon-calon yang tak pernah menggadaikan kebaikan dengan uang. Tapi mengajak bekerja bersama membangun bangsa. Siapapun itu, yang penting jangan golput. Ini dakwah sesat yang harus di tinggalkan. Kalau tidak kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Marilah mulai mengenal siapa yang akan dipilih, kenali identitas diri dan komitmennya membangun bangsa dan agama. Sehingga bangsa ini akan menjadi bermartabat kembali.

Saran Buat Masyarakat

Bagi masyarakat luas. Marilah berhenti pragmatis melihat para calon legislatif yang akan dipilih. Pemilu ini bukan hanya sebatas siapa yang dipilih dan apa yang di beri. Tapi pemilu ini jauh lebih penting untuk memperbaiki bangsa ini. Kepedulian kita memperbaiki bangsa ini harus terealisasi dengan baik. Meskipun kemapanan yang kita idamkan tidak seperti mudahnya membalikkan telapak tangan. Namun dengan benar memilih, tidak golput maka setidaknya kita sudah ikhtiyar membangun bangsa ini dengan ikut memilih.

Kita sebagai masyarakat yang berketuhanan. Jangan sampai kita diperbudak lewat uang dan suasana materialisme belaka. Inilah yang membuat kita buta melihat kebenaran. Keimanan kita akan di uji lewat pemilu ini. Jangan biarkan bangsa ini berjalan di kesalahan dan kegagalan yang sama. Berhentilah memilih yang membayar. Mulailah merasa penting melihat kontrak politik dan komitmen membangun bangsa dan peradaban para calon yang akan di pilih. Semoga bangsa ini lebih baik kedepannya. (analisadaily.com)