Saatnya Mengkoleksi Saham Sektor Konsumer

Jumat, 21/02/2014

NERACA

Jakarta- Meski diprediksi mengalami perlambatan, sektor konsumer pada tahun ini dinilai masih menjadi sektor industri yang menarik dan cukup seksi. Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia dan kompensasi kenaikan harga bahan baku kepada harga jual konsumen diprediksi dapat mengimbangi kinerja beberapa emiten. “Sektor konsumer masih cukup baik, walaupun terjadi penurunan daya beli pada sebagian konsumen.” kata analis saham Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, kemarin.

Penurunan tersebut, menurut dia, dapat diimbangi dengan meningkatnya pendapatan kelas menengah yang saat ini tengah mengalami pertumbuhan. Lembaga riset AC Nielsen memproyeksikan, pertumbuhan masyarakat kelas menengah Indonesia dalam kurun 2012-2020 diperkirakan mencapai 174%.

Selain pertumbuhan kelas menengah di Indonesia, penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu) juga dinilai akan memberikan dampak positif terhadap consumer spending seiring dengan meningkatnya perputaran uang pada momen tersebut. Diperkirakan, konsumsi masyarakat akan cenderung meningkat pada kuartal pertama tahun pemilu, dengan peningkatan permintaan sekitar 0,2-0,3%.

Sepanjang setahun terakhir, sektor konsumer pun mencatatkan peningkatan yang tertinggi sebesar 18,82%, properti 5,16%, manufaktur 3,39%, infrastruktur 3,02%, keuangan 1,22%. Sedangkan, sektor yang tertekan paling besar yakni sektor pertambangan sebesar 27,77%, dan perkebunan 1,20%.

Untuk sektor konsumer ini, beberapa pelaku pasar cukup optimis dengan kinerja emiten seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Pasalnya, beberapa emiten tersebut menciptakan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat sehingga mengalami peningkatkan pada kinerja keuangannya."Produk mereka kan selalu digunakan masyarakat dan para investor juga terlihat mengalihkan investasinya sektor konsumer (beberapa waktu lalu)," kata Praktisi Pasar Modal, Jimmy Dimas Wahyu.

Meski demikian, pelaku pasar diimbau untuk lebih cermat mengambil keputusan berinvestasi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar berdampak pada kenaikan harga bahan baku sejumlah emiten, utamanya yang diperoleh dari impor. Dengan begitu, hal tersebut dapat memangkas marjin emiten.

Selain sektor konsumer, sektor perkebunan, terutama minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) juga diprediksi masih prospektif karena penghasilan yang diterima dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD). Diperkirakan, harga CPO masih berpotensi menguat ke level 2.900-3.000 ringgit per ton.

Sementara itu, pada perdagangan Kamis (20/2), IHSG mampu naik 0,1% ke 4.598. Volume perdagangan mencapai 6,3 miliar saham senilai Rp7,3 triliun. Sebanyak 111 saham menguat, 183 saham melemah dan 72 saham mengalami stagnan. (lia)