Melempem, Saham Sektor Penerbangan

KURANG PEMINAT IPO GARUDA?

Jumat, 21/02/2014

Jakarta – Tingginya minat perusahaan penerbangan untuk menawarkan saham perdana di pasar modal melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), disambut baik para pelaku pasar karena melalui industri pasar modal menjadi sarana tepat untuk memperoleh modal yang cukup tinggi untuk ekspansi perusahaan. Hanya sayangnya, prospek ke depan saham sektor jasa penerbangan belum memberikan keuntungan yang menjanjikan. Lihat saja kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang justru mencatatkan laba bersih 2013 hanya US$ 11,03 juta, anjlok tajam hingga 89,9% dibandingkan laba bersih 2012 yang mencapai US$ 110,59 juta.

NERACA

Kepala Riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan mengatakan, perusahaan yang akan IPO dari sektor penerbangan masih kalah dari sektor perbankan, ritel dan konsumer yang memang sudah jelas kinerja dan pembagian dividennya, serta tidak terlalu terpengaruk fluktuatifnya rupiah, suku bunga dan harga migas dunia.

”Jasa penerbangan kita tidak ada yang "wah", jadi tidak akan terlalu diminati banyak investor. Contoh Garuda Indonesia yang merupakan BUMN sektor penerbangan, hingga saat ini justru membukukan penurunan laba yang cukup drastis, utangnya juga meningkat,”ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (20/2).

Dia menambahkan, Garuda Indonesia juga tidak memiliki fundamental dan pasar yang cukup bagus. Sehingga, dengan adanya emiten-emiten baru dari sektor penerbangan hanya akan menyemarakan pasar semata, namun tidak begitu menarik.

Menurut dia, saat ini yang ditunggu-tunggu pasar adalah IPO Blue Bird, karena merupakan pionir dalam jasa transportasi darat. Sementara jika di lihat kinerja dan saham emiten taksi lain, telah cukup bagus dan konsisten dalam membagikan dividen dan pertumbuhan laba. Meskipun begitu, sebagai BUMN, Garuda dinilai cukup bagus setelah IPO untuk menunjukan Good Corporate Governance (GCG) dan keterbukaannya dalam laporan keuangan. “Dulu kan banyak pegawai pemerintahan yang nunggak pembayaran jika melakukan perjalan dinas dengan Garuda, tetapi sekarang sudah tidak bisa seperti itu,”ungkapnya.

Dia menyebutkan beberapa poin penting yang harus diperhatikan investor dalam memilih saham emiten termasuk penerbangan, seperti bagaimana valuasi saham yang ditawarkan, perhatikan pertumbuhan laba, kebijakan pembagian dividennya akan seperti apa.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universal Broker Satrio Utomo. Dia mengatakan, emiten penerbangan yang tercatat di bursa efek baru sebatas PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Respon untuk sahamnya pun terbilang masih rendah, dan kinerja keuangan yang dirilis emiten penerbangan pelat merah ini pun tercatat negatif. “Dilihat dari pergerakan saham Garuda, tampaknya masih kurang bisa dinikmati, dan kinerjanya juga tidak terlalu bagus.” katanya.

Menurut Satrio, industri transportasi dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar dan harga bahan bakarnya. “Selama harga minyak dunia cenderung masih tinggi dan rupiahnya melemah, kinerjanya masih akan bermasalah.” ujarnya.

Lepas dari hal tersebut, Satrio menilai, penawaran saham di tahun ini akan menjadi lebih menarik. Perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga cukup baik. “Harga masih naik, sehingga overall masih bagus. Meski regional sedang konsolidasi.” jelasnya.

Memang, kata dia, ada sedikit kekhawatiran di negara berkembang. Namun, selama Indonesia tidak mencatatkan defisit pada transaksi berjalan, investor masih akan confident untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Ada Peluang

Sebaliknya pengamat ekonomi PT Samuel Sekuritas, Yusuf Nugraha menilai prospek bisnis penerbangan masih punya peluang positif. Mengingat pemerintah baru saja membuka 12 bandara baru di Indonesia. Belum lagi masih ramainya minat berwisata ke daerah-daerah baik wisawatan asing maupun lokal,”Kondisi ekonomi makro yang memang sedang tidak sehat baik dari sisi rupiah dan volatile harga minyak memang bisa membuat sentimen negatif pada pelaku pasar modal. Maka wajar sepanjang tahun 2013 kemarin hampir semua perusahaan penerbangan sahanya tidak berprestasi. Tapi bukan berarti prospeknya pada tahun 2014 ini akan buruk,” ujarnya.

Lanjut Yusuf, pada dasarnya fundamental usaha penerbangan tidak akan turun selagi masyarakat masih menggunankan moda transportasi ini sebagai penunjang kepentingannya. “Pesawar-pesawat itu tidak mungkin ditinggalkan oleh konsumen terutama para pelaku bisnis. Jadi saya kira bisnis jenis ini tidak akan ada surutnya kecuali ada teknologi lain yang lebih canggih sebagai alat transportasi masyarakat.”tuturnya.

Meski begitu, Yusuf mengingatkan perusahaan penerbanangan tetap harus memperhatikan kualitas pesawat dan pelayanan. Pasalnya hal-hal tersebut sangat menentukan kinerja bisnis. Sebab dalam bisnis pererbangan sangat keras persaingan pada sisi pelayanannya selain masalah harga.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irvani menilai, jika maskapai penerbangan swasta melantai di pasar modal, akan lebih memiliki peluang untuk mengembangkan perusahaannya dibandingkan garuda. Hal ini dikarenakan, maskapai swasta tidak terbebani oleh porsi untuk pemerintah.“Saya rasa untuk swasta prospeknya lebih bagus dari Garuda, karena tidak terkendala portofolio untuk fasilitas dinas pemerintah”, katanya.

Selain itu, dia menilai Lion Air justru yang paling memiliki peluang besar dalam IPO. Pasalnya, lanjut dia, Lion Air tengah berbenah diri besar-besaran guna menarik banyak penumpang. “Sehingga, maskapai swasta akan lebih memiliki peluang”, ujarnya.

Dia juga menyebutkan, salah satu penyebab anjloknya saham Garuda adalah harga perdananya yang terlalu tinggi, sehingga di hari berikutnya sahamnya justru mengalami pelemahan. “Garuda merupakan satu-satunya BUMN yang setelah IPO justru mengalami saham anjlok”, paparnya.

Terkait rencana IPO maskapai penerbangan swasta, dia menyarankan bagi investor jangka panjang untuk memperhatikan kapitalisasi dan prospek ke depannya. Sedangkan bagi investor jangka pendek yang mengutamakan trading harian, dia menyarankan untuk memperhatikan likuiditas sahamnya.

Sebagai informasi, tahun ini ada beberapa rencana perusahaan penerbangan yang bakal listing di pasar modal, diantaranya Citilink anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk, Lion Air, AirAsia dan terakhir rencana Susi Air untuk melantai di bursa saham Indonesia pada 2015. Maskapai yang awalnya didirikan untuk mengangkut ikan tersebut sudah berkembang menjadi operator penerbangan perintis. lia/nurul/lulus/bani